MENCARI ILMU ADALAH HARGA MATI, UNTUK SIAPA PUN KAMU
Ku lihat fisiknya yang sudah tidak lagi muda, kulitnya yang terlihat sudah mulai keriput, kumisnya sudah memutih, rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban dan tubuhnya yang sudah mulai menua.
Tiap pagi hari sepedah buntutnya yang selalu setia menemaninya mengantar selembar kertas informasi dunia ke setiap penjuru rumah, lorong demi lorong dia telusuri. Dia kayuh kendaraannya dengan penuh semangat. Pelan-pelan dia susuri setiap jalan. Memang nafasnya sudah terlihat sengongosan meskipun masih banyak langganan yang harus diantar namun, maklumlah tubuhnya sudah tidak semuda dulu.
Aku melihatnya di lorong pemukiman pada saat dia mengantarkan langganannya. Ingin ku memberhentikan laju sepedahnya namun dia telah pergi jauh. Ku biarkan dia berlalu begitu saja.
Selang beberapa bulan ku jumpai sosoknya di Alun-alun kota Gresik. Terbesit untuk memberhentikan laju sepedanya namun, belum teralisasi juga.
Ketika melihatnya dalam pikiranku cuma teringat bagaimana aku dulu pernah menjadi seperti itu. Membantu ayah mengantarkan koran dari rumah ke rumah. Ku lemparkan koran dari luar pagar. Masih jelas teringat dalam ingatan, dengan sepedah buntut yang ku kayuh, aku ingin meringankan pekerjaan ayah. Sambil ku kayuh sambil ku bernyanyi menyusuri jalan. Hal itu ku lakukan agar rasa lelah itu tidak berasa. Hampir ku lakukan ketika libur sekolah. Karena jujur aku tidak tega melihat ayah mengayuh mengantarkan koran ke masing-masing langganannya yang jaraknya juga lumayan jauh.
Minggu pagi itu, ku jumpai dirinya melajukan sepedahnya dengan pelan. Terlihat masih banyak koran yang dia bawa, tanda masih banyak koran yang harus diantarkan ke para langganannya. Ku hampiri dia di pinggir jalan. Spontan dia mengerem laju sepedahnya dengan mendadak. Dan antusias mendengarkan apa yang hendak aku bicarakan. Lalu aku mulai pembicaraan “ Pak, mulai tanggal 1 November, kula nyuwun langganan koran nggih.”
Dia jawab “ Oh ya mba’ daleme pundi?”
Ku tunjukkan tempatnya lalu dia sudah tidak sabar dan memintaku untuk berlangganan mulai hari itu dan memintaku menitipi uang muka seadanya.
Terpaksa aku menyetujuinya. Sembari menulis kwitansi pembayaran DP koran, sempat ku berbincang, ingin mengetahui tentang dirinya. Terbesit rasa belas kasihan melihat fisiknya yang sudah terlihat tua. Namun, yang aku tangkap dia menjalani pekerjaannya dengan sepenuh hati, ikhlas, dan senang meskipun aku tahu untung dari pekerjaannya tidak lumayan besar. Mungkin hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan makan.
Baru 2 hari dia mengantarkan koran aku sempat terkejut dengan kedatangan dia yang tiba-tiba meminta melunasi kekurangan koran. Padahal, sebelumnya sudah aku konfirmasi untuk membayar tanggal 1 November. Namun, dia menagih separo saja uang koran yang seharusnya aku bayar dan dia anggap lunas. Tak tega aku melihatnya lalu aku bayar sepenuhnya. Karena kalau aku hanya membayar separo dan dia menganggap itu lunas berarti hitungannya dia tidak mendapatkan untung. 1 pelanggan koran mungkin sebulan hanya untung 20 ribu rupiah. Ya, menurutku tidaklah besar. Terbesit dalam benakku mungkin dia mau membeli makan atau ada kebutuhan yang harus dia bayar namun dia kekurangan uang. Yang tak tega dia datang dengan nafas yang ngos-ngosan dan keringat yang bercucur. Ku lihat dia tidak membawa koran, tanda dia telah selesai mengantarkan koran.
Hari ke 4 aku berlangganan seperti biasa ku lihat koran sudah berada di kursi. Hampir setiap tidak ada kuliah aku pergi ke perpustakaan mengerjakan laporan magangku yang tak kunjung selesai. Ku lihat dirinya juga berada di perpustakaan. Membaca buku dan menyusuri setiap sudut lorong. Masih dengan rompi “Jawa Pos” yang selalu dia pakai sambil bersendekap kedinginan. Karena AC diperpustakaan itu memang dingin. Dari sinilah aku melihat bukti nyata meskipun sudah tua namun mencari ilmu adalah harga mati. Apapu pun pekerjaan kita membaca adalah bagian yang akan membuka jendela dunia.












