“Karena barangkali, tantangannya kelak bukan lagi menumbuhkan mimpi sendiri, namun menumbuhkan mimpi bersama, dan sudah pasti memastikan bahwa orang-orang terdekatmu kelak sama-sama bertumbuh” - Mushonnifun Faiz S
Beberapa minggu yang lalu mendapat kabar bahwa seorang ayah dari teman selama di asrama dulu, sekaligus teman semasa kuliah di Eropa meninggal dunia. Sosok ayah yang bagi saya mampu dijadikan role model untuk membangun sebuah keluarga. Bagaimana tidak, ke-10 anaknya menjadi penghafal Al-Quran, walau beliau dan istrinya sendiri tidak menghafal keseluruhan Al-Quran. Padahal beliau dan istri sama-sama sibuk di ranah legislatif pemerintahan, juga segala aktivitas layaknya para aktivis dakwah. Namun di tengah kesibukan tersebut, beliau mampu menghasilkan generasi pecinta Al-Quran. Betapa haru saya membayangkan, mungkin beliau sekarang sedang tersenyum sembari bersiap menerima sepuluh mahkota dari anak-anaknya kelak di yaumul hisab. Bukan satu, bayangkan Sepuluh!
Pun juga banyak role model keluarga lainnya yang ada di Indonesia, juga dunia yang seperti ini. Dari yang sukses di aspek dunia. Ada yang sekeluarga menjadi dokter, memiliki bisnis bersama, mendirikan pesantren, dan lain sebagainya. Namun tak sedikit pula keluarga yang kesuksesannya bisa timpang satu sama lain. Ada yang benar-benar sukses, namun ada pula yang justru jauh dari kata sukses, bahkan masih bergantung ke orang tua dan kakak-kakaknya.
Fenomena ini selalu membuat saya kembali bermuhasabah dan merenung bahwa kelak ketika kita sudah berkeluarga, bukanlagi membicarakan tentang kesuksesan individu. Apalah arti dari sebuah sukses, jika ternyata anak dan cucu masih terlunta-lunta. Apalah arti dari sebuah kepandaian, jika ternyata anak sendiri ternyata tidak lulus sekolah. Apalah arti dari sebuah bisnis yang besar, jika ternyata kelak anak-anaknya tidak ada yang mampu meneruskan, dan justru anak-anaknya menjadi bergantung akan kehadiran sosok ayah dan ibunya saat semisal diberi kepercayaan memegang bisnisnya.
Apakah mudah? Tentu saja barangkali tidak, namun semua sudah tentu bisa diperjuangkan. Dari awal kelak ketika berumah tangga, tantangannya sudah tentu dari iktikad kuat dari diri sendiri, dalam hal ini terutama seorang kepala keluarga, bagaimana ia harus memiliki visi yang kuat untuk mewujudkan keluarga yang diinginkanya. Juga bagaimana ia mampu meyakinkan pasangannya untuk menapaki visi yang telah di buat bersama, dan yang paling penting adalah istiqomah. Yang terakhir ini barangkali tidak mudah.
Pun demikian kelak jika sudah memiliki anak. Dalam buku Bukan Sekedar Ayah Biasa, tulisan Ustadz Misbahul Huda, yang pernah saya baca beberapa tahun silam, bahwa banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anak. Misal, anak dipaksa masuk ke fakultas kedokteran, padahal ia sangat passion di bidang kesenian. Seolah orang tua lupa bahwa setiap anak dilahirkan dengan potensi kecerdasan masing-masing.
Maka bertumbuh bersama, barangkali perlu dimaknai lagi jauh lebih luas. Bahwa jalan menuju surga tidak hanya satu, namun Allah hamparkan begitu banyak, pun demikian jalan untuk bertumbuh bersama-sama tidak semata-mata sekeluarga harus menjadi ini itu. Namun tetap, bahwasanya dari keluarga di atas kita bisa belajar bahwa Al-Quran tetap menjadi landasan utama dalam menapak perjuangan.
Dan barangkali, surga, adalah tujuan tertinggi dari bertumbuh bersama. Seperti perkataan Ustadz Salim A. Fillah yang fenomenal, bahwa Bersamamu, aku tidak mau lagi jatuh cinta. Namun membangun cinta, tinggi hingga menggapai surgaNya. Kalau dipikir-pikir memang benar apa adanya.
Sebab surgaNya terlalu luas, jika hanya ditempati sendirian. Dan menempatinya bersama keluarga besarmu kelak, barangkali adalah puncak dari bertumbuh bersama.
Malang, 24 Ramadhan 1441 H
14.25