Pernyataan Tidak Tertulis
seen from China

seen from Netherlands

seen from Pakistan
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Singapore
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States
seen from United States
Pernyataan Tidak Tertulis

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
artjog (2022)
art memoireaš
Loc: ARTJOG 2015
Keluar sebentar dari rutinitas untuk mendapatkan perspektif dan semangat baru memang perlu sesekali dilakukan.
Berawal dari ajakan iseng temen saya, @fauzylukman dan @renoyuansyah, untuk dateng ke ART|JOG hari Sabtu, saya pun menyanggupi untuk menyusul mereka berangkat ke Jogja dan bertemu disana. Mumpung kuliah hanya hari Senin dan Selasa, dan juga akhir-akhir ini ngerasa hidup kok ngene-ngene ae, gak ada salahnya juga pikir saya.
Setelah sekian edisi, akhirnya saya baru bisa menyempatkan diri sowan ke ART|JOG edisi ke-10, hari Sabtu kemarin. Setelah denger komentar-komentar temen-temen kalo ART|JOG tahun lalu masih lebih bagus dari tahun ini, saya sih gak mau ambil pusing. Tepatnya, saya gak mau expect too much karena takutnya nanti malah kecewa dan malah jadi gak dapet apa-apa disana. Tapi karena saya sendiri gak tau ART|JOG tahun lalu itu kayak gimana, saya tetep excited waktu pertama kali ngeliat karya instalasi yang dipajang di luar gedung Jogjakarta National Museum yang menjadi venue Artjog 10 kali ini.
ART|JOG|10 kali ini mengambil tema āchanging perspectiveā, yang dalam katalognya kalo saya boleh menyimpulkan, ingin menampilkan sejauh mana seni rupa bisa hadir dalam keseharian kita. Berangkat dari hal itu, ART|JOG|10 kali ini ingin mencoba melihat hal itu dari berbagai perspektif dengan menampilkan 125 karya dari 59 seniman dari berbagai kota di Indonesia dan juga luar negeri.
Selain sowan ke ART|JOG|10, saya kemarin juga dapet kesempatan buat sowan ke mini-showcase exhibition dari Wulang Sunu (@wulangsunuĀ / IG: @wulangsunu) dan juga opening toko Kalepines (@kalepines) yang bertajuk āPRELIMSā. Beruntung sekali hari itu bertepatan dengan agenda artist talk, sehingga saya bisa sedikit ngobrol sama si empunya karya. Dia bercerita bahwa karyanya ini berangkat dari tradisi Mataram Kuno yang bernama āRampogan Macanā, yaitu sebuah tradisi yang diadakan di alun-alun kota dengan disaksikan Sultan, Pejabat-pejabat Belanda, Prajurit serta rakyat Ā untuk menyaksikan macan yang akan diadu oleh banteng. Apabila banteng kalah sekalipun, macan akan tetap mati ditangan para prajurit yang memegang tombak dan mengepung macan rama-ramai.
Sangat menyenangkan bagi saya melihat teman-teman semacam Wulang Sunu ini yang mencoba mengangkat cerita-cerita tradisi jaman dahulu menjadi sebuah karya kontemporer melalui eksperimentasi bentuk shadow puppet, video mapping dan juga diorama seperti ini. Karena memang kita sebagai bangsa Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang melimpah, yang menunggu tangan-tangan anak mudanya untuk diolah dengan kebaruan dan kekinian agar tak hanya sebatas menjadi cerita yang lama-kelamaan akan hilang dimakan jaman.
Ah, saya jadi ingat rencana-rencana project tentang nusantara saya yang masih terbengkalai (lagi) sekarang ini. Halah mid, kapan ate mbok eksekusi?
Bandung, 14062017 @dimazfakhr
Menurut saya, kemampuan untuk mendeskripsikan karya melalui sebuah paragraf yang dapat mudah dimengerti oleh audiens yang akhirnya berperan penting dalam proses berkarya dan menikmati sebuah karya.
Kadang kita mikir, āah cuma kayak giniā, ākenapa bentuk kayak gini bisa masuk pameran sih?ā
Namun faktanya, setelah membaca deskripsi yang diberikan oleh sang seniman, kita semua tahu bahwa dibalik karya yang menurut kita ācuma kayak giniā terdapat pemikiran yang mendalam serta konsep yang sangat-sangat matang. Karena tentu hanya orang-orang yang hebat yang bisa memvisualisasikan sebuah fenomena yang rumit menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati setiap orang.
Pic : Salah satu sudut di Lantai 2 Artjog 10, 2017

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Mixed media on mini canvas fort artcare artjog
Yosep Arizal
Yosep Arizal, El Monstruo, 2023.
El Monstruo is a work that comments on physical disability in Indonesian Monarch systems specifically in Yogyakarta, as they are often part of the staff of the Kraton (the Yogyakartan monarchy that still exists to this day. Whilst recognised, is only a local representative governmentally).
Often physically disabled "subjects" are present near the reigning monarchs during public appearances as a way of conveying several cultural things. Such as the belief that their presence will repel bad luck or energy, and as a spiritual/mystic enlightenment as it is believed they are closer to god.
Yosep thinks that the exhibition of these physically disabled people is a plight of power, an attempt to widen the influence of the Kraton whilst simultaneously hiding their flaws.
Arizals criticism of the Javanese monarchi hits a bit too close to home. Growing up in close proximity to the Kraton, as my family is part of it has always made me feel unjustly privileged. The times when I would visit Yogya and get special treatment, are odd. The conversation surrounding the ethics of having people at your disposal is constantly going through my mind. And I, like Yosep wonder why it is even considered acceptable let alone noble to treat other in such dehumanising ways.
Ella Wijt
Ella Wijt, Domestic Emotions: A Home Within Me, 2023.
After losing her land to a family feud, Wijt created Domestic Emotions: A Home WIthin Me, exploring her sense of loss and grief of the things she had cultivated at one point in that space.
Ella Wijt's installations often speak intimately about the subjects that she had a huge interest in, namely subjects like womanhood, personal experiences, or even mythologies.
In this particular installation, she uses objects from her actual old home such as the grass to create a light warm space. The wispiness of the grass evokes a sense of weightlessness and ethereality.
She also uses her art as a medium for healing, as I am. This installation is one of my favourite, as it brings a very lightweight feel to the work.