"Tentang segala keriuhan, mari menepi sejenak. Mencari mana yang bisa diperbaiki, dan mana yang harus dikuatkan"
- Mutaba'ah
Jules of Nature
NASA
TVSTRANGERTHINGS
Cosimo Galluzzi
art blog(derogatory)
official daine visual archive
Show & Tell

Origami Around
Monterey Bay Aquarium

he wasn't even looking at me and he found me
Fai_Ryy
tumblr dot com
Noah Kahan
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
RMH

Mike Driver
Sweet Seals For You, Always

seen from United States
seen from United States
seen from Israel

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from Argentina

seen from France
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Ukraine

seen from Italy

seen from United States

seen from United States

seen from South Korea

seen from India

seen from Finland

seen from Singapore
seen from Iraq

seen from Singapore
@satu-ruang
"Tentang segala keriuhan, mari menepi sejenak. Mencari mana yang bisa diperbaiki, dan mana yang harus dikuatkan"
- Mutaba'ah

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Cermin Perjuangan
Mustahil ketika kita berusaha membebaskan umat ini dari keterbelakangan kecuali dengan membina mereka berdasarkan nilai-nilai Islam. Mustahil pula kita dapat membina mereka dengan tanpa diawali membina diri sendiri terlebih dahulu.
Kita sama-sama tahu, di berbagai dimensi kehidupan ini perubahan selalu hadir dengan diawali sebuah langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Seorang Alif dalam Film Ranah 3 Warna tak akan menjadi penulis hebat jika ia tak memaksa diri untuk mengulangi tulisannya yang bolak-balik direvisi oleh redaktur majalah kampusnya. Atau seperti Buya Hamka yang hari-hari masa kecilnya dihabiskan untuk bekerja menyampul buku demi bisa membaca buku-buku terbitan barat secara gratis di Perpustakaan Zainaro. Darinya, Buya Hamka menerbitkan karya-karya sastrawi yang bernilai tinggi!.
Saya jadi ingat apa yang disampaikan guru saya sewaktu masih SMA. "Seorang muslim hendaknya membiasakan diri untuk disiplin meskipun dalam urusan-urusan yang kecil!!" Begitu ucap beliau berapi-api dengan tatapan tajam sembari mengacungkan telunjuknya ke atas.
Dewasa ini, rasa-rasanya sulit untuk mengkonsistensikan diri pada hal-hal yang dianggap kecil. Pada akhirnya, kesempatan-kesempatan besar pun luput karena terbiasa tak menghiraukan tanggung jawab "kecil". Singkatnya, diri ini sudah jauh dari kata berjuang. Mata yang gampang lelah, lambung yang dekat dengan kasur, hingga waktu yang habis dimakan rutinitas semata. Seolah semuanya menjadi penghalang bagi jiwa ini untuk lalai dari medan perjuangan membina umat tadi. Jangan dulu membicarakan umat, bahkan sekedar meningkatkan kapasitas diri sendiri saja amat sulit.
Jadi, apakah hanya seperti ini kualitas diri kita? (*tanya ke diri sendiri)
Diantara kelelahan itu, suatu ketika saya berdiskusi panjang dengan Ustadz saya. Hingga sampai di ujung waktu perjumpaan pagi itu, saya mengeluhkan sebuah proyek yang terasa berat untuk diselesaikan.
===
"Kenapa ngga dicoba?"
Tanya beliau ketika kami hampir sampai di ujung jembatan yang membelah danau itu.
