Pandemi—Rasisme
Photo by Jeremy Alford on Unsplash
Melihat kejadian yang terjadi di dunia, mengkritisi, sampai membela ataupun menjatuhkan pihak. Yah, itulah kita. Hampir 3 bulan di rumah, sejak 16 Maret 2020 kampus mulai diliburkan karena pandemi. Sejak itu juga, informasi bagaikan hujan yang jatuh dari langit, banyak dan penuh. Ada awan yang benar-benar membawa air hujan, ada yang ‘hanya’ sekadar mendung tapi tidak hujan.
Pandemi: Akhir Desember 2019 sudah ada warga China yang terinfeksi virus bernama SARS-CoV-2 itu. Sebenarnya itu tanda bukan sih? Yup, itu tanda. Semua negara harus siap hadapi lawan tak terlihat. Dan Maret-sekarang, Indonesia masih menerapkan physical distancing. Social distancing yang sekarang berusaha menjadi “new normal” penuh pro-kontra. Terlalu banyak informasi, capek dengarnya. Muncullah penyakit baru, Cabin Fever. Perasaan terkekang dan stress. Di luar takut virus, di rumah takut stress.
Konspirasi bermunculan. Ada yang salahkan China, Amerika, bahkan WHO. Jadi yang harus disalahkan siapa? Yang harus dibela siapa?
Rasisme: Amerika Serikat lagi rusuh karena rasisme polisi pada George Floyd. Semua menyuarakan ketidakadilan polisi. Black Lives Matter. Dari demo yang sekadar ngumpul-ngumpul, orasi, sampai vandalisme terjadi. Demo penurunan Trump juga disuarakan. Katanya dia tidak becus dalam penanganan Covid-19 sampai Amerika Serikat jadi No.2 Kasus tertinggi di dunia hingga rasis yang dilakukannya.
Lagi-lagi, siapa yang harus kita salahkan? Amerika, pemerintahnya, atau orang-orang yang demo? Dan siapa yang harus dibela?
Tidak harus menyalahkan siapa, membela siapa. Itu subjektif, tergantung keuntungan. Kan sifat manusia memang suka cari untung. Makanya zaman sekarang kita dituntut untuk pilah informasi bukan cari informasi. Dari kajian masalah-masalah yang terjadi, Ada satu pernyataan sepele tapi jleb:
Sistemnya memang bukan dari Islam
Ketika penyelesaian masalah secara subjektif, jelas ada ketimpangan. Penyelesaian pandemi semakin memusingkan, kasus bertambah, ekonomi yang perlu diperbaiki dengan pakai perspektif satu pihak jelas bermasalah lah. Kasus rasisme yang harus dituntaskan dari akar malah jadi ajang menyalahkan satu sama lain.
Perspektif kita yang perlu diubah, bisa dengan introspeksi dan pemilahan informasi. Kedekatan kita dengan agama juga harus ditambah. Ada satu quotes yang paling kusukai:
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi toleransinya
















