Sedih :’)
Tidak seperti pertemuan di oktober lalu, pertemuan kali ini begitu kaku, seperti ada dinding es yang membekukan skat di antara kita, dan tidak ada di antara kita yang menyanggupi untuk mencairkan ego. Pertengahan Oktober-November-Desember-hingga akhir Januari telah banyak merenggut rasa di antara kita. dan akhir Januari kembali mempertemukan kita melalui sisa-sisa rasa.
Di hari H saat pertandingan-mu pada sesi pembukaan, aku bahkan belum tau apakah kamu ikut serta. apakah kamu sudah menyekat jarak menjadikan kita se-kota, bahkan jikapun benar kamu ada di sekitar-ku, aku bertanya-tanya dan sangat ingin tau jawabannya tentang “menanya-nanyai-ku kah kamu?”
jika bukan aku lagi yang kamu beritau prihal kedatangan-mu, lalu sekarang “siapa orang yang kamu beritau itu?”
saat kamu berpikir akan bertemu dengan-ku tanpa sengaja, tapi ternyata kamu tidak melihat-ku “apakah kamu mencari-cari-ku?”
saat kamu sudah melewati beberapa hari di sesi pertandingan-mu tapi belum juga melihat-ku “kecewa-kah hatimu?, adakah rasa ingin bertemu itu kamu rasakan?”
kalau saja kamu ingin tau bagaimana aku, jelas aku menanya-nayaimu, jelas aku mencari-carimu, jelas kecewa hati-ku sebab kini aku bukan lagi menjadi orang yang kamu beri tau tentang keberadaan-mu, dan jelas aku sangat ingin bertemu dengan-mu. Tapi aku meng-urung-kan, sebab kini ada yang harus ku tahan dan ku kendalikan yang adalah -ke-akuan-ku terhadap-mu- dan untuk menahan itu, aku banyak melawan diri-ku sendiri, kamu tau? itu menyakiti-ku. saat aku terlalu ingin tapi memilih tidak, saat kesempatan untuk bertemu begitu mudah tapi memilih untuk tidak. aku sedih-
“apa kabar?”
“baik. kamu?”
“baik. aku disini ikut pertandingan”
“iya aku tau kok hehe”
“iyakah tahu?”
“iya tempe hehe”
saat ketika kamu memutuskan untuk mengirimi-ku pesan dan menanyakan kabarku, lalu kemudian aku membalasnya -baik- percayalah aku sedang tidak baik-baik saja. tapi pesan-mu membuatku membaik. aku tau, aku dan kamu kini berdiri diatas ego, beralas gengsi, tidak mudah untukku juga untukmu menunjukan ingin, menunjukan butuh. mencari-cari jawab dengan pemahaman yang hanya mampu kita artikan melalui gesture atau sebuah kontradiksi perasaan yang menduga-duga karena benar tidak adalagi tautologi yang pasti atas nilai sebuah rasa.
“besok kerja?”
“kenapa?”
“saustiram :)”
“saustiram atau asammanis?”
“asammanislah”
“ya ayolah asammanis”
“janji tu dari dulu”
“haha iya nah ingat kok janjinya”
dari bagian pesan ini, aku tau kamu ingin bertemu. dan saat ketika aku datang di semi final pertandingan-mu, aku harus menyaksikan kamu melawan adikku sendiri.
Aku berjalan melewatimu, dan aku kaku, bulan-bulan panjang nan menyedihkan sudah banyak merenggut kita, aku kini merasakan kembali berdiri dan berada dalam satu tempat yang sama, bersamamu, di waktu yang berbeda, tapi mungkin dengan rasa yang tak lagi sama.
kamu mungkin tidak menang, mungkin bagi-mu kedatangan-ku untuk menyoraki kekalahan-mu, tapi andaikan kamu tau, datang-ku karena aku lebih ingin kamu, “this is my gift for you”
Pertengahan Oktober-November-Desember-hingga akhir Januari telah menjadi bulan-bulan panjang untuk-ku menyimpan lengkung senyum penyempurna rupa-mu, rindu yang dulu lebih mudah untuk ku ungkapkan kini harus berhenti di ujung lidah yang kelu, bertukar kabar yang dulunya menjadi kebutuhan kini berubah menjadi sekedar, datang untuk bertemu dan pergi untuk kembali bertemu kini berubah tuju menjadi datang ya datang, pergi ya pergi, sudah tidak ada temu di sana, andai kita tidak banyak memaksa.
Bulan-bulan terberat semenjak kita mengusai telah membuatku mencipta rupamu lebih mempesona, bahkan temu sebatas layar telpon genggam, pesan berupa teks, chatting, voice note hingga panggilan di ujung telepon genggam hanya seumpama morfin yang meredakan tapi tak mengobati.
hmmmm, dan ini mungkin menjadi bagian tersedih dari cerita kita. saat kamu menghubungi-ku aku tau kamu banyak berusaha, dan saat aku menemuimu, aku banyak memaksa. tapi pada saat demikianlah kita tau rindu itu hadir diantara kita. tapi ka...
Aku tidak bisa merubah nama kita menjadi “teman saja” untuk kemudian kembali bersikap seolah kembali biasa karena aku dan kamu pernah melibatkan perasaan.
Aku juga tidak bisa membalas senyummu dengan “senyuman biasa” karena garis wajah dan lekuk lengkung senyummu akan selalu ber-arti-kan lain untukku.
Kita tidak bisa -berteman saja- aku akan selalu melihatmu dengan cara yang berbeda, karena tidak mudah utuk-ku mengartikan “ini demi kebaikanmu” yang kau ajukan sebagai alasan mengapa kita selesai, kita usai-
maka, ku ajukan kalimat “aku ngga mau membahas ini lagi, dan tolong jangan hubungi aku lagi” sebagai cara terakhir-ku menyayangi-mu, sebagai orang yang selalu ku ingini. Untuk ke-tidakbaik-an kita, semoga waktu memperbaiki :“)
dan di sesi final pertandingan semalam, pada kelebatan raut wajah juga senyum-ku senyum-mu, yang kita curi secara sembunyi-sembunyi telah menjadi salam terakhir sebelum semua menjadi kian samar dari sekedar menjadi tak berkadar. semua yang ku lakukan yang menyakitimu, percayalah juga menyakitiku. aku begini bukan karena sudah tidak sayang, ini justru karena aku sangat menyanyangi-mu. hari ini entah kita masih se-kota atau kamu sudah kembali ke kota-mu, tapi doa-ku mengiringi.
aku kesal, aku sayang adalah definisi rasa yang paling sempurna yang di rasakan manusia kepada manusia, dan merasakan rasa itu kepadamu, aku merasa menjadi aku.
terakhir, berbahagialah sebab tidak bahagiamu juga tidak membahagiakanku. berbahagialah, dengan apapun! Kita berpisah tanpa asammanis, semoga asammanis bisa membuat kita bertemu kembali ya sayang :')










