—aku yang dijaga jaraknya.
aku tahu ia masih di sana — di balik diam yang tak pernah sepenuhnya menjauh. ada sesuatu dalam caranya tidak mendekat yang terasa lebih tulus daripada pelukan siapa pun. seolah ia memilih menjadi jarak agar aku tetap utuh, agar aku bisa berjalan tanpa harus menggenggam tangannya lagi.
kadang aku ingin memanggil, hanya untuk memastikan ia masih mendengarku. tapi setiap kali udara membawa bisikan namanya, aku sadar: panggilan itu tidak perlu dijawab. keheningan di antara kami sudah menjadi bahasa yang cukup.
aku mengingatnya bukan dengan rindu, tapi dengan tenang — seperti seseorang yang menatap laut dan tahu, ia tak bisa menyeberanginya, namun tetap bersyukur pernah berdiri di tepinya.
ia tak pergi, hanya berhenti di ambang. dan dari ambang itu, ia menjaga segalanya agar tidak runtuh: aku, kenangan, bahkan kepergiannya sendiri.
mungkin ini yang disebut cinta yang matang — yang tak memaksa untuk dimiliki, hanya ingin memastikan tak ada yang hancur karena terlalu dekat.





















