Breathe
Helaan nafas seseorang, seringkali dianggap sebagai pembawa energi negatif bagi orang yang mendengar atau lawan bicara.
Namun terkadang kita tidak pernah tahu seberapa banyak beban yang telah ditanggung, seberapa berat beban yang dipikul, seberapa banyak perasaan yang tertahan sampai seseorang tersebut menghela nafas?
Bagaimana mungkin dari sebuah helaan nafas kita dapat langsung menilai beban dan masalah yang telah ditanggung orang tersebut?
Tentu saja tidak.
Meski mungkin ketika seseorang mengeluhkan masalah dalam hidupnya sekilas terlihat sama dengan masalah dalam hidup kita, namun sejatinya tingkat ketahanan setiap orang itu berbeda.
Kita tidak akan pernah tahu tingkat ketahanan setiap orang dalam menjalani hidup.
Karena terkadang, yang terlihat kuat justru sangat rapuh di dalam. Yang terlihat rapuh justru sangat kuat hatinya.
Helaan nafas terkadang membantu seseorang untuk mengurangi beban hidupnya, secara tidak langsung.
Itulah kenapa dahulu ketika saya praktik di Rumah Sakit, pasien dengan segala tekanan dan beban hidupnya selalu dianjurkan untuk menarik nafas dalam.
Karena nafas dalam membantu meringankan bebannya. Membuat rileks ketegangan otot dalam tubuhnya, akibat meningkatnya tekanan dalam hidup. Membuatnya lupa (meski sekilas) terhadap setiap masalah dalam hidupnya.
Hingga ketika seseorang menghela nafas, mengeluhkan hidupnya, cobalah untuk mendengarkan dan berusaha memahami dari sudut pandang situasinya.
Dengarkan ia sampai semua beban keluar. Biarkan semua emosinya tertuang sampai tidak ada yang tertahan.
Katakanlah, ‘Semua akan baik-baik saja.’
Meski hal tersebut hanyalah sebuah kalimat, namun hal itu menenangkan baginya.
Dan hal yang terpenting adalah membuatnya menyadari bahwa masih ada orang lain disisinya yang akan mendengarkannya.
Hingga ia tidak lupa untuk tetap bersyukur kepada-Nya.
“when you are comforting someone, rather than comfort them by comparing to your situation or others’, I think it’s better to comfort them about that person’s situation.” – Kim Jonghyun.














