_Radar Neptunus_
Kita memiliki radar satu sama lain untuk saling menemukan. Not just find 'someone', but find a friend too.

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Venezuela
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Argentina

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from T1

seen from Macao SAR China
seen from Germany

seen from United States
seen from Italy

seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Peru
seen from Malaysia
_Radar Neptunus_
Kita memiliki radar satu sama lain untuk saling menemukan. Not just find 'someone', but find a friend too.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pembacaan cerita pendek Hanya Isyarat - Dee Lestari
****
Entah hijau, entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata berwarna hijau, jadi tak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain dengan penerangan buruk. Remang yang malah tidak romantis. Remang yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat ini yang masih buka. Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandingan sepak bola dini hari dari televisi 14inci dan kumandang lagu disko era satu dekade silam serta kelap-kelip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.
Tinggal empat manusia yang tersisa dan dia satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu-satu betina menguapkan feromon di sekumpulan mahluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan. Sementara aku tetap menyandang status ‘kenalan’, mereka sudah menjadi tiga serangkai—sahabat tomporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku tidak merasa rugi. Yang menaik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuanku bertahan.
Satu diantara mereka menghampiri meja bar, meminta lampu warna-warni itu dimatikan. Rupanya mereka tidak lagi tahan. Cuma aku yang tidak terganggu. Kelap-kelip itu menjadikanku semacam latar yang kadang menyerupai manusia kadang bukan. Dan dalam keraguan orang akan merasa lebih baik diam. Kehadiranku jadi tidak perlu dikonfirmasi. Aku butuh lampu-lampu itu.
Satu diantara mereka sampai berteriak senang begitu sekelar dipadamkan. Yang tersisa tinggallah sinar rembulan dan lampu berkekuatan kecil yang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat itu mendadak romantis. Aku tidak suka.
Tanpa sengaja dia menoleh ke arahku. Mereka tidak bisa lagi menghindar. Aku pun tidak bisa lagi menyamar menjadi latar. Sebuah kursi didekatkan ke meja mereka dan dia mempersilahkan aku duduk. Dia yang paling kucari. Tapi tidak dalam jarak seperti ini.
Kursi kami yang berdempetan membuat tempurung lutut kami bersinggungan. Andai ada pintu masuk di situ, akan kuselundupkan setengah bahkan tiga seperempat jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca pikirannya, mematai-matai perasaannya. Cukup seperempat saja jiwaku berjaga di meja itu, untuk tersenyum sopan, tertawa kecil dan merespon ‘oh’ atau ‘oooh’ atas percakapan apapun.
“Kami sedang melakukan satu permainan,” dia menjelaskan. “Bertukar cerita paling sedih,” temannya menambahkan, “yang terpilih jadi juara akan mendapat… ini.” Sebuah botol bir yang masih utuh digeser ke pusat meja.
Cepat kujelaskan bahwa aku tidak minum bir sehingga tidak perlu ikut berlomba. Cepat pula mereka melontarkan ide baru, bahwa bagi yang tidak minum bir akan disediakan hadiah lain, yakni kesempatan untuk memilih siapa pun untuk melakukan apapun dan tidak boleh ditolak. Ide itu disambut baik. Bahkan ide bir sebagai hadiah utama dilengserkan.
Satu demi satu bercerita. Kisah putus cinta, kisah kehilangan teman dan kisah bencana alam. Tiba gilirannya. Dia berkisah tentang cahaya. Dia pernah mati suri dan dalam tidurnya ia melihat padang hijau, lalu cahaya besar. Namun di saat cahaya itu hendak merengkuhnya, ia justru terbangun. Semua orang yang saat itu menungguinya terbaring koma tentu saja bergembira. Tapi ia tidak. Hatinya bahkan patah. Ia menemukan cinta sejati dalam sebuah cahaya entah apa, yang cuma bisa ditemui saat mati suri atau mati betulan. Pertemuan yang teramat mahal. Akhirnya dia memutuskan untuk jadi pertapa di abad modern, menjadi manusia yang mengatasi cinta insani dan berjuang untuk menghikmati cinta ilahi. Demi kembali menemukan cahaya itu, tanpa perlu tunggu koma atau koit.
Ketiga termannya termenung. Sulit berempati pada kisahnya. Aku juga termenung.
