Nasi Gudeg Telor: Definisi Nyata Kebahagiaan Yang Haqiqi
Kata ibu, saya adalah anak Jogja tulen yang konsisten (meskipun saya sering disangka bukan orang Jawa). Pasalnya, kemanapun saya pergi, ketika pulang ke rumah, saya akan selalu rikues Gudeg kepada Ibu sebagai menu makanan yang wajib ada paling tidak satu kali ketika saya berada di rumah. Bagi saya, Gudeg itu makanan yang rasanya komplit. Ada manisnya, ada pedasnya, ada gurihnya, ada legitnya. Jadi, ketika perpaduan itu bercampur dilidah, citarasanya menjadi kaya dan bikin ketagihan. Menu favorit saya adalah Nasi ½ dengan Gudeg, Sambel Goreng Krecek, dan Telor. Boleh dibilang, menu ini merupakan definisi nyata dari kebahagiaan yang haqiqi. Hahaha lebay. Mungkin iya, tapi sebagai anak rantau yang sekali-sekali pulang ke Jogja, Gudeg sungguh-sungguh menjadi salah satu penawar kangen yang mujarab.
Kesukaan saya terhadap Gudeg itu bukan terjadi begitu saja, melainkan karena kebiasaan. Ketika saya masih kecil, Gudeg Basah tidak jarang hadir di meja makan sebagai menu sarapan atau menu makan malam. Perpaduannya pun beragam, terkadang dimakan dengan nasi atau disiramkan di atas bubur putih yang dimasak dengan santan. Sejak kecil, kalau makan Gudeg dengan perpaduan bubur, saya akan minta kepada penjualnya untuk ditambahkan krecek dan kuah pedasnya yang banyak karena bubur santan tidak jarang rasanya eneg. Dengan begitu rasa enegnya jadi tersamarkan dan tentunya menjadi lebih nikmat. Hehehe lagi-lagi ini versi saya. Lambat laun, karena terbiasa makan Gudeg Basah, Gudeg Kering pun menjadi kegemaran.
Salah satu Gudeg Kering favorit saya adalah Gudeg Yu Djum. Cabangnya banyak dan bisa ditemukan dimana-mana. Secara rasa mungkin rasanya sama saja. Akan tetapi saya sendiri lebih memilih membeli Gudeg Yu Djum Pusat yang terletak di Mbarek, Jalan Kaliurang. Entah mengapa sejak pertama kali kesini imej saya tentang Gudeg di tempat ini sangat “Njogja” dan otentik. Mungkin juga karena yang pertama, jadi bumbu-bumbu yang menempel di kerak panci menambah kelezatannya 😂 Perpaduannya cocok di lidah untuk picky eater seperti saya. Ya manisnya, ya pedasnya, ya legitnya, semua terasa sempurna.
Disamping Gudeg Kering, saya juga gemar makan Gudeg Basah. Hanya saja Gudeg Basah tidak begitu mudah dijumpai dijam-jam normal seperti jam antara makan pagi atau makan siang. Kalau tidak di pagi-pagi buta, justru malah dijual pada tengah malam. Karena makan tengah malam bukan pilihan untuk saya, jadi saya lebih memilih menu ini untuk sarapan pagi. Nah, untuk Gudeg yang satu ini favorit saya adalah Gudeg tidak terkenal yang dijajakan di depan Pasar Gentan, Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Di jual mulai jam 6 pagi sampai kira-kira jam 7.30. Sebagai Gudeg Basah rasa gudeg pasar ini nikmat sekali. Kuah arehnya gurih, citarasa gudeg dan sambal gorengnya pas, ayamnya besar, porsinya besar, dan harganya bisa dibilang cukup relatif murah. Mungkin bagi yang mau melengkapi pengalaman “nggudeg” di Jogja dan gak mau mainstream, Gudeg kaki lima di depan Pasar Gentan ini bisa menjadi salah satu alternatif.