Sebuah respon yang diberikan pas aku bilang lupa saja.. sangat berbeda ketika itu orang lain yang bilang lupa.
Dan mereka mengatakan untuk bersikap sewajarnya.
Sewajarnya yang seperti apa?
Seperti orang normal?
Lalu aku apa?
Abnormal? Sebagaimana yang pernah dibilang ke aku.
Dan aku masih sangat ingat, sementara yang bilang sudah pasti lupa.
Lalu, seperti apa orang normal itu?
Padahal, bagaimana diriku pada hari ini adalah bentuk dari apa yang selama ini diberikan kepadaku.
Persetan dengan kata sudah dewasa jika mereka juga begitu terhadapku di saat mereka sudah dewasa.
Lelucon. Hanya jadi bahan lelucon.
Aku merespon dengan hanya diam, diolok-olok.
Aku merespon dengan biasa saja, juga diolok-olok.
Aku merespon dengan amarah, terlalu berlebihan katanya. Dengan catatan, juga diolok-olok.
Segala bentuk responku, hanya jadi bahan olokan tanpa pernah berpikir apakah itu menyakitkanku atau tidak.
Tapi peduli apa tentang rasa sakitku?
Aku adalah lelucon itu sendiri. Hiburan bagi mereka..
Dan di saat-saat seperti ini, aku menyesal kenapa tidak mati saja ketika kecelakaan itu berlangsung.
Karena aku selalu berpikir, mungkin saja puncak dari hiburan mereka adalah melihat aku sudah tak ada.
Maaf, di bulan suci kali ini.. aku berlebihan.
Mungkin benar aku tidak normal sebagaimana orang biasanya.