Kamu datang, Aku sambut. Aku sambut, Kamu pergi. Kamu pergi, Aku datang. Aku pergi, Kamu datang.
Tulang Rusukmu yang Tersesat
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Show & Tell
Claire Keane

Kaledo Art
taylor price
sheepfilms
trying on a metaphor

祝日 / Permanent Vacation
Today's Document
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Game of Thrones Daily

Origami Around

⁂
Acquired Stardust
hello vonnie

Product Placement

Kiana Khansmith
art blog(derogatory)

Discoholic 🪩
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Germany
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Ukraine

seen from Australia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Belgium

seen from United States
seen from United States
@rizkaia
Kamu datang, Aku sambut. Aku sambut, Kamu pergi. Kamu pergi, Aku datang. Aku pergi, Kamu datang.
Tulang Rusukmu yang Tersesat

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Agustus
Agustus pun membuka pintunya Ia membukanya lebar-lebar Sangat siap menyambut Kita, katanya Kemudian Aku memelukmu yang telah menunggu dengan sabar
Tak ada sedikit pun niat untuk permainkan perasaanmu Entah sejak kapan Aku merasa seperti ini padamu Yang pasti, Kamu, telah berhasil membuatku nyaman Dan Aku, inginkan Kita terus melukis kenangan….
Hari ini, esok, hingga akhir nanti.
Senin, 1 Agustus 2016. 1:30AM
Kamuku yang sekarang Kamuku yang baru datang Akankah kamu selalu sabar Menungguku tanpa perlu gusar
Bingung Memulainya
Rinduku akan menulis. Membuatku bingung apa yang harus kurilis. Memulainya dari apa, aku pun tak menahu. Terlampau lamanya aku tak menulis. Oh, hei! Bukankah baru saja aku mengalahkan kebingunganku? Ternyata aku bisa memulainya dari apa saja. :)
Namun, Harusku
Tergugu aku Kelu bibirku Tak bisa ungkap Yang harus tersingkap Mungkinkah aku Tak lagi menjadi aku Ketika sang senja Tak lagi bersahaja Aku berlari Namun, tak kembali Bukanku dengki Namun, harusku pergi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Catatan Pernikahan #1 : Tentang Saling Mengenal
Dulu, sebagaimana pandangan orang pada umumnya, saya percaya bahwa salah satu modal penting sebuah pernikahan adalah saling mengenal. Sebab, dari saling mengenal itulah bisa diukur kira-kira cocok atau tidak ketika si A menikah dengan si B. Dari saling mengenal itulah bisa lahir satu keyakinan bahwa si A dan si B bisa membangun rumah tangga yang harmonis. Putus-nyambung-putus-nyambung dalam sebuah hubungan yang disebut pacaran pun dianggap wajar sebagai ikhtiar untuk saling mengenal. Seolah sulit sekali mencari pasangan hidup yang—dirasa—tepat.
Setelah berbulan-bulan menjalani pernikahan, jatuh bangun membangun rumah tangga, saya rasa ide tentang ‘kewajiban saling mengenal sebelum menikah’ itu bukan satu hal yang mutlak. Apalagi sampai bertahun-tahun. Rasanya berlebihan sekali.
Dalam arti, saya kira hal itu sebenarnya bisa jadi urutan kesekian.
Saya pertama kali mengenal Vidia Nuarista di akhir tahun 2009. Saat itu, sekadar tahu nama, wajah, jurusan dan segelintir aktivitasnya di kampus. Lalu menjadi semakin kenal di tahun 2011, ketika kami sama-sama menjadi badan pengurus harian di sebuah organisasi. Saya wakil dan ia sekretaris. Tahun 2014, kami menikah.
Jadi, kalau dihitung-hitung, jarak yang terbentang dari jumpa pertama ke pernikahan lebih kurang lima tahun. Sementara jarak antara perkenalan yang lebih dalam ke pelaminan adalah tiga tahun.
