Tak ada makam untuk kenangan ini, sebab ia tidak pernah diakui sebagai kehilangan. Ia hanya hidup disela dada yang sesak dan rindu yang tak punya hak.
Bukan tanah yang menimbunnya,
Bukan hujan yang membasahinya,
aku mengubur segala kemungkinan:
tentang hari-hari yang sempat kubayangkan
akan kita lewati bersama,
tentang pagi yang mungkin diawali
dengan saling sapa dan secangkir rindu,
yang tak pernah jadi dibangun karena pondasinya sudah lebih dulu retak oleh perbedaan.
Aku mengubur caramu memandangku
seperti seseorang yang pantas diperjuangkan.
yang pernah menjadi penawar
bagi seluruh gaduh di kepalaku.
Aku mengubur harapan-harapan kecil
Tak ada makam untuk kenangan ini,
sebab ia tidak pernah diakui sebagai kehilangan.
dan rindu yang tak punya hak.
Ia tidak dikafani dengan perpisahan yang layak,
tidak ditangisi di bahu siapa-siapa,
tidak pula didoakan ramai-ramai
seperti orang-orang yang mati
dengan nama dan status yang jelas.
Cinta ini wafat diam-diam,
tanpa satu pun orang tahu
yang runtuh di dalam dua pasang mata.
Yang tersisa hanyalah hal-hal kecil
yang justru paling kejam untuk dilupakan:
saat matamu singgah terlalu lama,
dan percakapan-percakapan sederhana
yang kini menjelma kutukan—
bahwa kita pernah hampir menjadi segalanya
sebelum sempat menjadi apa-apa.
dengan kelembutan yang nyaris suci,
dengan cara yang begitu manusiawi:
dan penuh luka yang disembunyikan.
melainkan di tempat-tempat
yang tak bisa dijamah siapa pun:
di lagu-lagu yang tak lagi berani kudengar,
di bangku-bangku sepi yang pernah kita singgahi,
namun tak pernah berani menyebut namamu.
yang tak bisa kupublikasikan.
Sebab bagaimana mungkin aku menjelaskan
yang tak pernah benar-benar kumiliki?
Bagaimana mungkin aku berkata
bahwa ada yang mati di dalam diriku,
padahal dunia bahkan tak pernah tahu bahwa kau pernah hidup di sana begitu lama?
aku belajar satu jenis sepi
yang tak diajarkan siapa pun:
meski semua orang mengira kau baik-baik saja.
Sepi yang duduk manis di sebelahku setiap malam,
menyuguhkan ulang kenangan seperti racun yang dituang ke cangkir paling indah.
Dan bila suatu hari nanti
kau melihat seseorang tersenyum
dengan mata yang terlalu lelah,
Kuburan itu bernama: KITA