Dia lea, gadis yang dulunya sangat aku banggakan dalam hidupku saat itu. Saat hidupku selalu diselimuti dengan perasaan bahagia mungkin kesedihan saja enggan singgah sembari menyapa. Takut merusak dan tak ingin bersentuhan bagai duri yang ingin menusuk sebuah balon.
Tapi, hal yang kiranya kita harap akan berlangsung selamanya itu bukan sesuatu yang abadi juga. Walau saat kita terhipnotis dengan pintarnya memainkan peran yang bahagia itu. Angin ternyata datang dengan lembutnya secara perlahan membawa balon tersebut ke duri duri kesakitan itu. Lea dan aku tanpa sadar nyaman akan kesejukkan itu.
Andai saja angin itu tak berembus, andai saja. Lea mengatakan padaku saat itu beberapa detik sebelum balon itu mengenai duri...
“Kita bukannya tak bisa menyelamatkan balon tersebut, walau sebenarnya kita tak bisa mengubah arah angin. Tapi, kita yang telah menerbangkannya mengisinya dengan hal tentang kita. Lebih baik balon tersebut pecah daripada dia tak pernah terbang sama sekali, aku takkan tau bagaimana rasa berada diatas sana. Sisa pecahan balon yang jatuh tersebut akan jadi bukti bahwa kita pernah terbang lebih dekat dengan langit disana.”