Karomah Sesungguhnya
Gus Baha' seringkali menegaskan pentingnya menerima takdir (yang memang termasuk rukun iman), entah takdir itu dirasa baik ataupun buruk. Sebagaimana akan banyak kebaikan yang hadir dari penerimaan terhadap takdir, kita juga melihat secara nyata bahwa mengingkari takdir menjadi sebab lain kesengsaraan hidup.
Sikap hasad (iri/dengki) misalnya menjadi representasi dari ketidakmampuan dalam memahami dan menerima takdir. Orang yang hasad merasa tidak senang ketika orang lain mendapatkan nikmat, bahkan sampai menginginkan nikmat itu hilang dari orang tersebut. Lalu, ia pun akhirnya tersiksa oleh sikap hasadnya sendiri.
Gus Baha pernah mencontohkan bahwa sekalipun bodoh itu tidaklah baik, tetapi menerima takdir sebagai orang bodoh tetaplah baik.
Salah satu hikmahnya adalah tidak hasad, tidak malu untuk belajar, dan tidak berusaha agar terlihat pintar.
Penerimaan terhadap apa yang mewujud dalam hidup, disertai kesadaran bahwa semua itu adalah kehendak Allah Ta'ala menjadi jalan menuju kemuliaan, sebagaimana ditegaskan Syeikh Yusri Al-Hasani bahwa "keridhaan dengan apa yang sudah ditakdirkan adalah karomah sesungguhnya".
Wallahua'lam














