Modulasi.
Temu purnama kemarin, gemeresik sudah lepas raungnya. Meninggalkan tiga sampai enam kecup pada yang sempat tertanam di laci kamar. Lajur-lajur menyaru sebagai yang tertutup. Yang sisakan katup. Yang memang betul-betul temu kuncup.
Lalu pekan kemarin, aku jumpa desus-desus yang rambatnya hinggap pada tekak. Lamat-lamat mereka ketuk pangkal bahu. Lalu melela helai demi helai rambutku. Katanya, rindu. Kata mereka, rindu.
Begini, sejujurnya, baru saja aku sapa suka seukuran setengah ketip— yang ternyata, sungguh, baru setengahnya saja, beribu juta kali lebih dahsyat rasanya yang aku terima. Baru saja aku membuka dan yang kemarin sempat lahirkan lara—mereka datang tanpa disengaja. Datang dengan sopan. Sopan sekali. Sungguh, duhai, aku tak bohong. Mereka mengetuk pintu! Mereka inginkan lagi masuk.
Dan kemarin malam, tepat saat angkasa bertabur gemintang, dengan lantang aku bilang, jangan. Maksudnya, sudahilah tentang berperang bertahun lamanya. Pun biram masih belum temu indahnya malam. Dan jika aku harus menunggu berjuta tahun lagi tuk temu puluhan ribu ketip akan suka tanpa harus berpura aksi, sungguh— aku sudi.
 — Luar Bumi.



















