Kenapa Madrasah Pertama itu Rumah, Bukan Sekolah?
Dalam islam, rumah memiliki kedudukan sangat penting sebagai tempat pendidikan pertama bagi anak.
Rasulullah bersabda: βSetiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR. Bukhari & Muslim)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa keluarga, khususnya orangtua, menjadi factor paling awal yang membentuk arah kehidupan dan pendidikan anak.
Pendidikan di sekolah bisa menambahkan pengetahuan, tetapi fondasi akhlak, iman, dan adab dibangun pertama kali di rumah.
Imam Al-Ghazali menggambarkan jiwa anak sebagai βpermata murniβ yang bisa dibentuk kearah baik atau buruk sesuai pendidikan yang diterima.
Menurutnya, bila orangtua menanamkan akhlak mulia sejak dini, maka anak akan tumbuh dengan dasar moral yang kuat. Sebaliknya, bila lalai, kerusakan akhlak akan lebih sulit diperbaiki meski anak bersekolah di lembaga pendidikan terbaik.
Pandangan tersebut berarti menegaskan bahwa, Rumah tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi tempat utama proses penanaman nilai.
Rumah disebut madrasah pertama karena disitulah anak belajar bagaimana menghormati, bersyukur, menjaga lisan, serta memahami dirinya sebagai hamba Allah.
Harvard Graduate School of Education (2016) dalam "Family Engangment in Education" menemukan bahwa, keterlibatan orangtua di rumah memiliki dampak lebih besar pada perkembangan karakter anak dibanding kualitas di sekolah.
Sementara itu, laporan UNESCO (2015) menegaskan bahwa krisis moral global tidak hanya disebabkan lemahnya sekolah, melainkan juga minimnya peran keluarga dalam memberikan teladan nyata.
Artinya, tanpa keterlibatan orangtua, pendidikan cenderung melahirkan anak yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.
Sekolah bisa saja mengajarkan ilmu dan keterampilan, tetapi fungsi keteladanan dari orangtua secara maksimal, hanya di dapatkan di rumah.