“Giliran kamu,” suaranya memecah kesunyian. Kepalanya menoleh ke arahku, matanya menatap mataku. Cepat aku menatap bulan yang lebih mudah dihadapi.
Sejenak aku teringat botol bir yang berembun tadi, aku teringat trotoar tempat kami berjalan dan kakinya yang kubiarkan melangkah beberapa meter di depan, aku teringat siluet punggunya yang menghadap punggung di bar yang kami kunjungi sebelum bertemu dengannya, aku teringat ke mana aku harus kembali setelah malam ini dan ke mana ia pergi nanti.
Mereka semua berpandangan-pandangan, mencari sang juara. Aku menunduk dan memilih tidak ikut serta. Tahunan tidak mengecap alkohol, bir ini menjadi lebih dahsyat dari semua kisah sedih tadi.
Tiba-tiba kudengar mereka bertepuk tangan. Dia bahkan menyalamiku. Kisahku dinobatkan jadi juara dan kini saatnya menentukan hadiah yang kumau. Siapa dan melakukan apa. Mereka begitu bersemangat menunggu titah dari mulutku yang ternyata penuh kejutan. Untuk pertama kalinya aku menjadi bagian dari mereka, sekelompok sahabat temporer yang bertemu di satu tempat asing dan kelak hanya akan berkirim surat elektronik. Namun bukan itu yang kucari. Aku hanya ingin kembali ke tempatku, di belakang sana. Menikmati apa yang kusanggup. Bukan di meja ini, bukan di sebelahnya, bukan bersentuhan dengan kakinya.
Malam itu, sebagai hadiah kisah sedihku tentang cinta sebatas punggung dan punggung ayam di negeri orang, aku memilih dia. Aku menyuruhnya pergi ke bar dan menyalakan sakelar lampu warna-warni tadi. Kemudian aku permisi pergi ke tempat dudukku semula, supaya sekembalinya ia nanti, diriku sudah berubah menjadi latar tak jelas yang tak perlu diajak bicara. Tempat ini kembali remang tidak romantis. Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara, langit, sinar bulan, atau gelembung bir.
Matanya cokelat muda.
Itu sudah lebih dari cukup.
*Dari buku rectoverso
@janisianid • Saya merasa sangat beruntung sekali karena mengetahui bahwa di tanah kelahiran yg saya cintai ada sebuah komunitas luar bisa seperti (@janisianid) • Begitu banyak rasa syukur karna saya bisa ikut menjadi Daily Volunteer dlm kegiatan di Desa Wisata, Kunjir. Walaupun kemarin saya merasa gagal menjadi seorang Volunteer karena saya merasa saya tidak berkonstribusi dlm acara tersebut & sebenarnya saya juga merasa malu memposting foto ini karena alasan tadi. Tetapi rasa malu itu terkalahkan dg rasa cinta saya terhadap Desa Kunjir, Komunitas Janis, juga terhadap orang2 yg Tuhan perkenalkan kpd saya, melalui kegiatan yg di adakan @janisianid di Kunjir • Dari sekian banyak komunitas, organisasi, dan juga kegiatan sosial yg pernah saya ikuti, @janisianid menjadi salah satu juara di hati saya • Janis, juga orang-orang di dalam komunitas ini telah berhasil mengajarkan saya makna hidup yg lebih, makna kebersamaan, keberagaman & perbedaan yg begitu indah, makna bahagia, dan juga makna rasa syukur terhadap apa yg telah الله berikan dlm hidup • Mungkin tulisan saya ini terkesan berlebihan. Tapi saya tidak perduli kesan orang terhadap tulisan saya ini. Karena kesan yg di berikan dalam acara #BeguwayPart.II yg diselenggarankan komunitas @janisianid memang sangat luar biasa. Kesan yg jauh lebih luar biasa dari tulisan ini • Walaupun cara saya menemukan @janisianid ini sangat-sangat sederhana tapi tetap saja saya percaya, bahwa pertemuan singkat kemarin adalah takdir baik yg الله tulis di hidup saya & merupakan konspirasi semesta u/ mengingatkan saya akan rasa syukur karena telah terlahir ke dunia yg indah ini • Saya ingin mengutip kata2 dari salah satu #PenulisHebatIndonesia bahwa: "Alam semesta itu semuanya terkait. Seperti satu lingkaran yg gada putusnya. Semesta ini bukan seperti garis lurus, tapi dia satu lingkaran yg semua didalamnya saling berhubungan. Jadi ga mungkin ada yg namanya sebuah kebetulan". #RectoVerso #DeeLestari • Finally, Terimakasih sekali Tuhan karna telah mengenalkan saya pd @janisianid & #DesaWisataKunjir. Juga Terimakasih sekali @janisianid telah membuat saya #KembaliJatuhCinta kpd tanah kelahiran yg indah ini • PS : jan tanya gue yg mana (di Pantai Pesisir Desa Kunjir, Rajabasa Lampung Selatan)
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?
Dee Lestari, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa seharusnya berarti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa berarti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit.
Dee Lestari