"Pas Lukman lihat, kayaknya berat deh tadz,"
Lantas beliau menghentikan langkah sejenak. Menoleh ke samping dengan tatapan yang dalam, dan disusul senyum tipis yang membentuk lesung kecil di pipinya.
"Hidup ini nggak ada yang ngga berat, nak"
Mak deg! spechless ketika mendengarnya di waktu itu. Teringat dengan kisah-kisah kaum terdahulu, dan orang-orang shalih yang tak pernah gentar mundur dari perjuangan. Pun teringat bagaimana ustadz saya bercerita ketika berkuliah di negeri orang, bersusah payah hanya untuk sekedar mencari tempat sholat. Menahan lapar sekaligus dinginnya salju di negara itu, karena tak dijumpainya kedai halal di sekitar tempat penelitian.
Ah, hidup ini memang tak ada yang mudah.
Draf lama || 4 Maret 2023
Kematangan Jiwa
Pada lembar hidup yang telah kita lalui, pada orang-orang yang telah kita temui, dan segudang masalah yang mendewasakan, sudahkah ada ucapan syukur kita atasnya? Sejauh ini kita melangkah, sekuat ini kita pula bertahan.
Di bab selanjutnya, kita sama-sama tahu bahwa kesulitan adalah bagian dari buku ini. Inilah bagian paling penting yang menguji daya tahan. Akankah kita cukup berani menuntaskannya dan segera beranjak pada halaman selanjutnya? Ataukah justru kita larut tenggelam dalam bab kesedihan?
Sebelum menutup buku ini, kita termenung. Menatap langit ke atas, memejamkan mata sesaat setelahnya. "Sebenarnya, setiap waktu adalah adalah saat yang tepat untuk berubah dan membenahi diri," begitu pikir kita.
"Maka, hidup itu adalah kematangan jiwa terlebih dahulu.." demikian kata Ustadz Syihabuddin.
Maka, menangkan hati kita hingga kebaikan-kebaikan itu mematangkan jiwa kita.
Wallahualam bish-shawab.
Surakarta || 13 Februari 2023, Sebakda Maghrib
Terlalu melelahkan apabila menanggung perasaan yang dulu sempat membuat kita jatuh ke dalam lubang nestapa. Petang ini, kita sepakat untuk mencukupkan diri pada perasaan-perasaan yang tidak perlu. "Sebelum tiba waktunya, tidak ada yang berhak mendapatkan waktu dan pikiranku sepenuhya selain-Nya," ucap laki-laki itu menguatkan dirinya.
Biar beneran kalo upload di tumblr :)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku tak tahu banyak apa yang dipikirkan oleh orang-orang tentang seseorang yang begitu berpengaruh dalam kehidupan mereka. Tapi semoga, selama ini kita mendapatkan pelajaran yang sama. Sepanjang saling mengenal kemudian berusaha memahami, ada hal-hal sederhana yang terlihat menakjubkan. Bukan karena hadirnya rasa nyaman, tetapi memang ada saja pelajaran yang begitu mendalam. Semakin banyak berbagi, yang kutemukan adalah ketakjuban mengenai apa-apa yang kamu pelajari. Dan itu, jauh lebih berharga karena kita akan terus saling belajar dan memahami. Ketakjuban kita padanya, berujung pada betapa paripurnanya Sang Pencipta dalam mengatur seluruh semesta.
Semarang | 17 Desember 2022
Hai, lama tak bersua.
