Sahabatku Emma
Sahabatku Emma yang sedang ada di tahun 2020 terimakasih ya.
Terimakasih sudah menjalani hari demi hari dengan baik, Aku masih ingat 2020 kau awali dengan merantau ke tempat yang bahkan tak terbayangkan olehmu seperti apa. Diantarkan ayah dan ibu untuk melakukan wawancara hingga ditinggalkan sendiri dengan tanda tanya. Waktu itu kau sangat bersemangat akan melakukan suatu hal yang kau sebut sebagai proses menjadi dewasa.Â
Sahabatku Emma cepat sekali waktu berlalu memang, banyak rasa baru yang kau peroleh dari hari-hari di tahun 2020. Bertemu dengan penulis yang kau kagumi semasa kuliah mebuatmu senyum-senyum sendiri hingga 5 hari. Mengenal teman kerja dengan segala macam pikiran dan tingkah lakunya. Menyiapakan materi hingga larut dan berdegup ketika akan masuk kelas. Malam-malam kau lalui video call dan drama korea. Tiada perdebatan berarti dalam hati. Dari dulu kau masih seperti itu, tidak sulit bagimu untuk beradaptasi dengan orang lain, namun sangat sulit bagimu untuk beradaptasi dengan diri sendiri. Ah, aku pun tak tahu maksudnya seperti apa, Pokoknya itulah. Kau masih terlalu lentur dan goyah, semoga aku bisa lebih fokus dengan hal-hal yang membutku senang saja.
Bulan Maret terasa sangat panjang dan menjemukan. Bulan dimulainya bekerja dari rumah. Kau bangun hingga siang dan begadang hingga pagi. April kau mulai ditemani ukulele yang dibeli dengan gaji pertama bekerja dari rumah. Mei, Juni, Juli tertolong oleh tomat, cabe, pokcoy, lidah buaya dan sepeda yang kau beri nama Profesor. Agustus tak tahan dengan kejengahan yang chaos dan pandemi yang semakin membabi buta kau pun pulang. Pilihan yang tepat sekali waktu itu Emma, terimakasih.Â
Lalu kau pun pulang. Pulang selalu sulit dijelakan secara deskriptif. Pulang selalu membuat jantungmu meloncat kegirangan. Dalam pulang kau merasakan kebahagiaan. Dalam pulang kau menemukan semangkok opor mamak. Dalam pulang kau menciumi pipi kakak. Dalam pulang kau membakar sampah dengan ayah. Dalam pulang kau merasa tidak harus selalu produktif. Dalam pulang kau merasakan ketenangan. Kau ingat? Hampir setiap minggu kita ke pantai untuk mencoba pukat, mainan baru ayah. tidak selalu dapat ikan memang, tapi kau menyadari bahwa setiap orang memiliki jalannya sendiri. Surut air laut di sore hari merupakan waktu favoritmu untuk mukat. sambil menunggu ayah merentangkan pukat, perlahan semburat jingga kemerahan di antara awan yang dibatasi horizon laut membentang di hadapan. Sepoi angin secukupnya dan hangat air laut terkadang lepas dari syukur. Waktu terasa sprint ketika kau pulang. Saat pulang kau menyadari bahwa mamak tidak sepenuhnya mendukungmu untuk bekerja jauh darinya. tapi, selalu ada tapi.Â
Desember kau kembali merantau. Ada hal yang harus kau selesaikan dan tidak bisa tidak harus dikerjakan di sini, saat ini sebelum akhir tahun. Ah, Omong kosong! kau hanya kangen ruang sendiri waktu itu. Padahal kau tahu kangen itu hanya perasaan spontan, kau menyesal setelahnya kan? mengapa harus kembali? mengapa tidak menunggu hingga pernikahan kakak febi, sepupumu? padalah akan banyak saudara datang dari perantauan. Bodoh! Nyatanya saat ini aku malah menulis surat buatmu bukanya mengerjakan hal yang katamu harus kau selesaikan sebelum perpindahan tahun. Namun sudah tidak perlu kau sesali aku maafkan.Â
Sahabatku Emma terimakasih untuk bertahan dan tetap kuat di tahun 2020 yang berat, maaf tadi marah-marah, kadang aku kecewa denganmu namun seringnya aku bangga. Tetap santai dan ingat untuk senang, tenang dan kenyang, baiklah akan aku lakukan. Sekarang adalah giliranku untuk kuat, sekuat kehidupan. Terimakasih banyak, Aku Mencintaimu, Selalu.Â
Purwokerto, 2020Â Â
















