Masih Dalam Muamalah Hutang-Piutang
Aku masih hening menatap layar whatsapp yang tidak dibaca oleh penerima tapi sang penerima update story di Instagram. Memang sih ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama memang sengaja ngga dibaca. Kemungkinan kedua, yang bersangkutan punya HP dua. MasyaAllah tabaarakallah! :)
Buat saya pribadi, pengalaman memberikan pinjaman memang luar biasa berkesan. Di satu sisi bersyukur karena pada saat itu mampu untuk memberikan pinjaman, kondisi lagi diuji dengan rizki yang berkecukupan saat itu. Di sisi lain, saya jadi bisa sedikit menangkap mengapa orang yang berhutang pada rentenir akan cenderung semakin merana. Karena boleh jadi bunganya luar biasa tinggi (riba gaes), dan sang peminjampun keasyikan pinjam dan lupa ngembalikan, berkilah, dan mundur-mundur terus. Sebagai keluarga yang sebisa mungkin meminimalisir riba (jujur ga pede bilang antiriba, karena toh memang kami masih menyimpan gaji bulanan di bank konvensional, karena emang kebijakan sistem), saya dan suami ngga pernah nerapin sistem riba saat akan pinjam-meminjam. Artinya, kalau pinjem 1 rupiah, ya akan kembali 1 rupiah.
Sebagai pemberi pinjaman, saya dan suami juga berusaha untuk memegang teguh salah satu surat cinta Allah, yang berbunyi:
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280).
Sependek ingatan saya, selama saya meminjamkan uang baik ke kerabat maupun keluarga, saya memang belum pernah nagih, kecuali yang utang kas organisasi dan saya sebagai bendahara harus bertanggungjawab untuk menagih. Selebihnya, saya selalu biarkan peminjam untuk mebayar hutangnya ketika memang ada kelapangan untuk membayar. Hal ini terjadi di sepanjang tahun 2019 hingga akhir tahun 2020. Saya biarkan teman saya untuk mengangsur dengan nominal hutang yang sama tanpa saya tagih sedikitpun. Alhamdulillah yang bersangkutan bertanggungjawab mengembalikan, tepat di saat saya butuh pengeluaran besar-besaran bulan lalu.
Namun, apakah Islam melarang pemberi pinjaman untuk menagih hutang? Jawabannya tentu tidak. Saya juga pernah mendengar sebuah hadist dari riwayat Ahmad
“Barang siapa memberi tenggang waktu pada orang yang berada dalam kesulitan, maka setiap hari sebelum batas waktu pelunasan, dia akan dinilai telah bersedekah. Jika utangnya belum bisa dilunasi lagi, lalu dia masih memberikan tenggang waktu setelah jatuh tempo, maka setiap harinya dia akan dinilai telah bersedekah dua kali lipat nilai piutangnya.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Majah, Ath Thobroniy, Al Hakim, Al Baihaqi. Syekh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 86)
Ya, hadits ini juga sering saya dengar di beberapa kajian online saat ini. Tentu ini jadi penyemangat bagi para pemberi pinjaman agar bisa berlomba-lomba dalam kebaikan, bahwa sekecil apapun kebaikan yang dilakukan, pasti akan disaksikan oleh Allah. Kendati demikian, tidak ada larangan apapun untuk menanyakan maupun menagih hutang, terlebih bila si pemberi pinjaman ternyata membutuhkan, bahkan sedang sangat membutuhkan. Jangan sampai yang terjadi malah perasaan sungkan, nggak enak, akhirnya pinjam orang lain (menambah rantai perhutangan). Naudzubillahi min dzaaliik.
Beberapa waktu lalu sempet nangis (ya Allah maafkan hamba yang masih nangis karena perkara duniawi), sebenernya bukan karena piutang yang masih dimana-mana saja, melainkan diskusi panjang kali lebar dengan suami yang cukup menguras energi. Sampai pada titik, saya dapat menerima sebuah nasihat dari Mbak Shelly (mengutip kata-kata dari suami mbak Shelly menyikapi kondisi hutang-piutang):
“kalau mau minjemin uang ke orang lain, anggap uang tsb nggak bakal balik. Kalau kitanya sanggup uang tsb nggak balik, pinjamkanlah. Kalau nggak sanggup segede itu nggak balik, jangan pinjamkan senominal yang dia minta (kasih seperberapa). Dan kalau sama sekali nggak sanggup uang itu nggak balik, janganlah meminjaminya”
Ya, barangkali tiga kutipan (baik ayat, hadis, maupun perspektif) ini cukup menenangkan dan menjadi hikmah/pelajaran terbaik di 2020, semoga 2021 menjadi pribadi yang lebih asertif. Semampunya, dalam segala hal.
Menghela nafas panjang, sambil masih nyeruput teh Candi Borobudur.
Gunung Anyar Tambak, 16 Desember 2020
@valinakhiarinnisa