Sepertinya, hari ini hujannya agak berbeda. Ia tak hanya berhasil membasahi tanah, bebatuan, atau dedaunan. Tapi kali ini guyurannya juga berhasil menyapu lupa, menumbuhkan ingatan-ingatan lama. Kurasa aku tidak berlebihan. Memang nyatanya demikian. Dari jendela di bawah atap asrama, aku menatap langit sejenak. Melihat gumpalan-gumpalan awan kelam yang berjalan, seolah didorong angin dingin yang menghembus perlahan.
Dalam ingatan itu, banyak hal yang mengitari pikiran. Detik demi detik, menit demi menit, kita melangkah pada poros hidup kita masing-masing. Sang waktu terus berjalan. Tak peduli kepada siapa yang ia tinggal, pun kemana semesta akan membawa. Ia hanya tahu, tugasnya hanya melaju kencang. Yang berhasil menyusulnya dialah sang pemenang, dan yang kalah menjadi pecundang.
Tapi, masihkah kita ingat pada perjanjian itu? Perjanjian dengan masing-masing diri kita sendiri. Komitmen bahwa mulai esok, seonggok daging yang berjalan ini akan berusaha menjadi sebaik-baik diri, untuk dia; dan mereka yang dicintai.
Detak waktu senantiasa bergulir. Gemericik takdir terus mengalir. Hari ini kita menemukan, besok kita kehilangan. Hari ini merasa bahagia, ternyata besok ada lara yang menyapa. Tak mengapa, sungguh tak apa. Lanjutkan pengembaraan ini, hingga akhirnya ia berjumpa pada apa-apa yang berpihak pada kebaikan dan taqwa. Iya, kamu menyebutnyah hikmah.
Selamat berhikmah.
Kembali, 30 September 2022
Wahai jiwa yang rapuh. Bersiapkah engkau nikmati petualangan ini?
Petualangan yang kini membawamu tergopoh-gopoh berjalan di muka bumi.
Rendahkan dirimu wahai jiwa. Letakkan beban di punggungmu pada sang empunya alam semesta
Perkenankan ruhmu untuk bersujud,
Untuk merapal doa kepada sebaik-baik pemberi ampunan, agar hatimu dilapangkan,
Juga pada...
Ah, kau tau kan? tentang perasaan abstrak yang selama ini engkau jaga supaya tak semakin dalam?
Monolog | 22 Juni 2022
[Personal Space]
Begitulah kehidupan berjalan. Ada banyak kesenangan yang kita temukan, pun kesedihan yang hadirnya beriringan. Sepanjang jarak terbentang, tak jarang keriuhan di kepala menjadi teman yang seolah tak pernah bosan. Tentang keraguan atas pilihan-pilihan yang telah kita tetapkan, maupun ketakutan terhadap apa-apa yang ada di depan.
Namun kita, memilih untuk terus berjalan melawan kelelahan. Meski keinginan untuk berhenti itu terus membayangi, kita lebih memilih menguat, berupaya melampaui diri kita sendiri.
Dan, untuk jiwa-jiwa yang mendamba ketenangan: berkenankah kita ajak untuk mengambil jeda? Sesekali kita juga butuh sepi. Menyiapkan ruang untuk mendengarkan hati, dengan diri sendiri dan sejujur-jujurnya rasa. Dengarkanlah ia, jiwamu lebih mengenal dirinya sendiri. Dan demi hidupnya ruh, mari periksa hati kita lagi. Jangan-jangan, selama ini ada sesuatu yang salah menempati hati kecil kita?. Mungkin dalam kesunyian itu, kita perlu mengistighfari lagi "istighfar" kita, dan mengikhlaskan lagi "ikhlas" kita.
Mari bermuhasabbah sebentar. Bertanya dengan tegas kepada jiwa ini, "Apa yang selama ini kita cari?, apa yang selama ini kita kerjar?"
Ighfirlanaa ya Rabb
Jum'at | 10 Juni 2022
Katamu, sebelum kejelasan itu terbit, ada hal yang perlu dijaga? Maukah kamu menjaga itu? Aku terlalu rapuh untuk melihatnya sendirian
9.06.2022

