Hai kamu; pangeran kelabu yang dahulu kerindu. Entah pada denting malam yang dingin, ataupun senja yang tak pernah mengijinkanku alpa.
Ada hari aku bertanya, "apa kamu berkenan menerima anak bawang ini?"
Ada waktu aku berbinar dan menengah disepertiga, "bisakah kamu dan aku menjadi kita?"
Hingga tapak kakimu berpijak kembali di dermaga yang sama. Namun rupanya segala tanya telah jadi embun yang menetes ke lautan lepas.
Segala rasa yang pernah ada, menguap ke awan di atas sana. Melindungimu dari terik mentari setiap harinya.
Apa kabar disana, Ka? Senang rasanya kamu bahagia. Meski tak pernah menjadi kita. Ada doa lain yang terselip tanpa kata, "semoga kamu bahagia, semoga kita bisa bahagia, semoga suatu hari bisa saling menyapa."
Terimakasih telah membuatku sekuat ini. Mengajarkanku arti kesendirian yang panjang dan bermakna. Membuatku menerima, bahwa yang terlihat paling sempurna belum tentu menjadi yang paling tepat bagi masing-masing dari kita.
Doakan aku sebahagia kamu. Semoga waktu menuntun temu.
_____
Yogyakarta, 23 Juli 2026 | @parviscandelis













