Hater's Bilang ini Editan
Biasanya aku bisa dibilang, enggak suka selfie. Baik itu dengan sahabat, teman pun dengan tokoh-tokoh atau ustadz-ustadz "ternama". Beberapa nama seperti ust. Salim A. Fillah, ust. Firanda, ust. Syafiq Riza Basalamah, ust. Hanan Attaki, ust. Yusuf Mansur, ust. Adi Hidayat, ust. dr. Raehanul Bahraen dan Syeikh Ali Jaber rahimakumullah; alhamdulillah bisa aku temui langsung untuk mengambil ilmu dari beliau dari majlis-majlis yang diadakan. Ramai itu pasti, karena beliau-beliau sudah "punya nama". Punya nama itu adalah suatu peluang jalan kebaikan besar dan juga terdaoat ujian yang besar di dalamnya. Layaknya pohon yang tumbuh tinggi, Semakin tinggi maka semakin besar angin yang akan menerpanya.
Pikirku, "Sebenarnya yang penting itu kita bisa mengambil ilmu dari beliau, mengamalkanya, dan syukur-syukur bisa meminta nasihat atau diskusi personal dengan beliau. Jangan lupa juga minta doa dari beliau. Kalau pun foto, cuma kenang-kenangan aja."
Tapi kali ini bisa dibilang berbeda. Beliau dr. Gamal Albinsaid. M.Biomed, yang sudah "punya nama" di tingkat nasional dan internasional. Berbagai apresiasi maupun penghargaan diraih beliau. Seorang dokter yang bercita-cita besar dan berkemauan keras untuk mencapainya. Barakallah fiik Dokter..
Setelah mengikuti Amazing Motivational Share yang diadakan oleh @majelis_gaul, barakallahfiikum panitia dan segala yang mendukung, saya berkeinginan kuat untuk bisa menyapa, berbicara, dan berfoto dengan beliau. Sesi tanya jawab aku angkat tangan, tapi "kalah" sama peserta vip yang bertanya. "Sudahlah, mungkin tidak jodoh.” pikirku. Lanjut shalat dhuhur di masjid. Ternyata ketemu sama beliau di tempat wudhu. Mau nyapa dan ngajak foto, kesempatan itu berlalu karena rasa malu yang menghinggapi. Jadi, udah diajak sama panita lagi.
Habis sholat, temenku ngomong, "Cegat aja nanti beliau di luar". Oke. Akhirnya nunggu di luar, banyak juga yang nunggu di luar untuk mau ngobrol, salam, dan foto sama beliau. Hingga akhirnya, sampailah pada kesempatan aku bisa menyalami, ngobrol, minta doa, dan foto sama beliau. Singkat momennya. Alhamdulillah bisa.
Mungkin aku sebegitu ngototnya, ingin dekat sama beliau, ya karena aku fans atau mengidolakan beliau. Sesama teman sejawat (dokter), kemudian bisa menggerakkan, menginspirasi, menduniakan kebaikan-kebaikan khususnya dalam bidang kesehatan. Semoga saya, dan teman-teman sekalian bisa mencontoh kebaikan-kebaikkan beliau. Aamiin. Dalam renungan. "Ya Allah, bagaimana cintaku terhadap Engkau dan Rasulullah?" Sebegitu tidak inginkah aku untuk bisa melihat langsung wajah Engkau? Sebegitu tidak inginkah aku untuk bisa berdekatan dengan Rasulullah nanti? Hingga aku masih saja "rendah" dalam beribadah kepada-Mu Hingga aku belum beriman sepenuhnya akan janji-Mu, kekuasaan-Mu, dan kebesaran-Mu. Hingga aku malas untuk berdekatan dengan anak yatim
Padahal Rasulullah sudah berjanji dalam haditsnya, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. (Shahih. HR. Bukhari)
Cinta dan benci itu amalan hati. Syirik itu mutlak harus dijauhi. Oleh karenanya harus diilmui. Tidak ada alasan untuk menghindari. Semoga kita masuk jannah nanti.
Nb: inovasi-inovasi beliau ada di layar









