I Sit In Parks by Kelsea Ballerini

seen from Netherlands
seen from Germany

seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from China

seen from Poland

seen from United States
seen from China
seen from China

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from China

seen from United States
seen from Finland
seen from China
seen from United Kingdom
seen from China

seen from China
I Sit In Parks by Kelsea Ballerini

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Huwag kang mabadtrip ganon lang tlaga ang buhay, move on na lang, chill, laro, tulog... bukas nyan malay mo may darating na bago.
— mula sa kamalayan na hindi mo pansin
Imahinasyon
Gawing tao ang wika, maging ang kultura. Paano nga ba kung ihahalintulad at ituturing sila bilang mga nilalang? Sa tanong na “paano”, paano nga ba?
Si wika at si kultura, panimula, si wika ang nagsimula at nagpalaganap ng ating tinatawag na “salita” na kung saan siya ang naging daan upang magkaintindihan ang bawat magkamamayanan maging ang kabilang bansa, at nang dahil sa paraan ni wika ay nabuo ang salitang “pagkakaisa”. Si kultura, siya naman ang nagbigay ng ligaya, ligaya na mayroon ang bawat isa, na kung saan may kanya kanyang pagkalikha ng iba’t ibang bagay na mayroon sila. Kultura na sa kanila lang, at hinding hindi man makukuha ng iba, iyan si kultura. Si kultura na bumuo ng pahayag na “nakasakanayan ko na”.
Inasahan man o hindi, sila ay nagsama. Si wika at si kultura, ay naging iisa at dito nagkaroon ng “pagiisip”. Pagiisip sa bawat tao na makikilala, pagiisip sa mga bagay bagay na lahat may halaga, pagiisip sa kasiyahan at mga problemang dinanas nilang magkasama. At ito na, lumawak ng lumawak at dumating na ang henerasyon— bagong henerasyon. Nanganak si wika at si kultura ng bagong henerasyon. Matapos ang magagandang pagkakataon dumating na ang henerasyon, ng walang katapusang masamang pagdedesisyon.
Desisyon ng pagbigkas ng masasamang salita, desisyon ng pagnanakaw ng kulturang nakasanayan ng iba, desisyon na hayaang kainin ang kultura ng teknolohiya, desisyon na gawing kultura ang pambabastos sa kapwa at pang huli, desisyon ng pagsira ng kanila mismong sariling wika, paano nga ba? Paano sila humantong sa ganito?
Nauwi sa imahinasyon, imahe ng dating masayang si wika at si kultura habang magkasama at hanggang dito nalang, hindi na alam kung maiibalik pa, imahinasyon na lamang ng nakaraan, ang natitira para sa kanila.
Orang-orang Baik
Salah satu hal yang biasanya menjadi pertanyaan mendebarkan bagiku saat memasuki lingkungan pekerjaan yang baru adalah: Apakah pimpinan, senior dan rekan kerjaku adalah orang yang yang baik?
I mean, secara prinsip, aku percaya semua orang adalah orang yang baik. Baik di sini maksudku secara karakter dan pembawaan, apakah mereka orang yang ramah, apakah mereka orang yang bersedia menyediakan waktu untuk menjawab pertanyaanku tentang hal-hal yang belum kupahami, apakah mereka tipe pemikir solutif saat kami menghadapi suatu masalah, apakah mereka bisa menjadi teman makan siang yang menyenangkan dan sebagainya.
Beberapa tahun berada dalam latar dunia kerja menyadarkanku bahwa dinamika dunia kerja bisa saja menawarkan kamu situasi, orang dan permasalahan yang ada di luar ekspektasi kamu.
Tapi jauh di dalam hatiku, aku selalu berdo’a agar Allah berikan rekan kerja yang baik dan suportif karena tak bisa ditampik, lingkungan kerja yang kondusif bisa meningkatkan produktivitas pribadiku, dan, tentu saja produktivitas semua orang di dalam tim.
Alhamdulillah kelompok semi-kerja pertamaku (baca: kelompok koas) adalah kelompok yang rajin dan saling mendukung satu sama lain. Tim kecil magang penelitianku yang pertama selama empat bulan saat menunggu internsip dipegang oleh dosen yang menjadi mentor akademik maupun penelitian bagiku sampai saat ini. Kelompok internsipku adalah kelompok yang saling menghargai dan menjaga kestabilan kelompok selama satu tahun yang penuh tantangan (kami menghadapi banyak ‘drama’ di RS dan Puskesmas namun kami sama-sama berusaha tetap berada di kapal yang sama; nyaris tidak ada konflik internal).
Dan, meskipun baru dimulai, Allah Maha Baik.. tim penelitianku saat ini terdiri pun terdiri dari mereka yang suportif. Salah satu teman yang selisih usianya cukup dekat denganku, bahkan menjadi teman diskusi dan makan siang yang menyenangkan. Bismillah.. mudah-mudahan ke depannya aku benar-benar bisa belajar banyak di sini.
P.s.: Satu hal yang kupelajari beberapa tahun ini: untuk mendapatkan teman yang baik, pertama-tama kamu harus menjadi teman yang baik. Jadi, selamat berjuang di manapun kamu sekarang :)
I sit in parks, it breaks my heart 'cause I see just how far I am from the things that I want. Dad brought the picnic, mom brought the sunscreen. Two kids are laughing and crying on red swings. We look about the same age, but we don't have same Saturdays. Did I miss it? By now, is it a lucid dream? Is it my fault for chasing things? A body clock doesn't wait for, I did the damn tour. It's what I wanted, what I got. I spun around and then I stopped. And wonder if I missed the mark.
I Sit In Parks by Kelsea Ballerini

