Tidak ada yang lebih mencemaskan dari karir seorang penulis--ini lebih dari menahan lapar, honor yang lewat tempo, bahkan masuk penjara--daripada menghasilkan karya yang didikte. Bukan karena ketidakmampuan. Mimpi buruk itu adalah kehilangan kewenangan menulis; dilarang menulis sesuatu yang telah menggerakkan nurani mereka, dari apa yang diyakini secara pribadi. Karena ketika kerja kreatif tak bisa dilakukan secara independen, masa depan karya tidak mujur terbaca, setidaknya yang lahir bukanlah sesuatu yang organik.
Ketika para pekerja seni dituntut tak lebih dari memproduksi produk propaganda, dan penyensoran dilakukan agar sejalan dengan yang dikendaki penguasa, proses kreatif akan membusuk sampai ke akarnya, karena pembatasan adalah kejahatan itu sendiri. Terjawablah, bahwa yang sudi menentang suara hatinya sendiri, yang takut kelaparan karena di jalan kepenulisan ia sadar ia bisa saja sendirian, para penggentar ini sebutlah demikian, adalah yang mengalami kesialan kemudian. Dengan segala keruwetan dan hiruk pikuk di dalamnya, buku novel ini bisa digarisbesarkan seperti pembuka di atas.
Berkaitan dengan realitas Uni Soviet, Bulgakov mulai menulisnya di tahun 1928 semasa rezim Stalin, atas alasan penyensoran ini tidak diterbitkan bahkan sampai penulisnya sendiri wafat. Awalnya rombongan setan di tahun 1930an--Behemoth, Koroviev, Azazello, Hella, dan utamanya Profesor Woland (nama yang kurang lazim di kalangan orang Rusia, digadang-gadang terinspirasi dari salah satu nama setan dalam Faust karya Goethe, disebut-sebut prototipe Stalin sendiri)--yang kunjungannya mendatangkan kekacauan di Moskow. Yang disasar adalah seniman, utamanya elit sastra. Di sisi lain, muncul penceritaan tentang Pontius Pilatus, prokurator Yudea. Sementara Master dan Margarita sendiri adalah sepasang kekasih gelap. Master adalah penulis yang namanya tak disebut sepanjang cerita, seorang penulis terasing (akan terjelaskan di paragraf berikutnya), sementara Margarita adalah kekasih yang menjual jiwanya pada si setan, agar si Master kembali menemui kewarasannya.
Master-Margarita. Setan-Yeshua. Master-Margarita-Setan-dan-Yeshua bersilangan kisahnya satu dengan yang lain.
Si Master ini sempat dirawat di rumah sakit jiwa setelah membuat satu manuskrip yang beririsan dengan agama (kisah penghukuman Yeshua Ha-Nozri oleh Prokurator Yudea). Ia mengirimkannya ke penerbit, walhasil dikritik dan dicemooh habis-habisan di koran-koran oleh kritikus kenamaan. Ini tentu membuatnya patah arang hingga dibakarnyalah manuskrip itu (hal ini dalam kenyataannya juga sempat dilakukan Bulgakov pada manuskrip pertamanya). Lantas apa kedudukan Master? Seseorang baru bisa menjadi penulis--dan diakui bahwa ia penulis dengan identitas, terlebih-lebih disejahterakan--apabila ia tergabung dalam semacam perkumpulan penulis di Soviet tempo dulu. Kenyataan yang disebut Koroviev sebagai sesuatu yang konyol, karena 'penulis tidak ditentukan oleh kartu identitas apa pun, tapi oleh apa yang ia tulis'. Dalam hal ini, terjelaskan posisi si Master, sebagaimana keenganan ia memberitahu namanya.
Sedari bab pertama pembaca telah diberitahu bahwa sekelas penyair sekali pun (nama pena Bezdomny) boleh dikuliahi si editor kondang Berlioz, untuk bagaimana caranya menulis sebuah puisi panjang anti-agama, menempatkan tokoh tertentu sebagai mitos belaka. Bagaimana pun caranya menyangkal keberadaannya. Sekali lagi, penulis diletakkan sebagai pion-pion politik yang dituntut ritme kekaryaannya dengan kebenaran versi penguasa. Isu yang diangkat dalam novel ini juga adalah tentang ateisme. Namun mari fokus pada olok-olok si narator tentang ideologi yang dipegang Uni Soviet kala itu, tentang penyamarataan kelas. Dengan kontrol semacam ini, akibatnya, para penulis malah tidak sibuk pada karyanya, melainkan berfokus pada properti yang bisa mereka miliki dan makanan-makanan yang tersaji di restoran mewah di gedung Massolit. Tokoh-tokoh yang, kamu tahu, menganggap ketidaktahuan sebagai kebahagiaan tertentu, tidak hanya untuk orang lain tapi juga bagi mereka sendiri. Maksudku, bagaimana bisa seseorang masih bisa mengunyah dengan lahap setelah mendengar kematian Berlioz yang tentu, cara kematiannya sama sekali tidak mengundang selera makan?
Kisah ganda mengalir sepanjang pembacaanku selama dua Minggu ini--dari Moskow ke Yudea, dan sebaliknya. Ada kebimbangan mengenai persepsi baik-buruk. Kehadiran rombongan setan yang justru memberikan 'keadilan' (aku agak kesulitan mengikutinya karena nama-nama Rusia amat mirip satu dengan yang lain), sudut pandang Pontius Pilatus yang memerintahkan melindungi namun kemudian membunuh Yudas, kehadiran dua sisi yang menegaskan bahwa baik buruk, benar salah, hitam putih, amatlah kabur batasnya, persis kematian dan kehidupan dalam buku ini dimana saking gampangnya ia seperti kepala yang diputus kemudian disambung lagi! Semuanya adalah persepsi yang gampang berbalik, dibangun dari kepentingan apa ia untuk kita dan dari bangku mana kita menonton semua kejadian itu.
Novel klasik ini padat makna, full of images, ilustrasi sampul dan isi yang sama memikat dengan referensi yang tersedia karena mempermudah bacaan, dan lucu--di beberapa bagian aku terpingkal oleh kekurangajaran Behemoth, si kucing hitam berukuran babi, dan Koroviev, menyoal uang asing di dalam toilet Bosoy ("tapi adakah saksi mata?" Bisiknya). Aku suka buku ini. Terlebih ketika Woland menyampaikan bahwa "manuscript don't burn", memperjelas duduk karya yang, sekali pun ia melawan sensor, sekali pun ditiadakan, ia akan tetap ada di ingatan orang-orang yang mendukungnya.
Instagram : @hellodeehwang | ©deehwang | Tidak diperkenankan mencuri gambar untuk diunggah ulang.