Di kota kecil yang penuh doa yang diucapkan setengah hati, aku belajar mencintai Tuhan seperti anak kecil belajar berjalan: jatuh, berdarah, lalu pura-pura tidak sakit.
Orang-orang di sekitarku berkata bahwa mencintai Tuhan itu mudah. Cukup shalat lima waktu, cukup sesekali menangis di sepertiga malam, cukup berkata “Alhamdulillah” ketika hidup tidak terlalu buruk. Mereka mengatakannya dengan wajah seperti orang yang belum pernah benar-benar kehilangan sesuatu.
Bahkan dulu aku juga percaya bahwa pengalaman mencintai makhluk adalah cara paling natural untuk sampai kepada-Nya. Sehingga aku mencintai manusia dengan sungguh-sungguh, seperti orang bodoh yang tidak tahu bahwa dunia ini penuh dengan cermin retak.
Aku mencintai partner yang ternyata menyimpan namaku di daftar orang yang bisa dimanfaatkan.
Aku mencintai seseorang yang berkata bahwa hatinya milikku, sambil ia tidur bersama orang lain yang menurutnya lebih.
Aku mencintai keluarga, pekerjaan, mimpi-mimpi kecil tentang masa depan yang tenang.
Dan seperti yang sering terjadi pada orang yang terlalu percaya pada dunia—semuanya hancur dengan cara yang sangat berulang dari zaman ke zaman: perlahan, memalukan, dan penuh alasan.
Lucunya, setiap kali sesuatu hancur, orang-orang menepuk pundakku sambil mengatakan mantra yang sangat religius:
“Tuhan sedang mengujimu.”
Seolah-olah Tuhan adalah guru yang hobi memberi soal susah kepada murid yang hampir putus asa.
Pada suatu masa, aku sudah membenci banyak manusia. Dimataku, mereka pandai berpura-pura. Mereka bisa berdoa dengan khusyuk sambil dengan santai melukai hati. Mereka bisa berkata “insyaAllah” untuk sesuatu yang tidak pernah mereka niatkan.
Aku melihat semuanya dan berpikir:
Jika makhluk-makhluk ini adalah ciptaan terbaik, maka standar “terbaik” pasti sangat rendah.
Tetapi kebencian kepada manusia tidak membuatku lebih dekat kepada Tuhan. Hanya membuat dadaku makin berdebu.
Aku menjadi orang aneh: terlalu religius untuk mencintai dunia, tapi terlalu terluka untuk damai dalam ibadah.
Aku shalat, tapi pikiranku berkelahi.
Aku berdoa, tapi hatiku seperti orang yang mengetuk pintu rumah tanpa penghuni.
Sampai suatu malam yang sangat sepi—sepi seperti kuburan yang sekian abad lupa ditangisi—aku menyadari sesuatu yang memalukan:
Selama ini aku memang tidak benar-benar mencintai Tuhan.
Aku hanya menggunakan-Nya sebagai tempat mengadu setelah dunia menolakku.
Betapa kurang ajarnya aku.
Aku mencintai dunia, memuja mereka seperti berhala kecil, lalu ketika kecewa, aku datang kepada Tuhan dengan wajah penuh luka, berharap Dia memperbaiki semuanya.
Seolah-olah Dia hanyalah dokter jaga bagi hati yang bodoh.
Malam itu aku tertawa kecil. Tertawa yang pahit.
mencari cinta abadi pada makhluk yang bahkan tidak bisa menjamin kesetiaan hatinya sendiri sampai besok pagi.
Dan aku juga salah satu dari mereka.
Ah. Mungkin memang harus begini caranya.
Mungkin aku memang harus jatuh cinta pada banyak hal yang salah: pada wajah, pada pujian, pada rasa dimiliki, pada ilusi bahwa seseorang akan tinggal selamanya.
Lalu setelah semuanya runtuh, barulah aku menemukan satu kebenaran yang sebenarnya sudah diajarkan sejak kecil:
Bahwa tidak ada yang benar-benar milik kita.
Tidak ada yang benar-benar tinggal.