Sulit memang ketika kita ditimpa oleh beban rasa ntah itu datang secara tiba-tiba atau sudah lama. keyakinan yang kuat bahwa setiap orang apabila dihadapkan dengan sebuah rasa dia slalu bilang "ntahlah" . Semacam pengelakan dari sebuah pertanyaan. Begitupun dengan makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk ini. Ruang kosong yang slama ini diisi oleh rawa-rawa dan debu perlahan mulai ada penghuni.
Namun tak seperti hati-hati yang lain yang dihuni oleh sebuah janji janji palsu dan pengharapan. Yang setiap harinya mengaku selalu bahagia namun akhirnya ditinggalkan.
Karna hati ini dihuni oleh sesuatu yg tak mungkin mengecewakan apalagi meninggalkan, justru sesuatu ini selalu menjaga dan ada bersama dalam sedih walaupun senang. Namun diri ini kadang bodoh, lupa atas semua pemberiannya.
Itu makanya kita harus pintar membaca rasa. Harus bisa memilih mana rasa yg menyakitkan dan mana rasa yang penuh nikmat.
Terkadang kita perlu membuang jauh kebodohan akan sebuah rasa yang fana , yakni rasa suka , cinta, sayang pada makhluk yang tak bisa menjaganya. Karna rasa yang paling cepat terbalaskan adalah rasa dari sang pencipta. Sang pemilik rasa.