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nice Collab🌻
Pada kenyataannya, banyak hal yang tak bisa kita rengkuh sekuat apapun kita berupaya. Dan dalam ketidakkuasaan kita untuk memilih takdir, kita sama-sama punya makna. Bahwa segala apa-apa yang ditetapkan-Nya, akan bermuara pada tumbuhnya cinta kepada Allah ta'ala.
Illustrator : @arinailma | Script : @satu-ruang
Dalam sebuah kesempatan, mentor saya pernah menyampaikan,
"Punya prinsip hidup 'mengalir' itu boleh. Tapi sayang banget kalau kita enggak mengikhtiarkan pemikiran yang Allah kasih untuk merencanakan sesuatu"
Hari ini, kita telah merencanakan dan mengikhtiarkan perbaikan. Tak ada yang dapat memberi kepastian , pun tak ada yang menjamin keberhasilan. Namun, bukankah kita sama-sama tahu bahwa sebaik-baik hasil adalah yang dipersiapkan?. Sejauh langkah yang telah kita tempuh, pengalaman selalu memberi kesempatan agar diri senantiasa bertumbuh. Ada kebahagiaan yang sedang diperjuangkan, ada pula yang bersusah payah hanya untuk sekedar bertahan. Masing-masing diantara kita sedang merencana dan mengupaya takdir baik dengan jalan yang berbeda.
Perihal rencana dan ikhtiar yang telah kita tetapkan, mari siapkan ruang hati yang lapang. Terlalu egois jika meminta Allah menetapkan untuk kita, harapan-harapan yang telah disusun demikian. Kita yakini saja, bahwa Allah tak pernah menyia-nyiakan hambanya yang beriman :)
Hasbunallah wa nikmal wakil
Jumat dan mendung | 20 Mei 2022
Pada detik yang senantiasa bergulir, ada setangkai ingatan segar yang masih mengalir. Kala itu, dalamnya samudera kita selami, kita temukan mutiara bersama, lalu menyusunnya menjadi rangkaian hikmah yang terukir. Indah nian, bersua setelah berpeluh payah menapaki jejak-jejak takdir.
Kini; aku, kamu, dan kita masih berada di bawah atap langit yang sama. Mengupaya bahagia dengan jembatan yang tak lagi sama. "Bila nanti kita jauh berpisah, Jadikan rhobitoh pengikatnya, Jadikan doa ekspresi rindu". Seperti nasyid itukah kita mengakhiri perjumpaan ini? Semoga :)
"Mungkin begitulah seharusnya kita, terus saling bercermin tanpa lelah. Kita menampilkan bayangan terindah yang akan berlipat-lipat tanpa henti sebab hati kita dan orang yang kita cintai terus saling belajar dan saling memahami. Lalu kita menjadi sepasang saudara yang tak hanya bernilai dua, melainkan seribu atau bahkan tak terhingga" (dalam buku "Dalam Dekapan Ukhuwah", Ustadz Salim A Fillah)
Catatan kecil, 8 Mei 20.45 WIB
Pesan dari Abi
(sebuah cerpen)
Aida menyisingkan kaos lengan panjangnya. Sesekali matanya menyipit menghindari letupan minyak goreng di hadapannya. Gadis lima belas tahun itu dengan cekatan membolak-balikkan kacang telur setengah matang yang sedang ia goreng. Suara desingan minyak memenuhi dapur yang masih berlantaikan cor semen sore itu. Sinar matahari yang lolos dari celah-celah atap rumah berhasil menyapu hangat wajahnya, membuat Aida sedikit berkeringat.
“Angkat mbak, udah mateng itu” perintah perempuan paruh baya yang tengah mencuci beras di dekat sumur.
“Siap umi,” ujar Aida, dengan sigap mengangkat kacang telur dari wajan.
Sudah menjadi hal yang lumrah, kesibukan keluarga kecil ini menyiapkan pesanan kacang telur dari para tetangga jelang lebaran. Biasanya, hari-hari terakhir Ramadan seperti sekarang ini menjadi jadwal padat Aida dan uminya bergelut dengan alat masak di dapur dari pagi hingga sore hari.
“Dek, kamu mandi dulu yaa, nanti biar diantar Mbak Aida berangkat ke TPA” ucap Umi kepada Faris, putra bungsunya yang tengah membantu mengelap belasan toples sedari tadi.
“Iya umi” jawab Faris, singkat. Bocah sembilan tahun itu bergegas pergi dengan muka yang masam, sambil menenteng handuk biru yang baru saja ia ambil dari gantungan.
Pandangan Aida menekuri jidat Faris yang tampak berkerut.
“Faris kenapa yaa mi? Aida perhatiin dari tadi pagi mukanya cemberut mulu” tanya Aida heran. Seharian ini, Aida melihat Faris tak ceria seperti hari-hari biasanya.
“Adikmu minta dibeliin baju Boboiboy kayak punyanya dek Rehan anaknya Bu Salamah” sahut umi dengan nada pelan. Aida menyambutnya dengan senyum tipis. Ia tahu betul ibunya belum punya uang sebelum pesanan kacang telur yang mereka buat diambil oleh para pelanggannya.
