Don't Judge A Book by Its Cover
Hari ini, saya bertemu dengan orang yang benar - benar membuat saya kagum.
Tadi sore, saya dan beberapa teman pergi ke hutan Babakan Siliwangi untuk survey menjelang sebuah misi penanaman pohon di sana. Kami berkeiling ke segala penjuru, mencari pojok - pojok yang mampu ditanami pohon yang akan kami tanam. Kami mengamati mulai dari tanah, kerapatan kanopi, jenis pohon di sekelilingnya, dan lain sebagainya.
Selepas itu, saya dan seorang teman lagi memutuskan untuk tidak langsung pulang. Saya berencana untuk bertanya - tanya seputar kondisi hutan kepada seorang bapak pemilik sanggar seni di sana.Sekalian juga saya minta dukungan dan bantuan terhadap penanaman yang insyaAllah akan kami lakukan kelak.
Pada awalnya, kami bertanya tentang seberapa sering penanaman dilakukan di hutan ini. Beliau bilang, sudah banyak sekali yang melakukan penanaman dalam rangka, katakanlah, penghijauan. Mulai dari LSM, mahasiswa, politisi, dan berbagai ormas. Tapi ada satu hal yang membuat ironis dan menyedihkan. Para penanam tersebut tidak pernah memikirkan hal - hal yang sangat esensial dalam penanamannya. Para politisi, mereka hanya menanam untuk pencitraan saja. Plang dan segala reklami dipasang dalam rangka penanaman, wartawan diundang untuk meramaikan. Tapi, hasilnya sangat mengecewakan. Pohon - pohon yang mereka tanam tidak sampai dua minggu sudah mati, karena begitu ditanam sudah ditinggalkan pemiliknya begitu saja. Tidak pernah disiram, tidak pernah dilihat lagi. Jadilah tanamannya begitu, hahaha.
Begitu pula dengan mahasiswa, koar koar mau melakukan penanaman, tapi tidak pernah diurus lagi pohonnya. Yang ada, para pohon mati kelaparan. Satu hal lagi yang menyedihkan adalah, para penanam ini tidak memikirkan faktor - faktor lain seperti jenis dan usia pohon yang ditanam, kondisi tanah, kerapatan kanopi, dan segala teknis yang dilakukan saat penanaman. Jadilah pohon pohon itu kering kerontang. Yang lebih sedih lagi adalah, mereka itu mahasiswa. Belajar di perguruan tinggi. Punya kata maha di depan siswa. Harusnya udah lebih pintar dong? Tapi kenapa hal - hal seperti ini mereka malah gak bisa memikirkan? Padahal kan mereka pasti punya dosen yang gelarnya sampai profesor. Hah. Gak ngerti deh.
Pa Tomi juga bilang, kalau mau bertanam sebaiknya perhatikan kondisi tanah, lubang yang digali sedalam apa, usia pohon, kondisi pepohonan di sekitarnya, apakah tajuk pohon di sekitarnya menutupi sinar matahari yang masuk atau tidak. Bagaimanapun juga, tumbuhan harus berfotosintesis.
Yang saya tahu, profesi Pa Tomi hanya pengelola sanggar seni, tapi beliau tahu banyak masalah Biologi. Padahal beliau bilang sendiri kalau beliau bukan ahli di bidang itu. Tapi pengetahuan beliau terbilang sangat luas untuk masyarakat umum yang tidak belajar ilmu pasti. Dari sana, kekaguman saya pun muncul.
Lalu, tadi Pa Tomi juga bercerita jenis pohon apa yang sebaiknya ditanami.Lantas beliau menjelaskan bahwa pohon yang paling cocok ditanam adalah pohon nangka. Kenapa? Karena pohon nangka akarnya kokoh dan menyebar kuat di tanah, sehingga struktur tanah akan terjaga dan air tanah akan tetap subur. Selain itu, daun nangka merupakan penghasil oksigen yang baik, mengandung banyak nutrisi yang baik bagi hewan ternak (kebetulan di sana juga ada yang mempunyai ternak domba), buah mudanya bisa dimasak menjadi sayur, buah yang sudah makan enak dimakan. Ditambah lagi, getahnya juga sangat bermanfaat.