Lebaran Ketupat jatuh pada tanggal 9 Mei kemarin. Lebaran ketupat merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri. Lantas apa sebenarnya yang melatarbelakangi diperingatinya tradisi ini? Yuk kita cari tau!
Lebaran ketupat atau kerap kali disebut dengan Kupatan ini merupakan tradisi turun temurun dan menjadi salah satu bentuk warisan budaya leluhur yang hingga saat ini masih dilestarikan.
Kupatan biasanya dirayakan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Tradisi ini dirayakan di berbagai daerah mulai dari Jawa, Madura, Kalimantan, Sumatera hingga ke daerah Timur Indonesia.
Menurut H. J. de Graaf, dalam bukunya Malay Annal, ketupat adalah simbol perayaan hari raya Islam pada masa Kesultanan Demak awal abad ke-15, yang saat itu dipimpin oleh Raden Patah. Kesultanan Demak membangun kekuatan politiknya sembari menyiarkan agama Islam dengan dukungan Walisongo, salah satu di antaranya adalah Sunan Kalijaga.
Sejarah tradisi kupatan yang ada di pulau jawa pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Kala itu, beliau memperkenalkan dua istilah Bakda, yakni Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran ditandai dengan pelaksanaan sholat Ied hingga tradisi saling kunjung dan bermaaf-maafan (halal bihalal). Sedangkan bakda kupat ditandai dengan pembuatan ketupat oleh masyarakat muslim jawa.
Dilansir dari Nu.or.id, ketupat atau kupat memiliki makna filosofi sebagai "ngaku lepat" atau "mengakui kesalahan". Kupat juga bisa diartikan sebagai "laku papat" atau "empat tindakan" yang diajarkan oleh agama dan diartikan oleh masyarakat Jawa dengan empat istilah yakni lebaran, luberan, leburan, dan laburan.
Makna "lebaran" berarti akhir dan usai, yaitu menandakan telah berakhirnya waktu puasa Ramadhan dan siap menyongsong hari kemenangan. Sedangkan "luberan" bermakna meluber atau melimpah rezekinya, layaknya air yang tumpah dan meluber dari bak air.
Adapun "leburan" berarti habis dan melebur, yaitu momen untuk saling melebur dosa dengan saling memaafkan satu sama lain, dengan kata lain dosa kita dengan sesama dimulai dari nol kembali.
Yang terakhir yaitu "laburan" berasal dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat padat berwarna putih yang juga bisa menjernihkan zat cair, dari ini "laburan" dipahami bahwa hati seorang muslim haruslah kembali jernih nan putih layaknya sebuah kapur.
Mangan kupat nganggo Santen, menawi lepat nyuwun pangapunten (makan ketupat pakai santan, apabila ada kesalahan mohon dimaafkan).













