Oktober ya, bisa dibilang bulan yang berat. Kalau aku tarik lagi ingatan satu bulan yang lalu terlalu lelah untuk di bayangkan. Tetapi akhir nya hanya hamdalah yang terucap.
Bulan oktober diawali dengan pengumpulan proposal skripsi. Saat kuliah bulan September, tidak terasa nyata kalau ternyata sudah memasuki tahun akhir perkuliahan. Tapi hal tersebut terasa nyata ketika tiba tiba ada email pemberitahuan untuk mengumpulkan proposal skripsi. Rasanya seperti terbangun dari mimpi di siang bolong. Kaget panik merasa tidak siap dan segala macam hal perasaan.
Bulan oktober dipenuhi dengan berbagai macam hal. Akan menjadi sebuah cerita yang sangat panjang jika ku tuliskan semua. Tapi ada beberapa hal yang ingin ku highlight, yaitu ujian komprehensif. Atau yang akrab di katakan dengan kompre.
Jika di ibaratkan perjalanan, kompre adalah sebuah tiket untuk pulang. Sedangkan perjalanan pulang itu sendiri adalah skripsi. Dan kuliah adalah ketika kamu pergi. Hahah agak maksa ya tapi yaa emang gitu. Ketika kamu kuliah itu ibarat pergi, diterima di kampus yang kamu impikan itu ibarat tiket pergi. Kamu bisa memilih kampus lain, tiket itu akan hangus bukan? Sama seperti sebuah perjalanan. Tetapi menuntut ilmu merupakan perjalanan panjang. Lebih Lelah dibandingkan naik kereta malam Jakarta – Surabaya.
Tepat pada tanggal 27 Oktober 2020 pukul 13.00 WIB aku ujian kompre.
Tidak ada yang special, mungkin hanya keajaiban yang terjadi karena aku lulus. Beberapa minggu sebelum itu yang ada dipikiranku hanyalah, “lulus kompre ga ya?” “remed kompre ga ya?”. Tapi bagaimanapun juga siap tidak siap harus ujian.
Tiga hari sebelum ujian aku, Intan, Wilda selalu begadang. Belajar bersama. Kami selalu selesai belajar pukul satu atau pukul dua pagi. Awalnya sih kami ragu untuk belajar bersama, karena pengalaman bukannya belajar kami malah mengobrol. Tapi ternyata tiga hari berturut turut kami berhasil belajar. Jika kami tidak belajar bersama, belum tentu aku belajar.
Sebenarnya ada sedikit hal yang ingin ku ceritakan disini. Pertama, aku yakin dengan sangat jika di kalkulasikan kemampuan ku aku tidak yakin aku bisa lulus ujian itu. Meskipun ajaib nya aku lulus, dengan catatan, jika salah satu soal lagi aku tidak akan lulus. Kedua, tidak ingin menunjukan betapa beruntung nya aku. Hanya saja, ini benar benar atas kuasa Allah. Aku tidak akan bisa melalui ini semua jika bukan kehendakNya. Sungguh, benar benar terbesit dipikiranku untuk mencontek. Kau tahu, beberapa hari sebelum ujian beberapa teman ku bertanya apa aku akan mencontek apa gimana. Bodoh nya aku ku jawab dengan percaya diri, IYA, aku menjawab bahwa aku akan mencontek. Well, siapa yang akan dengan percaya diri untuk tidak mencontek jika dilihat betapa sulit nya ujian itu. Sudah ku siapkan beberapa trik untuk mencontek, seperti menempelkan kertas di meja saat ujian, atau menempelkan di tembok belakang laptop. Kalau kaya gitu ada ada aja ide nya yang muncul di pikiran. Ada juga temanku yang lain sudah memasukkan aku ke grupnya. Yaahh grup untuk membantu teman teman mengerjakan ujian. Tapi, ku katakan baik baik dengan dia beberapa saat kemudian bahwa aku keluar dari grup itu. Entah apa yang ada di pikiran ku.
Pada akhir nya aku memutuskan untuk tidak menyontek di hari itu. Rasanya gak berkah aja kalau harus mencontek. Ujian dimulai pukul 13. Sebelum ujian aku sholat Dzuhur. Ada satu doa yang ku ingat sampai hari ini. Saat itu aku berdoa sama Allah, aku bilang, “Ya Allah, aku tau jika ujian itu menguatkan. Tapi ya Allah, hamba ga sanggup jika harus remed. Hamba bener bener ga sanggup untuk remedial.”
Ujian berjalan selama satu jam. Ada tiga atau empat soal yang ku ubah di menit terakhir. Maskipun jawabannya tidak membuatku yakin bahwa itu benar. Tapi entah kenapa saat itu ingin saja untuk ku ganti jawabannya.
Jika ku pikir lagi, awalnya aku tidak yakin bahwa Allah akan membantuku. Rasanya malu, banyak sekali permintaanku sedangkan dosa ku sebesar gunung. Tapi, sombong sekali rasanya jika tidak berdoa. Serba salah memang, tapi aku tau bahwa Allah lebih tau aku di bandingkan aku sendiri.
Alhamdulillah, Oktober sudah berlalu.
Temanggung, 17 November 2020