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pernah Dibilang...
Pernah dibilang, "Baca tuh buku-buku yang bagus, biar nambah wawasan. Baca kok novel.
Aku tuh langsung kayak, "What the h... emang kenapa kalo aku baca novel?"
Buat yang udah baca ulasan aku tentang novel Aroma Karsa karya Dee Lestari pasti tau ya kalo after read the book, aku langsung pengin nyari parfum yang aromanya 'aku banget'. Dan ternyata itu ga gampang loh. Sama kayak Tanaya Suma yang dibantu oleh Jati Wesi buat menemukan kekuatannya, aku pun dibantu sama temen-temen aku buat ngenalin diriku sendiri dan dikasih wejangan tentang dunia per-parfume-an. Hahaha.
Setelah proses yang cukup lama, akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada aroma yang sesuai dengan slogan aku ditahun ini yaitu, bring positive vibes to others. Hahaha. Dan aku menemukan Extrait De Perfume Scarlett yang Pistachio Crush.
Kesan pertama pas disemprot tuh langsung kecium aroma cardamom (kapulaga), pistachio dan elemi. Jadi terkesan hangat dan seger, ga langsung kecium aroma yang 'berat'.
Setelah 10 atau 15 menit, kecium aroma coconut, peach. Jadi kesannya tuh lebih cheerful tapi soft.
Nah, setelah beberapa lama kemudian, berubah jadi aroma vanila yang terkesan lembut dan mungkin bikin nyaman. Hahaha.
Nah itu baru salah satu dari efek dari baca Aroma Karsa. Dari novel itu, aku jadi:
Jadi tau aroma perfume apa yang 'aku banget'
Ada pembahasan yang berbobot sama temen-temen, jadi ga ghibah aja, ya, tsay.
Dapet kuliah pendek juga mengenai dunia per-perfum-an. Hahaha.
Jangan lah ngejudge genre bacaan orang. Karena menurutku, baca buku genre apa aja akan tetep nambah wawasan dan ilmu baru buat pembacanya kok. Even kalian cuma baca plang minimarket pun menurutkan akan nambah wawasan. Kalian jadi tau, "oh ternyata di daerah ini ada minimarket", setelah baca plangnya.
Jadi, yuk, biasain ngehargain genre bacaan orang lain.
Dah ah, segitu dulu. Have a nice day!!