Awan itu tidak berjalan sendirian, ada angin yang menggandengnya perlahan. Meski angin punya tujuannya sendiri. Meski angin punya gerombolan sendiri. Selalu saja tak keberatan senantiasa menawarkan dekapan pada awan. Mengajak barisan awan dalam rombongannya. Indah sekali interaksi mereka. Sama-sama lembut, saat yang satu memberi dan yang lain menerima.
Siang ini, awan lagi kecang-kencangnya beredar dalam derap angin. Terlihat seperti berlari kecil. Menyusul kawanan awan lain yang sudah lebih dulu beranjak. Sambil perlahan-lahan warna gelap menyelimuti langit. Entah, kelihatannya akan turun hujan.
Di lapisan bawah, angin seperti bersemangat sekali kala ini. Menerobos rerumbunan dedaunan waru sampai beberapa dari daun itu berguguran. Tak ketiggalan, tangkai dan dahan kecil juga ikut disenggol, terlihat dari tempat Budi seakan tangkai dan dahan itu menari jaipong khas orang Jawa Barat.
Iya Budi, Seorang tukang tambal ban yang harusnya dia sudah mulai mengemasi alat-alat tambalnya, karena tempatnya bekerja hanya di tepi jalan. Tanpa ada atap yang melindungi dari hujan. Dia sedang serius sekali mengelus-elus ban becak milik temannya yang tiba-tiba kempes, sambil sesekali menengok perubahan cuaca siang ini.
Belum selesai mengelus ban becak tadi, datang wanita berperawakan sedang membawakan payung untuknya. Sambil menyodorkan payung wanita itu berucap β ini payungnya, jaga-jaga kalau ntar hujan. Segera pulang ya mas. Ada salah satu anggota βMata Hatiβ yang perlu dianter ke klinik.β Terdengar pelan, tapi cukup mengagetkan. β Barusan dia ngeluh, ada yang ngga beres di matanya.β Ucapan terakhir kepada suaminya. Lantas pergi begitu saja.
Pak Budi menimpalinya dengan senyum ringan. lalu membalas singkat β yupssβ, terdengar renyah. Β β Oiya, Tolong belikan bubuk kopi di Bu Parβ kalimat itu mengikuti langkah istrinya bertolak.
Selain membuka jasa tambal ban, kala magrib sampai malam beliau jualan nasi goreng di samping pos satpam depan gang. Ditambah lagi, beliau juga memdapat amanah dari warga untuk mengamankan gang tersebut. Semacam petugas keamanan. Jadi, disamping dagang sekalian jaga gang sampai menjelang pagi. Mungkin, bubuk kopi yang dipesan kepada istrinya tadi buat bekal Pak Budi begadang di pos.
Begitu padat aktivitas harian Pak Budi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga agar kompornya tetap mengepul. Pak Budi dikenal masyarakat sebagai sosok pekerja keras. Meski begitu, Beliau juga aktif di paguyupan βMata Hatiβ yang fokus di ranah sosial dengan mengurus para difabel. Tambahan aktivitas tersebut membuat Pak Budi harus selalu siap sedia mengurus anggota paguyupan yang sewaktu-waktu perlu bantuan. Sampai-sampai untuk masalah kebutuhan sehari-hari jika mereka lagi kekurangan, Pak Budi akan dengan senang hati membantu.
Baik sekali Pak Budi ini. Tidak pernah malu untuk menawarkan pertolongan kepada siapa saja. Lewat apa yang beliau bisa berikan, walaupun sederhana, mungkin akan memberi makna yang luar biasa kepada yang menerima. Kebaikan perangai Pak Budi selaras dengan namanya. Singkat, tapi cukup untuk menggambarkan corak sifat. Berbudi.
Sementara itu, seperti kata pepatah, dibalik suami hebat ada istri yang setia. Istri Pak Budi adalah sosok yang selalu menguatkan langkah beliau, memupuk asa ketika semangat layu, dan membagi alternatif ketika sedang buntu. Di balik kesibukan beliau, selalu saja istrinya menaruh perhatian dengan cara-cara sederhana semisal membawakan keperluan suaminya, menyiapkan bekal, dan menjaga rumah tangga tetap tentram.
Seperti awan dan angin yang selalu bergandeng tangan menyelimuti bumi. Pak Budi dan istri selalu bergandeng tangan menyelami kehidupan. Tidak dalam rangka membandingkan siapa yang lebih super. Tetapi saling memupuk, memberikan dukugan untuk siapa yang lagi membutuhkan. Sama-sama mau mendengarkan. Sama-sama mau memberi kepercayaan. Satu komitmen mengkolabirasikan mimpi, meski kehidupan ekonomi pas-pasan saja.
Begitulah kehidupan Pak Budi yang bersahaja dengan selalu berbagi dengan sesama.