Aamantu billaah tsummastaqim
Istiqomah, demikian tertulis dalam Bab 1 oleh Buya Hamka dalam bukunya Pandangan Hidup Muslim.
Kita akan mengembara dalam hidup. Menempuh lautan dan daratan, pasang naik dan pasang surut, menempuh angin sepoi dan puting beliung, kita akan pernah merasa puas dan kecewa, merasa ragu-ragu dan yakin, merasa sedih dan bahagia.
Satu hal yang tidak akan pernah padam - meskipun kadang disaputi awan, ia tidak hilang sama sekali. Hal itu adalah kepercayaan akan adanya Allah. Kepercayaan itulah yang oleh Rasulullah disuruh untuk dipelihara baik-baik, dipegang teguh-teguh, sebab inilah pangkal bertolak dan keputusan dari segala hukum.
Saat itu, datanglah Sufyan bin Abdullah (Abu Amrah) meminta fatwa kepada Nabi Muhammad saw. tentang pendirian di dalam hidup. Abu Amrah meminta diterangkan inti Agama yang jika Rasulullah saw. mengajarkan kepadanya, ia tidak perlu bertanya kepada orang lain lagi.
Rasulullah saw. menjawab, "Qul, Aamantu billaah tsummastaqim."
"Katakanlah, 'Aku percaya kepada Allah lalu pegang teguhlah pendirian itu.'"
Jika di alam cakrawala ada matahari yang tidak pernah padam cahayanya, di alam kecil pada diri kita, kepercayaan itulah mataharinya.
Apa yang menyebabkan hati ditimpa duka, gundah gulana, bermuram durja? Itu semua karena merasa ada yang hilang. Hal yang dicari tidak didapat, yang tidak dicari, itu yang didapat. Yang diingini terlalu jauh, sedangkan yang tidak diingini terlalu dekat.
Hati-hati dengan "salah pasang", tulis Buya.
Meletakkan nilai kepada hal yang tidak bernilai, melupakan nilai yang sebenarnya bernilai. Cobalah pasang dan susun jiwa kembali. Kembali ke dalam Istiqomah, niscaya terbuka kembali hijab, hilang bayang-bayang dari sesuatu yang tidak ada hakikatnya.
#Bab 1 #MerawatIngatan #PandanganHidupMuslim #BuyaHamka
Putat, 13 September 2019


















