Nostalgia Saya di 100 Tahun ITB
Dalam beberapa hari ke belakang, nampak banyak teman-teman sealmamater yang menorehkan nostalgia melalui berbagai macam media, entah dengan memajang foto-foto di jaman kuliah atau membuat tulisan yang berbau ke-ITB-ITB-an, dalam rangka menyambut usia ke satu abad ITB tercinta. Saya jadi tertarik untuk membuat post serupa, isinya bagaimana mungkin sangat random karena hidup saya selama di kampus juga memang random. Hehe.
Waktu saya SMA, saya tidak tahu yang namanya ITB. Mimpi saya adalah kuliah geo-geoan di UGM biar bisa kerja di perusahaan minyak multinasional seperti bokap. Di masa-masa pendaftaran perguruan tinggi, tiba-tiba bokap menyodorkan formulir pendaftaran USM ITB dan disuruh ngambil SBM. Sebagai anak yang baik (kalo nggak nurut ntar nggak dikasih makan L) dan tentu saja bokap yang orang perminyakan punya insight industrinya, saya hanya bisa menurut. Long story short, saya diterima di SBM ITB dan kehidupan saya di kampus gajah dimulai.
Tidak banyak yang bisa saya soroti dari sisi akademis karena selama bisa laporan ke ortu dapat IPK bagus, ya that’s it. Itu bentuk tanggung jawab saya ke ortu saya yang membiayai saya kuliah. Hehe.
Sesampainya di kampus gajah, saya baru sadar pentingnya menuh-menuhin CV. Hal tersebut sedikit mengubah orientasi saya dalam berkuliah yang tadinya mau hidup sesuka hati, jadi mencoba ikut ini-itu. Maklum, waktu SMA saya hanya belajar di kelas dan tidur di masjid, tidak ikut organisasi what-so-ever, paling rohis, soalnya suka tidur di masjid. Dibuka dengan OSKM 2009 yang mengajarkan romantisme kemahasiswaan, menjadi panitia ITB Fair yang mengajarkan saya enjoyment menjadi bagian suatu acara, dan ditutup dengan menjadi bagian dari PSB yang mempertemukan saya dengan orang-orang yang saya anggap hebat. Tentu saja juga dengan pertemuan-pertemuan lainnya yang mengajarkan saya luasnya dunia.
Datanglah akhir tahun pertama. Sebagian besar teman-teman saya excited dengan kegiatan OSKM 2010, begitu pun saya. Saya yang tadinya punya determinasi menjadi panitia lapangan baik-baik seperti teman-teman lainnya, mengubah haluan saya seiring dengan konflik kecil yang menjadi besar dan somehow jadi public enemy waktu itu, bersama dengan Oknum A yang saya kenal di UKJ. Alasannya jelas, karena memegang paham anti-ospek. Saya yang masih sangat polos merasa sangat tertekan karena jarang sekali berkonflik dengan orang, sementara teman saya sepertinya sudah biasa cari masalah jadi dia terlihat tenang. Karena waktu itu masih musimnya Kamen Rider W, dan judul movienya A to Z The Gaia Memories of Fate, it added some excitement being some kind of criminal duo at that time. Ngeri-Ngeri-Sedap gitu lah. HENSHIN!!!
Kalau dari luaran, kelihatannya seperti ada 2 anak TPB ingusan bikin rusuh OSKM sampai beku, padahal waktu itu emang snowball effect dari adanya K3L yang baru berdiri dan entah gimana ceritanya teman saya memunculkan ketidakpercayaan pihak kampus kepada panitia OSKM waktu itu, dan ada satu hal lainnya. Puncaknya memang closing (kalau nggak salah) yang terkendala hujan dan akhirnya bubar anti-climax. Di malam terakhir itu, bayangkan scene-nya malam, hujan, dan tone kesepian. Kira-kira itu perasaan saya, tanpa tahu kalau acaranya anti climax, dan saya baru tahu sehari setelahnya. Event ini adalah turning point di hidup saya karena merasakan bad publicity. But it’s still publicity. Tapi di samping event tersebut, saya juga ikutan panitia persiapan penyambutan Ramadhan (P3R?) di Salman yang ke depannya menjadi penolong buat hidup saya di kampus.
Tahun kedua dimulai. Luka hati saya (halah) belum sembuh benar, dan saya masih hidup dalam bayang-bayang sentimen dari OSKM 2010. Bukan trauma sih, bukan depresi juga, ya masih merasakan hawa-hawa tidak enak saja. Ya konsekuensi bikin kacau acara hajat orang banyak sih ya. Kemudian, kadiv saya pada acara Salman menghubungi saya, namanya Iqbal, bersama Yoga dan satu orang lagi yang saya lupa namanya mencalonkan diri menjadi ketua panitia pemilu raya ITB 2011. Long story short lagi, Yoga terpilih. Saya dihubungi apakah saya mau membantu dia. Saya iyakan saja, toh saya juga sedang tidak sibuk apa-apa. Tahu-tahu jadi kadivnya, itu pertama kali saya merasa akhirnya ada yang bisa saya tulis di CV dan ada judulnya selain anggota. Kan katanya jadi ka-ka gitu menunjukkan leadership di CV :p.
