Benarkah Hujan Membawa Degub yang sama Lagi?
Sedikit tergelitik dengan pertanyaan ini.
Ratusan hari yang lalu, aku adalah pengagum mentari yang setia. Mengamati seluruh terbit dan tenggelamnya. Mengecup sepenuh terik dan redupnya. Menikmati sepoi angin di bawah pohon mangga. Menatap netra tajam yang bersemayam dalam lantunan bayangan.
Mungkin, laman ini adalah seluruh diary. Sekumpulan cerita perihal degub kala sepertigamalam-Nya. Ribuan bait rindu, sayang dan harapan yang melangit tinggi. Setinggi kehampaan dan ketidakmungkinan yang selalu membayangi.
Kala itu, kamu selalu menjadi orang asing yang aku rindukan sepenuh hati. Selalu menjadi alasan dibalik kekuatan langkah kaki. Menjadi guru, panutan, perwujudan harapan serta seluruh pemilik bait doa, kata, serta cerita pendek yang pernah ada.
Aku selalu berharap ada hari untuk menatap netra hitammu. Ada hari untuk menyisir alis ulat bulu itu. Ada waktu sekadar berkata, ini aku yang merindukanmu ketika kamu melantunkan doa dan bait puisi untuknya. Dan ini aku yang selalu bermimpi mampu berkata, terimakasih sudah menjadi penguat di kala lelah, alasan untuk berjuang dan alasan menjadi aku yang sekarang.
Kamu selalu luar biasa. Kamu selalu menjadi mentari yang terang.
Meski sepenuh kalimat ini hanya berisi tentang impian. Meski hingga detik akhir kamu kembali, tak pernah ada kita dalam satu hembusan nafasmu.
Aku tahu dengan baik. Aku selalu mendoakan yang terbaik.
Akhir kata, semoga ada hari yang membuatku mampu berkata. Hai aku pernah menyimpan rasa sedalam ini, untuk kemudian kuterbangkan sendiri lagi.
Sehat dan bahagia selalu, Ka. 🍒
Yogyakarta, 27 Agustus 2025 | @parviscandelis














