Rindu itu rasanya pahit. Sepahit ketika aku tetiba mengingatmu, setelah sekian lama kubumihanguskan.
Kamu ingat? Aku pernah bermimpi mewujudkan sesuatu denganmu kan? Pun pernah bermimpi berlari mengejar mentari bersama, hingga tersandung batu dan akhirnya jatuh dari ranjang. Hahaha. Kamu ingat itu? Lucu ya? Bagiku sih lucu, entahlah bagimu, barangkali namaku saja kau tak ingat, apalagi ceritaku kala itu.. Hmm..
Okelah. Aku tak peduli kau ingat atau tidak. Pun tak peduli kau membaca tulisanku tentangmu yang keseribu ini atau tidak. Ahh entahlah aku hanya ingin menulis tentangmu lagi. Tak tahu kenapa, tetiba saja hembusan angin di malam ini membuatku mendadak rindu. Ya, aku mendadak rindu padamu. Hahaha. Apa jangan-jangan ini intuisi darimu? WKWK :v Duhh maaf maaf. Bukan maksudku mengusikmu. Pun mengusik kekasih sejatimu. Kamu tahulah aku anak baik-baik kan? Jadi tak mungkin merusak rumah tangga orang, hahaha. Tapi kalau rindu, mendadak pula, siapa yang berhak disalahkan? Itu diluar kendaliku kan?
Ahhh ini semacam mimpi buruk yang benar-benar nyata. Kenyataan buruk lebih tepatnya. Siapalah yang mau tertindih rindu? Mendadak pula. Ahh andai mendadak rindunya bukan denganmu, kekasih orang. Eh salah, maksudku “andai kamu masih berhak kurindukan”. Ehh salah lagi ya.. Aihh bagaimanalah.. kupikir cuma cinta yang selalu salah, ternyata rindu juga ya.. Hmm.. lucu sekali..-_- Tapi aku cuma rindu merangkai mimpi denganmu saja sih.. rindu menjadikanmu teman dalam mimpiku. Pun rindu berbagi haru pun pilu denganmu. Menyusuri jalan berkelok berdua, menatap langit, lalu mengejar mentari. Hmm, aku selalu ingat mimpi dimana kau berjanji untuk menemaniku mengejar mentari. Menggapai bintang, untuk anak-anak kecil kesayangan nabi itu. Ahh sayang sekali ya, lagi-lagi itu hanya mimpi, yang tak mungkin sekali terjadi, kecuali aku yang meraihnya sendiri. Sendiri.
Dan konyolnya lagi, saat ini pun aku tahu persis, benalu itu telah menciptakan tembok pemisah nan tebal di antara hidupku dan hidupmu. Benalu? Upss entahlah aku terlalu spontan menyebutnya benalu. Tak bermaksud begitu. Haha. Ahh apa karna aku belum sepenuhnya rela melepasmu? Wow tak tahu diri sekali aku. Kurasa takdir Tuhan sudah teramat jelas, tapi aku lancang sekali tak mau tahu. Ehhh bukan bukan. Bukan tak mau tahu. Bukan pula tak mau merelakan. Hanya saja aku tak sengaja terjebak rindu. Rindu yang membuat air mata yang bermuara dari bekas goresan luka darimu dulu, berderai lagi. Dan lagi-lagi itu membuat sesak di hati. Tapi tenanglah, kau tak bersalah. Ini 100% salahku yang terlalu memanjakan nostalgilaku. Haha. Jadi, kalau kubilang aku belum merelakanmu, apa iya? Sedang selama ini kurasa hidupku sudah baik-baik saja dan bahkan jauh lebih baik setelah kepergianmu. Hmm, semua butuh proses kan? Semua luka di dunia ini selalu punya waktu untuk sembuh. Tak sesegera itu. Pun tak semudah itu. Ya, aku percaya saja bahwa semua luka di muka bumi ini pasti ada penawarnya, yaitu waktu.
Seperti katamu dulu, “Kamu hanya butuh waktu untuk mengobati rasa sakitmu. Setelah itu, kamu akan sembuh dan kembali menyapaku sebagai sosok yang tak lagi menyakitkan. Kamu punya Tuhan, dan Ia akan menguatkan.”
Kamu ingat kata-katamu itu? Ahh lupa ya? Asal kau tahu, kata-katamu itu bagiku adalah racun menyakitkan yang membuat semangatku untuk cepat-cepat melupakanmu kian berkobar. Jadi, makasih ya.. hahaha.
Moga saja, aku segera menyapamu. Melupakan semuanya. Sepuluh tahun lagikah? Hahaha entahlah. :v
Ohiya Tuhan, mohon jadikan ini mendadakan rindu TERAKHIRku ya.. :’)
I Love You, God ! I LovED You, You ! @>--