Dia, yang Nomor Satu di Dunia!
Dia, tak pernah berhenti membuatku kagum. Senyum lepasnya membuatku merasakan bahwa dunia ini tidak akan terlalu berat untuk pundakmu. Bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar untuk bisa kamu selesaikan. Hanya butuh pundak yang lebih kuat saja.
Dia, selalu membuatku merasa istimewa. Ketika bersamanya, aku merasa seperti aku adalah orang paling beruntung di dunia. Sikap tenangnya ketika mendengarkan semua keluh kesah cerita yang aku hadapi dalam kehidupan sangat aku rindukan. Tentram rasanya. Apalagi ketika kemudian kalimat demi kalimat saran disampaikannya dengan sangat pas. Sangat proporsional. Tidak berlebihan seperti menggurui, atau kekurangan seperti tidak peduli. Dia sangat mengerti.
Dia, seolah tak habis pesona yang dimilikinya. Memikat. Sepanjang waktu berjalan, dia membersamai hidupku walau terkadang aku tidak mengetahuinya. Pernah sekali waktu dia hadiahkan kepadaku, sebuah buku di salah satu hari ulang tahunku. Buku yang tidak biasa; karena isinya adalah semua tulisan yang aku curhatkan dalam tumblr pribadiku. Hanya saja bedanya, disusun dengan baik seperti buku yang sudah layak diterbitkan. Dia memperhatikanku dalam diam, di saat seringkali aku kehilangan perhatianku kepadanya.
Dia, teramat sangat istimewa.
Lima tahun lalu. Langkah kakiku semakin kencang. Aku dan Rian sahabatku, berlari kencang menerobos gang-gang sempit di sudut kota. Rintik air yang turun bersamaan dari langit tak aku pedulikan. Walaupun seringkali nenek di kampung mengingatkanku di waktu kecil, “Fahri, mbok ya jangan main hujan terus, sakit nantii..”. Tidak pernah dalam sejarah kecilku aku mengindahkan larangan nenekku itu, hehe. Namanya juga anak kecil.
Agak berbeda dengan yang seringkali Ibuku bilang, “Fahri, kalau mau main ke luar sekarang, pastikan aman ya..” ucapnya dengan senyum yang tulus.
“Memangnya kenapa, bu?” tanyaku yang masih kecil dan polos itu.
“Iya, soalnya kan ini sudah mendung. Nanti kalau hujan dan kamu kehujanan, air hujannya akan membasahi tubuh kamu dan membuat tubuh kamu akan merasa kedinginan. Kalau kedinginan, nanti kamu bisa sakit. Kalau kamu sakit, kan ibu sedih jadinya” lanjutnya sambil menepuk kepalaku.
Ah, sudahlah aku di rumah saja... pikirku ketika itu. Ibuku memang unik.
Tapi kali ini, bu, izinkan aku untuk melawan hujan. Aku harus berlari kencang. Untuk hujan yang satu ini, aku menyukainya, bu. Air hujannya membiaskan hangat aliran air yang mengalir di pipiku. Mungkin Rian tidak tahu saat ini basah wajahku adalah karena air mata.
Sampai di belokan pertama, ramai orang berkumpulan. Aku terpaksa memelankan langkah, sambil berusaha menerobos kumpulan manusia tersebut. Tak berapa lama aku tiba di sebuah rumah yang sudah tidak asing lagi bagiku. Rumahku. Aku segera masuk dengan tergesa. Sepatuku aku biarkan berantakan di halaman rumah. Waktu kecil ayah seringkali menjewer telingaku dan memaksaku untuk menaruh sepatuku di rak sepatu yang sudah tersedia lengkap di samping pintu rumah. “sudah mahal-mahal dibelikan rak sepatku, mbok ya dipake to nak..”
Lagi-lagi, agak berbeda dengan ibuku. Pernah suatu hari aku diajaknya melihat sebuah video dari laptopnya. Videonya lucu. Sebutlah pasukan sipil wajib militer di Cina, sedang mempersiapkan sebuah upacara kemerdekaan. Pasukan tersebut sedang mempersiapkan karikatur wajah Presidennya dalam bentuk yang sangat besar. Jadi setiap orang memegang satu keping puzzle raksasa yang kalau disusun akan membentuk wajah sang Presiden. Mereka berlatih dengan sangat keras; sampai tibalah waktu upacaranya. Tapi ternyata, ada satu keping puzzle yang hilang karena petugasnya ketiduran di rumah. Dia pikir itu hanya satu kepingan puzzle kecil saja, tapi ternyata keping puzzle yang dia pegang merupakan bagian gigi dari si Presiden. Jadilah karikatur besar Presiden tersebut, tanpa gigi. Lucu sekali.
Lalu setelahnya, ibu mengatakan kepadaku, “Fahri, tuh liat. Kalau tidak tersusun rapi, kan gak enak dilihat ya? Hehe..”
“Iya bu, kasian banget Presidennya.. Gara-gara satu yang gak rapi, jadi jelek karikaturnya.. Haha” ucapku sambil diiringi tawa renyah.
“Naah, jadi besok-besok, sepatunya dirapikan di tempat sepatunya yaa.. Kasian kan rumah kita, kalau jadi terlihat berantakan karena sepatunya di depan juga berantakan..” ucapnya, lagi-lagi sambil menepuk kepalaku. Aku hanya bisa senyum-senyum malu setelahnya.