Ada rasa bersalah dalam benak sosok perempuan tiga puluh delapan tahun itu. Semenjak suaminya meninggal satu tahun lalu, dirinya harus pontang-panting mengurus kedua buah hatinya.
“Bismillah, insyaallah nanti kita beliin Faris baju baru umi” hibur Aida menenangkan ibunya.
Seketika senyum hangat terbit dari wajah umi. Tampaknya Aida berhasil menenteramkan hati sang ibunda. Ketulusan Aida turut Umi rasakan di relung hati terdalam.
“Aamiin, insyaallah sayang” jawab umi sembari mendekap dan mengelus-elus putri kebanggannya itu.
“Ayok kita selesaikan masaknya umi” ajak Aida menutup pembicaraan.
“Eh iyaa masyaallah umi sampai kelupaan hahaha..” balas Umi disusul menepuk pelan bahu Aida. Keduanya lantas tertawa lepas.
**********
“Tok..tok..tok…Assalamualaikum?” ketukan Faris. Tak salah. Bergegas Aida berlari dari ruang tengah untuk membukakan pintu adik kesayangannya itu.
“Waalaikumussalam, sini tasnya Mbak bawain” sambut Aida dengan senyuman hangat, dilanjut dengan mengadahkan tangannya. Faris hanya diam. Nampaknya ia masih kesal karena permintaannya belum dikabulkan.
“Faris, sini ikut Mbak sebentar”. Faris menggelengkan kepala, hanya berdiri di tempat. Mulutnya terkunci rapat seolah tak ia biarkan ada satu kata pun keluar.
Dengan sabar Aida merendah, duduk menekuk lututnya. Kini tingginya sejajar dengan Faris.
“Coba lihat ini”, Aida menunjukkan sebuah jersey kecil berwarna merah , jersey klub Liverpool kesayangan milik Faris.
“Ini kan punya Faris Mbak” timpal Faris mengerucutkan dahi, sambil merebut pelan jersey dengan tangan kanannya. Aida mengangguk. “Faris inget ndak, dapet kaos ini dari siapa?” tanya Aida pelan dan mengusap lembut kepala adik satu-satunya itu.
“Dari Almarhum Abi..” jawab Faris dengan nada pelan, menundukkan kepalanya. “Pas ngasih kaos ini, Abi bilang apa ke Faris?” cecar Aida.
Satu setengah, tahun lalu saat kenaikan kelas, Abi mereka memberikan hadiah gamis untuk Aida, dan satu stel jersey Liverpool untuk Faris. Masih lekat dalam ingatan bocah kecil itu, bagaimana Abi berpesan kepada mereka.
“Hmm,..apa yaa,,” gumam Faris sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya, mencoba mengingat-ingat nasehat ayahnya. “Kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita punya?” sahut Faris sekaligus mengonfirmasi jawabannya.
“Nah...itu Faris tau!” jawab Aida ngegas. “Faris masih ingat ndak? kisah yang pernah Abi certain ke kita soal bersyukur?”
“Inget, Faris masih inget!” jawab Faris antusias, ia acungkan telunjuk kanannya. Faris ingat betul Abinya sering bercerita tentang kisah Khalifah Umar bin Khattab yang tak sengaja bertemu dengan keluarga miskin yang memasak batu karena tak punya bahan makanan. Ayahnya pandai sekali berkisah dan hafal banyak cerita teladan para sahabat Nabi SAW.
“Mulai sekarang, Faris tau kan pentingnya bersyukur sama apa yang Allah kasih?” tanya Aida lembut.
“Iya Mbak. Kata Abi kita juga enggak boleh banyak mengeluh” pungkas Faris sambil mendekap jersey satu-satunya itu. “Sini Mbak Aida peluuuk" senyum haru menghiasi wajah Aida saat itu.
Maghrib itu, suasana penuh haru. Umi yang sedari tadi menyimak obrolan Aida dan Faris dari balik pintu, meneteskan air mata. Penuh syukur, ia dikaruniai anak seperti Aida dan Faris.
"Apabila kita banyak interaksinya sama manusia...", begitu kata murobbi saya, "berarti kita sedang lemah interaksinya sama Allah".
Lebih lanjut beliau memberikan sebuah analogi. Hubungan kita dengan Allah, sama seperti dua variabel. Semakin kita mendekat dengan variabel A, berarti hakikatnya kita semakin jauh dari variabel B. Demikian juga sebaliknya.
Berlaku hal yang sama dengan kita; apabila lebih banyak waktu yang kita habiskan untuk manusia, berarti sebenarnya telah berkurang waktu kita untuk Allah :(
Bukankah kita yakin dengan janji Allah bahwa apabila kita mengingat-Nya , Allah akan turunkan ketenangan dan sakinah ke dalam hati kita?. Akankah ketenangan itu bisa kita dapatkan ketika berada di keramaian?
Maka, duhai diri: Mari menepi sejenak. Di keheningan malam, mari bertanya kepada hati "Dimana Allah kita letakkan selama ini? :")
#selfreminder
Karanganyar Hujan, 23 Ramadhan - 16.20 WIB