Awalnya saya sempat tegang karena salah satu danlap OSKM 2020, Diaz, merupakan salah satu inner circle panpelnya. Tapi semua baik-baik saja pada akhirnya. Kalau kemarin tidak ikut P3R di Salman, mungkin saya tidak memiliki kesempatan menjadi bagian dari panpel pemira 2011. Di event ini, saya belajar banyak hal, terutama soal berkoordinasi dan conflict handling. Peninggalan dari event ini adalah akun twitter anonym si gajah galau, akun yang kami pakai untuk nyampah dan berkampanye. Biasa, proto gen-Z punya bibit-bibit mau tenar online :p.
Di titik tersebut, sentimen dari OSKM 2010 sudah tidak terlalu berasa. Mungkin saya masih merasakannya karena saya self-conscious ya. Waktu itu yang akan mencalonkan diri jadi ketua panitianya adalah Dani (taplok tahun lalu) dan Dana (SBM, PSIK). Karena lebih sobi sama si Dana yang satu jurusan dan sekrenya sebelahan, sempatlah pada suatu hari ketemu ybs dan “kalau nutuh bantuan, kabarin yak” kata saya, ngode-ngode minta jatah. Astaghfirullah waktu itu saya giljab L. Kalau sama Dani, waktu itu sempat dikenalkan oleh Estuyu di sebuah acara di CC Barat. Melihat tatapannya, saya yakin kalau orang ini punya dendam sama saya. Pemilihan berjalan, dan DER, Dani menang. Tamat sudah perjalanan karir kemahasiswaan saya waktu itu, pikir saya.
Rupanya takdir berkata lain. Karena satu dan lain hal, saya diajak jadi kadiv perizinan OSKM 2011. Wow. Keajaiban sekali memang. Tahun sebelumnya jadi kriminal, tahun setelahnya jadi ring 2. Memang politik kampus ini bukan barang sembarangan. Dari sini saya belajar banyak mengenai birokrasi kampus untuk kegiatan yang lebih challenging daripada sekedar bikin panggung. Event ini adalah salah satu yang paling berkesan bagi saya karena pertama kalinya ada yang mau surprise saya di hari ulang tahun saya. Uuu makasih, maaf untuk prasangka-prasangka buruk sebelumnya. Ilmu di event ini pun banyak yang membekas dan bermanfaat sekali ke depannya. Tahun kedua saya pun berakhir dengan damai. Setidaknya menutup luka hati saya karena OSKM 2010 yang terjadi di tahun sebelumnya. Tapi saya jadi walking ujub astaghfirullah.
Tahun ketiga diwarnai dengan PSB 2012 dan Pemira 2012. Tentu ini tidak lepas dari keikutsertaan saya pada PSB 2010 dan Pemira 2011, walaupun saya merasa saya tergabung di Pemira 2012 karena alasan yang sama dengan OSKM 2011. Waktu itu memang banyak yang terbengkalai, tapi saya senang PSB dan Pemira berjalan lancar. Saya senang karena bersama dengan teman-teman dapat melakukan salah satu hal yang waktu itu belum tercapai oleh banyak mahasiswa, selain Pasar Seni ITB, membuat panggung di depan gerbang kampus dan menutup jalan Ganesha. Indah dikenang namun tidak indah untuk diulang. Kalau dari sisi Pemira, ngerasain lah itu yang namanya dibilang punya ideologi berbahaya or something around that line karena konstelasi politik. Padahal mah saya nggak bisa apa-apa.
Saya tidak bisa bercerita banyak karena selain akan terlalu panjang, banyak detail yang terlupa, dan banyak detail yang akan lebih terasa serunya kalau formatnya berbeda (missal komik atau cerbung). Tapi kurang lebih ini garis besar yang saya alami di kampus. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa diceritakan, terutama kegiatan-kegiatan lain di luar acara (seperti ikut ITB mengajar, bantuin ngurusin pedagang gerbang belakang, atau konflik-konflik “kecil” lainnya), tapi rasanya segini saja cukup. Dulu rasanya ujub banget, untung sudah sadar kalau itu salah hehe.
Tentunya semua ini bisa terjadi karena karakter dan keadaan ITB yang sangat mendukung saat itu. Manusia-manusianya keren, sarprasnya memadai, wilayahnya yang tidak terlalu besar, tidak ada organ ekstra masuk, dan banyak hal belum online-online an. Saya tidak bisa membayangkan konflik-konflik di atas bisa terjadi kalau saya berkuliah di tempat lain, nggak bakal kejadian itu ospek terpusat bisa beku gara-gara segelintir orang, misalnya.
Selain itu, bisa bertemu teman-teman yang oke punya, baik secara pola pikir, daya juang, interest, dan banyak lagi. Ini salah satu yang saya syukuri hehehe.
Semoga di umurnya yang ke satu abad, ITB tetap bisa menjadi playground yang sangat menarik yang memberikan kisah-kisah ajaib bagi tiap insan yang menjalani hidup di dalamnya. Terima kasih!
Oh, saya bersyukur mengikuti maunya ayah saya waktu itu, karena begitu saya lulus, industri perminyakan drop. Alhamdulillah ya.