Tapi kali ini aku sedang tergesa, bu. Maafkan aku membuat rumah kita jadi terlihat berantakan.
Aku segera masuk ke ruang utama. Keluargaku sudah berkumpul disana. Dan disana, berbaring malaikat yang selama 17 tahun membangun syurga dalam kehidupanku. Berbaring bidadari yang selama 17 tahun membersamaiku di hitam-putih dunia. Menuntunku berjalan tertatih di jalan cinta. Berbaring disana, dia, yang teramat sangat istimewa, yang tak pernah berhenti membuatku terkagum, yang seolah tak pernah habis pesonanya. Dia, yang nomor satu di dunia. Terpejam matanya dengan senyum sederhana di bibirnya yang selalu menghangatkan hatiku; tapi kali ini dingin. Dia, yang biasanya terbalut pakaian sederhana dengan jilbab sempurna menutupi seluruh badannya; kali ini hanya berbungkus sebuah kain berwarna kafan berwarna putih.
Sebagaimana anak-anak remaja lainnya yang ditinggalkan pergi oleh ibunya ke syurga; aku menangis. Tapi ada dua penyesalan yang aku rasakan dengan sadar di hari ketika ibu dipanggil ke syurga. Pertama, aku tidak berada di sampingnya ketika dia menghembus nafas terakhirnya. Hari itu dia tiba-tiba mengeluh sakit di dadanya. Tapi aku tidak begitu mempedulikannya karena saat itu aku sedang terburu-buru untuk mengikuti agenda ospek di kampus. Walaupun pagi itu, seperti biasa, dia melepas kepergianku dengan senyum yang menghangatkan; tapi entah kenapa firasatku berbeda. Aku sangat menyesal; menolak firasatku sendiri.
Penyesalanku yang kedua adalah; aku tidak bisa mengabulkan salah satu permintaannya yang hanya ada satu kesempatan untuk mengabulkannya. Ibu meminta kepadaku, tepat ketika aku selesai dari SMA, untuk menjadi Imam shalat jenazahnya. Aku tidak bisa mengabulkan itu, karena aku masih sama seperti masa-masa SMA-ku. Jangankan hafal bacaan-bacaan shalat jenazah; untuk shalat wajib saja aku masih sering bolong-bolong. Mana tega aku membiarkan bidadariku yang mulia itu diimami oleh pemuda penuh dosa seperti aku ini?
Dalam tangis derasku, aku sangat menyesali kebodohanku. Aku bertanya-tanya, kenapa aku menolak firasatku di pagi hari itu? Kenapa aku tidak menuruti ibuku ketika ibu membawa seorang guru ngaji ke rumah? Kenapa aku tidak belajar agama, sehingga aku bisa mengimami shalat jenazah ibu? Kenapa aku tidak ada di sampingnya, ketika dia merasakan sakit luar biasa ketika sakaratul maut?
Sore itu, maghrib. Aku ingat. Agustus 2011. Langit mendung. Diiringi oleh rintik hujan yang berjatuhan; aku menangis dalam penyesalan. Terdiam dalam sesak.
Aku berlari dengan cepat memasuki pintu rumah sakit itu. Segera aku hampiri lift rumah sakit; tapi sangat penuh dengan antrian orang yang juga ingin masuk. Lalu aku memutuskan untuk menaiki tangga. Lantai yang aku tuju tidak terlalu jauh, lantai 5. Aku susuri tangga tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk; cemas, bahagia, haru. Anakku lahir! Anak pertamaku lahir!
Tiba di lantai 5, aku segera mencari kamar nomor 524. Kabarnya istri dan anakku sudah diistirahatkan di kamar tersebut. Dengan segenap tenaga yang tersisa, aku buka pintu kamar 524. Letihku berganti rasa syukur yang luar biasa. Ada dua bidadari yang menantiku dengan senyum yang menghangatkan. Anakku, perempuan!
Entah kenapa aku terbawa perasaan haruku, lalu segera mengumandangkan adzan usai memeluk mereka berdua dengan rasa gembira yang melangit. Aku tahu, terdapat perbedaan pendapat para ulama terkait dengan mengumandangkan adzan ketika bayi lahir. Tapi entah kenapa, aku hanya ingin kalimat-kalimat Allah menjadi pendamping utama anakku ini kelak. Lalu aku melakukan sunnah-sunnah lainnya serta tentu saja memberikan do’a terbaikku untuknya.
Aku tatap langit yang biru cerah. Membayangkan wajah ibu. Tentu dia akan sangat bahagia jika ia bersama kami saat ini. Melihat wajah lucu, buah hati dari anaknya. Melihat anaknya yang dahulu sudah berubah, in syaa Allah, menjadi lebih baik lagi.
And now I finally understand
Your famous line
About the day I'd face in time
'Cause now I've got a child of mine
And even though I was so bad
I've learned so much from you
Now I'm trying to do it too
Love my kid the way you do
if I could turn back time rewind
If I could make it undone
I swear that I would
I would make it up to you
Mum I'm all grown up now
It's a brand new day
I'd like to put a smile on your face every day