Melepasmu
(28/11/17)
Malam itu dengan teganya aku melepas genggaman tangan yang telah kita jalani selama 31 bulan. Dengan alasan-alasan yang sebenarnya hanya aku jadikan sebagai penguat alasanku yang sesungguhnya yaitu “bosan”. Maafkan aku, aku terlalu egois. Tapi sungguh, aku mengakhiri ini semua hanya karna aku takut kau terluka. Aku selalu saja merespon singkat seakan aku tak pernah pedulikanmu.
Kau tau? Saat itu aku masih sayang, benar-benar sayang. Tapi tetap saja akulah yang harus disalahkan atas semua cerita ini. Jangan tanya berapa tetes air mata yang telah membasahi pipiku:’) Hanya Tuhan, bantal, dan tisu yang menjadi saksi tangisku malam itu.
Tangisku semakin pecah saat membaca jawabanmu atas keputusanku. Kau yang tak terima dan berusaha mencari jalan keluar dari masalah di hubungan kita. Terbayang olehku bagaimana wajahmu saat itu, kepanikanmu apalagi. Namun aku tetap kekeuh dengan keputusanku dan meyakinkanmu bahwa inilah yang terbaik. Setelah itu kau percaya dan menerima, berharap kita akan tetap sama yang beda hanyalah status.
Yang kutahu saat itu aku hanyalah bosan. Masalah lain yang kukatakan padamu hanyalah sebagi penguat keyakinanmu menerima keputusanku. Waktu itu aku ingin merasakan keluar dari zona yang kukira akan lebih membahagiakan, namun ternyata hanya sesaat.
Apapun yang kukatakan padamu selalu saja bisa kau terima, kau tak pernah memarahiku, menyakitiku bahkan meninggalkanku. Maafkan aku yang selalu saja mempersulit hubungan kita saat itu. Aku menyesal, mnyesal telah menyakitimu. Bukan menyesal mengakhiri hubungan kita, karena yang kutahu jodoh takkan pernah salah alamat.
(09/01/2019)
Dan malam ini… Aku membaca chat kita yang belum dan takkan pernah kuhapus. Aku rindu dengan sapaanmu untukku. Kalimat demi kalimat yang kau ucap.. Ucapan selamat pagi dan selamat malam yang tak pernah bosan. Ucapan monthsary di setiap tanggal jadian kita. Bujuk rayumu ketika minta vc dan foto. Ah.. sungguh aku merindukan hal-hal sederhana yang kita lewatkan bersama.
Aku baru menyadari satu hal.. Sikapmu menghadapiku dulu sungguh dewasa:“) Aku egois dan cuek. Kau selalu sabar dan amat sabar menghadapiku.
Aku menyesal… menyesal telah menyakitimu. Dan aku menyesal telah mengingkari janjiku.
Tapi aku bersyukur kini kita masih berteman. Semoga tak ada gengsi untuk menyapa dan membalas sapa. Aku bangga dengan apa-apa yang telah kau raih kini, meski bukan aku lagi yang ada di sampingmu.