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Benarkah Waktu Akan Menyembuhkan?
Berulang kali ingatan-ingatan itu hadir menyeruak di kepala. Memori lama kembali berusaha menyesaki ruang-ruang terkecil dalam sudut pikiran, memaksa mengambil alih energi kita untuknya.
Padahal sebelumnya, kita telah bersepakat dengan diri kita sendiri untuk mengubur dalam-dalam ingatan-ingatan itu. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Semakin kita berusaha melupakan, semakin dalam ingatan itu muncul ke permukaan. Ternyata benar, kadangkala 'lupa' adalah suatu kenikmatan.
Semoga rindu ini menghilang, konon katanya waktu sembuhkan
Gitu kan? liriknya Mas Tulus dalam lagu Hati-hati di Jalan . Tapi kalau soal waktu yang akan menyembuhkan, sejauh ini adakah yang lebih melegakan daripada perasaan yang mampu mengikhlaskan? Mungkin waktu yang abstrak tak bisa menyembuhkan sepenuhnya. Ia hanya menjadi bagian dalam proses penerimaan.
"Nggak usah dilupakan. Tapi jangan diingat-ingat"
Begitu jawaban Ust Hamdan Maghribi ketika ditanya "Bagaimana caranya melupakan?" dalam sebuah kesempatan beberapa waktu yang lalu. Ternyata, ada hikmahnya juga ya, Allah sifati kita dengan watak "pelupa" :) Mungkin biar hati kita lapang; mudah memaafkan kesalahan, ikhlas menerima apa-apa yang tidak ditakdirkan untuk kita, dan tak dipenuhi oleh perasaan-perasaan yang mengotori jiwa.
Untuk diri ini : perihal waktu yang akan menyembuhkan , mari berfokus pada apa-apa yang memang sudah Allah tetapkan. Mungkin waktu tak bisa menyembuhkan, tapi ruang penerimaan adalah hal mampu kita ciptakan. Berkhuznudzan pada Allah, dan bertawakallah :)
#selfreminder #suratuntukdirisendiri
Sabtu, 23 April 2022 - 20.42 WIB
Setiap Kita Adalah Pejalan
Ku rasa, setiap perjalanan yang ditempuh seseorang akan selalu berhasil mengukir hikmah dan kesannya masing-masing. Mulai dari tempat-tempat yang ia kunjungi, dari berbagai orang yang ia temui, maupun kejadian-kejadian yang ia alami. Ia senantiasa memberikan pelajaran terbaik untuk para pejalan tersebut. Entah itu akan membawa memori indah kedepannya, atau justru mengantarkan pada hal-hal menyedihkan, menakutkan, atau bahkan bak film horor yang terus diputar di kepala tatkala kita mengingatnya.
Namun yang jelas, kenangan yang tercipta selalu berhasil menorehkan aneka perasaan dalam dada. Tapi meski demikian, bukan tentang indah atau tidaknya ingatan yang tercipta dari sebuah perjalanan. Melainkan pada hal kemampuan dan kesadaran kita dalam mengambil setiap pelajaran yang kita peroleh.
"Allah menciptakan manusia dengan banyak sendi! Secara implisit, Allah menginginkan kita untuk banyak bergerak & berjalan! Temukan hikmah & mengembaralah"
Begitu kurang lebih yang disampaikan Prof. Hermawan K. Dipojono dengan berapi-api dalam sebuah kesempatan kuliah umum beberapa waktu yang lalu.
Dari hal tersebut sebenarnya kita dapat merefleksikan berbagai "perjalanan" yang telah kita lalui. Sampaikah ia pada pelajaran terbaik, atau justru hanya sekedar menciptakan kenangan suka & duka?
Mari berefleksi, wahai diri ini :)
Sepulang dari Jogja, 1 April 2022 : 00.29 WIB