Entah sejak kapan, tapi sepertinya sejak menetap di Malang aku mulai menyukai stasiun kereta api. Kalau dibilang banyak loh scene-scene film yang asyik di stasiun kereta api (walaupun most of the scene terjadi di bandara juga).
Alasannya banyak, ya salah satunya gara-gara scene film itu juga. Rasanya asyik gitu ketika menginjakkan kaki di stasiun langsung berasa kaya lagi syuting film, haha tapi itu cuma alasan kesekian yang dikarenakan imajinasi otakku terlalu tinggi.
Alasan yang paling utama adalah stasiun kereta api merupakan salah satu tempat untuk ‘me time’ yang enak. Berdasarkan beberapa sumber yang ku baca, aku termasuk dalam golongan ambivert (half part of introvert and extrovert), sometimes aku senang jadi pusat perhatian dan dikelilingi banyak orang, but sometime i feel uncomfortable.
Nah sisi introvertku bakal sering ditemui di stasiun kereta api, disini aku bisa menikmati hiruk pikuk yang berlalu lalang dan sibuk dengan pemikiranku sendiri. Sekiranya 15 jam dalam tiap hariku dipenuhi dengan orang-orang, nah kurang lebih 1 jam di area stasiun kereta api sembari menunggu kereta yang membawaku pulang ke kampung halaman cukup untuk melakukan ‘me time’. Beruntung kalau ada mas-mas kelompok akustikan yang suaranya adem dan setia menghibur di stasiun. Kalau tidak ada sih, headset dan kumpulan lagu di spotifyku juga sudah cukup untuk menemani sesi ‘me time’ku.















