Caraku Membahasakan Rindu(mu)
Saat ketika keinginan untuk menyapamu begitu kuat, kupikir lagi dan lagi, berkali-kali. Jika aku menghubungi mu dan ku katakan rindu, maka ada dua kemungkinan balasan yang akan aku terima; pertama kau juga mengaku rindu dan aku akan senang dengan balasan itu, dan kedua kau akan merespon sekedarnya, lalu hatiku seketika mengecil sebab digerogoti ke-aku-an-mu.
Menarik garis kemungkinan yang pertama, mungkin saat ketika aku mengirimkan pesan rindu untukmu, kau juga sedang berada pada frekuensi rindu itu. Hingga kemudian kita akan menghabisi berjam-jam untuk saling menunjukkan rasa rindu, menyapa, mendengar, bertemu, dan menikmati garis senyummu walau hanya sebatas layar telepon genggam. Lalu, keesokan harinya semua akan kembali seperti biasa, kembali kaku, sebab rasa canggung kembali menjadi batas antara kita. Sedangkan untukku berkomunikasi denganmu adalah candu, lalu bagaimana jika aku sakau akan sapamu?.
Maka jika rasa rindu adalah sebuah ego dalam diriku, untuk mengendalikannya, bukankah aku tidak harus memberi makan untuk menghidupi ego itu?
Menarik garis kemungkinan yang kedua, maka andai saja kau lupa, ingatlah kalimat ini sebelumnya; "aku perempuan, di dalam darahku ada biru darah gengsi, yang mengalir dari ujung kaki hingga ujung kepala" dan saat memutuskan untuk mengirimimu berita pengakuan rindu, maka saat itu aku sudah tak sanggup menahan rasa rindu itu. Lalu, apakah kau tau, betapa takutnya aku membaca pesan juga gerak-gerik mu sebagai bahasa penolakan? Sedangkan untukku, begitu banyak gengsi yang ku turunkan untuk memberanikan diri menyapamu, ada banyak ego yang harus ku kecilkan untuk menghadapi segala ke-aku-an-mu.
Maka, jika rasa rindu adalah sebuah rentang antara aku dan kamu, untuk menjelaskannya, bukankah, segala rindu tak harus ku legakan dalam sapa ataupun temu?, dan untuk membahasakan cinta tak melulu dengan mengungkapkan 'aku rindu?' maka bukankah setara jika aku mengungkapkan cinta itu dengan membiarkanmu bebas menjadi apa yang kamu mau, lalu membiarkan senyummu berkelebatan diruang tergigil, sebab diammu yang begitu dingin?
Boleh, aku beri tau satu hal? bahwa rindu selalu membuatku membujuk hati untuk lebih sabar setiap pada pukul segini. Dan untuk itu, aku banyak melawan diriku sendiri. Apa kau tau? Betapa itu tidak mudah.
Kini rindu bagai dentuman yang memantulkan namamu di ruang paling tersunyi ber-atas nama aku- тЭдя╕П lalu "hai, apa kabar?" Adalah kalimat terputus asa yang nanti sesekali akan menyapamu.
Kutulis di Sepertiga malam, untuk seluruhmu yang kurindu.