Percakapan berikut terdengar samar-samar dari sebuah acara TV nasional, ketika saya sedang bersama Ibu saya mengantre untuk pelayanan teknis di gerai telekomunikasi. Saya sedang membaca buku dan Ibu saya sedang main Candy Crush sambil mengobrol dengan anak kecil yang duduk di sebelahnya. Kurang lebih percakapannya seperti ini,
Pembawa Acara : Katanya kamu baru putus kan sama dia? Kok terus kamu jadi dituntut? Kalian nih ada apa sih sebenarnya?
Oh, acara sampah pada umumnya. Tidak usah digubris.
Bintang Tamu : Iya, kan waktu itu aku ke Surabaya. Terus di sana aku dijemput dan langsung dipaksa naik Alphard.
Oh, iya pasti, dia harus menyebut merk mobilnya itu di TV nasional yang mungkin hanya bisa dinikmati kurang dari 5% penduduk negeri ini, untuk membuktikan betapa beruntungnya dia dan betapa ruginya 95% sisa penduduk yang anonim.
Bintang Tamu : Terus aku dibawa ke kamar hotel dan aku dijatuhin ke kasur, dicekik, terus dia cium-cium aku sambil pegang tete aku.
Akhirnya acara ini berhasil merebut perhatian saya dari buku yang sedang saya baca. Saya menganga sambil mengamati acara tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan yang berlalu-lalang di dalam kepala saya. APA?! DIA NGOMONG APA TADI? INI TV APA, SIH? TV NASIONAL, KAN? ACARA APAAN, SIH!? YA TUHAN, INI DISIARKAN LANGSUNG?
Saya memang sudah lama memilih untuk tidak menonton TV karena isinya sudah tidak karuan. Acaranya seringkali tidak memiliki substansi dan beritanya hanya membuat hati sedih. Tapi pada titik itu saya kehilangan kepercayaan pada TV nasional dengan jumlah yang sangat besar.
Bayangkan, deh, acara seperti itu akan ditonton oleh penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari anak-anak sampai orang tua dan manula. Bayangkan orang-orang di pelosok sana yang masih menerima TV sebagai sarana komunikasi dan bukan sekedar rekreasi. Mereka menganggap televisi sebagai teknologi yang canggih yang sangat terpercaya karena mereka yakin siarannya disaring dengan ketat dan memiliki konten yang selalu mengusung Pancasila dan UUD ’45.
Korban yang paling rentan adalah anak-anak. Mereka menerima itu semua sebagai modal pembentuk sifat dalam diri mereka. Oh Yaa Allah, ngeri banget. Bayangkan akan seperti apa generasi selanjutnya kalau makanan sehari-harinya seperti itu.
Aduh, semoga waktu itu tidak banyak yang menonton yaa. Semoga stasiun TV bisa memperbaiki konten siarannya. Kalau tidak bisa yaa semoga ratingnya jelek dan acaranya dihentikan aja sekalian. Haha. Jadi nyumpahin kan. Tapi yang pasti semoga kita semua sebagai penonton bisa bijak memilah mana tontonan yang sarat nutrisi dan mana yang racun. Apalagi buat anak-anak. Aamiin.