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kaya ba talagang pangunahan ng isip ang puso at damdamin?
Laging Talunan
Selesai
Alhamdulillah internsip periodeku telah selesai.
Setelah ini, grup isip akan mulai diisi hening. Setiap orang sibuk melanjutkan hidup masing-masing; meniti jalan berbeda yang entah akan saling bersilang lagi atau tidak. Aku akan kehilangan bahan obrolan dan berhenti memulai percakapan..
Kadang-kadang, kita merasa dekat dengan orang lain karena persamaan kegiatan, atau karena 'terjebak' di tempat yang sama. Saat itu, kita sama-sama memasrahkan diri untuk menjalani hidup dalam ritme yang serupa. Namun, saat keadaan berubah, hanya mereka yang memiliki kesamaan di luar kepasrahan rutinitas tersebut yang akan terus menjadi teman dekat. Cita-cita, mimpi, pandangan hidup, mungkin.
Aku penasaran, apakah salah satu dari mereka akan secara impulsif menghubungiku dan bertanya, "Fifah di mana? Makan siang bareng yuk" saat mereka berada di sekitar tempatku bekerja. Aku penasaran siapa saja yang menganggapku sebagai teman dekat. Sebesar apa kesan yang kutinggalkan dalam benak mereka. Ataukah kedekatan setahun kemarin memang hanya disebabkan teori 'keterjebakan'.
Entahlah.
Yang pasti, aku mendo'akan kebaikan untuk setiap orang yang pernah menjadi bagian dari perjalananku :)
Sepasang Kakek Nenek dan Seorang Kakek
Pagi tadi sepasang kakek dan nenek diantar ke IGD Puskesmas tempat aku jaga malam. Jam 5 pagi mereka berboncengan motor hendak ke pasar, belanja untuk jualan. Saat hendak berbelok, motor mereka ditabrak oleh motor lain yang melaju lurus dengan kecepatan tinggi.
Sang kakek mengalami perdarahan dari hidung dan mulut, sedangkan sang nenek kuduga mengalami dislokasi sendi bahu kanan, tak pelak aku menyarankan rujuk ke RS. Baju batik yang dimasukkan ke dalam celana kain yang dikenakan sang kakek mengingatkanku pada kakekku sendiri; mereka sama-sama berusia di atas 70 tahun. Aku meringis.
Setelah berkomunikasi dengan keluarga, mereka ingin menyertakan pelaku kecelakaan dalam proses rujukan. Datanglah anak sepasang kakek-nenek tadi dengan seorang bapak tua yang kukira keluarga pasangan tersebut. Ternyata bapak tua itu yang menabrak motor pasangan kakek-nenek yang hendak kurujuk.
Aku menghela napas. Usia sang bapak tua sudah 58 tahun, beliau mengendarai motor sendirian dari Cibinong menuju Karawang. Beliau mengaku tidak mengantisipasi kecelakaan tersebut karena jalanan mulanya kosong.. Sebelum mereka berangkat ke RS, kudo'akan ketiganya supaya sehat dan tak ada trauma yang serius.
Perawat yang berjaga bersamaku bercerita, para lansia di sini sering bepergian sendirian. Pernah datang seorang kakek dengan kecelakaan motor saat hendak mengambil uang pensiun. Ya Allah..
Terbayang di usia lanjut; mata mulai rabun, tubuh tak sekuat saat muda, respon tak segesit dahulu; mereka harus menyusuri jalan raya di Jonggol yang menurutku ‘ganas’..
Seselesai jaga malam, aku menyetir mobilku dengan dada agak sesak.. Seorang kakek hendak menyeberang dengan motornya dua meter di depanku; tubuhnya tampak agak tidak seimbang menahan badan motor sambil memberi sign. Aku memelankan laju mobil dan mempersilakan beliau lewat.
Selain kanak-kanak yang 'nekat’ membawa motor (pernah kuceritakan di tulisan sebelumnya), para lansia juga rentan menjadi bagian dari kecelakaan lalu lintas. Mudah-mudahan akses transportasi di daerah pelosok dapat diperbaiki sehingga mereka bisa lebih terlindungi.