Misykat: Dari Makna Way of Life hingga Hakikat Kebenaran
Bedah buku “Misykat” karya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi oleh Muthmainnah, alumni Fakultas Ilmu Hukum Universitas Indonesia dan mahasiswa pascasarjana studi Globalization and Labor Policies Universitat Kassel Jerman.
Dalam kesempatan bedah buku ini yang diselenggarakan di Berlin pada tanggal 8 April 2017, Dr. Fahmy mengatakan bahwa buku ‘Misykat’ lebih bersifat opini dibandingkan dengan diskursus akademis. Buku ini merupakan suatu bentuk keresahan terhadap fenomena berbagai pemikiran.
Umat Islam sekarang seperti kehilangan identitas. Padahal jika ditinjau secara historis, ketika Islam menjadi dominan dan mengalami kejayaannya, pusat peradaban, seperti Barat Romawi, Timur Asia, dan Mesir, Tigris menjadi bagian dari Islam. Namun, sekarang pusat-pusat peradaban Islam hilang, tradisi mengembangkan ilmu pengetahuan tenggelam. Taqdir Allah yang tidak bisa kita pungkiri bahwasanya sekarang Negara-negara Islam mengalami kemunduran. Pada saat yang sama, Barat mulai bangkit dari abad ke-15. Islam hanya digunakan sebagai sumber saja oleh umatnya. Islam tertinggal dalam hal ilmu pengetahuan. Barat dengan segala pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya menjadi lebih maju. Melakukan kolonialisasi yang tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam dan sumbe daya manusia tetapi juga mempengaruhi diskursus pemikiran di Negara yang dijajah. Umat Islam dalam melakukan dan mengelola pendidikannya, khususnya di Indonesia, melakukan pemisahan atau sekularisasi. Bahwasanya pendidikan Indonesia membedakan antara ilmu pengetahuan yang dianggap umum dan universal dengan ilmu pengetahuan agama. Hal ini membuat Umat Islam terpuruk atau yang disebut dengan ‘lost identity’.
Salah satu cara untuk menjawab persoalan ini, bahwasanya Umat Islam harus memahami apa itu Islam. Islam merupakan Dien Islam yang sempurna yang menjadikan cara pandang Islam sebagai dasar dalam melihat realitas kebenaran. Islam tidak bisa dipisahkan dalam hal melihat Islam hanya dari sisi syariah atau aqidah saja, tetapi harus mencakup semuanya bahwasanya Dien Islam adalah satu kesatuan. Tingkat Islam paling tinggi adalah dengan menjadikan Islam sebagai cara pandang. Pandangan hidup Islam mencakup semua aspek yang merupakan akumulasi keyakinan asasi yang terbentuk dalam pemikiran dan hati setiap muslim yang memberi gambaran tentang wujud di setiap aspek yang mencakup fisik dan non-fisik seperti contoh dalam hal makanan, Muslim tidak hanya melihat bahwa makanan itu baik dan tidak haram tetapi juga mendapatkan makanan tersebut dengan cara yang baik yang mengharuskan mendapatkan rezeki pun harus dengan cara yang halal.
Dalam hal kaitannya dengan cara berpikir dari barat yang hanya menekankan pada realitas dan bukti empirik, dalam buku ini dijelaskan justru jika Umat Islam hanya mengikuti aspek-aspek tersebut, Umat Islam akan kehilangan arahnya. Bahwasanya cara berpikir Umat Islam dengan cara berpikir barat tidaklah sama. Semakin Umat Islam hanya fokus kepada realitas, maka disitulah umat Islam semakin kehilangan identitas. Dalam Islam bahwa yang riil harus benar dan yang benar harus riil, tidak bisa dipisahkan. Jika kebenaran hanya bersifat rasional, maka kebenaran juga akan menjadi sepihak. Konsep ilmu yang objektif tidak bisa ditempuh dengan akal yang subjektif. Salah satunya termasuk pertanyaan tentang wujud Tuhan, bahwasanya ketiadaan bukti bukan berarti sama dengan tidak adanya bukti. Hal tersebut menunjukkan bahwasanya ranah ilmu pengetahuan memiliki limitasi. Oleh karena itu, cara pandang Islam terhadap pengetahuan adalah dengan memulai bahwa kita percaya adanya Tuhan.
Dalam dunia barat, tentunya mereka melakukan sekularisasi. Mengekslusikan moralitas, kepercayaan, dan juga agama dalam mengembangkan Negara-negaranya. Bahwasanya mereka mendikotomikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan perkembangan agama. Bahwasanya setiap kebenaran dibuat menjadi relatif. Oleh karena itu, dewasa ini pertarungan pemikiran telah membawa umat Islam kedalam pemahaman yang abu-abu, bahwasanya al-Haq dibuat semakin pudar. Dengan adanya slogan kebebasan dan berbagai –isme, Umat Islam telah merupakan Islam sebagai pandangan hidup. Umat Islam dibuat terbuai dengan diskursus yang dicipatkan oleh dunia barat dengan berabagai term akademis.
Dalam diskusi ini, beberapa pemikiran yang menarik dikemukakan tentang apa yang dapat dilakukan oleh Umat Islam, khususnya para pemuda. Pemuda memiliki peranan yang signifikan di berbagai aspek. Dalam hal diskursus pemikiran, pemuda Islam harus secara aktif mempelajari pemikiran berbagai ilmuwan Muslim, menggunakan teori-teori tersebut dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan sehar-hari maupun terus memberikan masukan atas relevansi dari ilmu tersebut. Banyak ilmuwan yang pemikirannya terus hidup dan relevan karena terus dikaji oleh para pengikutnya. Oleh karena itu, Umat Islam juga harus membiasakan tidak hanya fokus semata pada teori-teori yang sudah sangat mainstream diterapkan di dunia pendidikan. Kedua, Umat Islam, juga harus mulai menginisiasi institusi pendidikan yang tidak memisahkan pengetahuan dari Islam dengan cara menjadikan Islam sebagai pijakan berpikir atau menjadi kerangka dasar dalam menentukan apa yang disepakati sebagai ilmu pengetahuan. Terakhir, Umat Islam, harus memiliki kompetensi dan rajin mempelajari berbagai pemikiran untuk dilihat relevansinya dengan Islam sebagai Dinul Islam.
Lantas, apa yang akan kamu kontribusikan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh Umat Islam?
Berlin, 14 Mei 2017