Selama tiga tahun itu, ada banyak hal yang saya catat dari seorang Vidia Nuarista: bagaimana caranya bicara, bekerja, tertawa, menghadapi masalah, dan sebagainya. Termasuk jilbab warna apa yang membuatnya terlihat lebih anggun. Diam-diam dan sedikit demi sedikit saya mengumpulkan informasi itu. Hingga, akhir tahun 2013 bulatlah tekad saya untuk mendatangi ayahnya. Dalam proses itu juga kami berusaha untuk semakin mengenal lagi secara lebih terbuka. Sebagian informasi pribadi ditukar melalui tulisan, sebagian disampaikan secara lisan dalam pertemuan-pertemuan.
Semakin banyak informasi yang saya punya tentang Vidia Nuarista. Semakin saya percaya diri menghadapi pernikahan, karena merasa sudah sangat mengenalnya. Sampai ketika pernikahan telah berjalan beberapa minggu, kami sadar bahwa ada hal lain yang lebih penting dari saling mengenal: saling menerima.
Apa yang saya kenal dari seorang Vidia selama tiga tahun, rupanya tidak terlalu berarti. Berbagai catatan yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun ternyata tak terlalu membantu saat kami berumah tangga. Sebab pernikahan selalu begitu. Ia akan memaksa sifat buruk kita keluar satu persatu, membongkar aib-aib yang telah lama kita simpan, hingga pelan-pelan kita sadar kita tak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan.
Kami benar-benar merasa seperti dua orang asing yang baru bertemu.
Maka saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan Salim A. Fillah, pernikahan adalah proses saling mengenal tanpa akhir. Dalam proses saling mengenal itu, tentu ada hal yang menyenangkan ada yang tidak. Ada yang membanggakan ada yang tidak. Sehingga proses saling mengenal yang tak didahului oleh kesiapan untuk menerima hanya akan melahirkan perasaan kecewa, yang jika ditumpuk lama-lama akan sangat berbahaya.
Jadi, jika saya yang hina dan penuh dosa ini boleh memilih satu nasihat untuk disampaikan kepada teman-teman yang hendak menikah, barangkali pesan saya seperti ini:
Daripada kita habiskan waktu bertahun-tahun untuk saling mengenal, padahal itu tidak menjamin apa-apa kecuali peluang untuk melakukan dosa, lebih baik kita membangun kesiapan untuk menerima. Sehingga siapa pun yang kelak menjadi teman kita dalam membina rumah tangga, apakah kita sudah begitu mengenalnya atau baru sekadar tahu nama, ia akan bahagia karena kesediaan kita menerima ketidaksempurnaanya. Bahwa di dalam diri kita ada jiwa yang begitu lapang, yang siap menampung berbagai cerita, mimpi, amarah, keluh, kesah, luka dan air mata.
:“”’)
"Membangun kesiapan untuk menerima." 😂
Malas
Pagi yang malas Tapi memaksaku untuk bergegas Ada yang harus kupangkas Tugas
Buku Biasa
Dari berbagai macam buku yang aku punya, ada satu yang istimewa. Bukan buku mahal. Hanya buku tulis biasa. Bahkan kertasnya sudah lusuh dan terdapat tanda bekas sobekan di sana-sini. Ia hanya buku tulis biasa, sampai pada saat aku menuliskan berbagai kata dan menjadi rangkaian kalimat di dalamnya, buku tulis itu menjadi istimewa. Istimewa, karena seluruhnya tentang dia di sana. Belum pernah ada yang menyentuhnya selain aku. Sebegitu istimewanya, hingga aku, hanya ingin dia yang membacanya, atau tidak sama sekali, untuk siapa pun.
Buku itu masih istimewa. Selalu istimewa. Sampai pada suatu hari, buku itu memberikan kesedihan padaku. Setiap kata di dalamnya begitu indah, mengingatkan aku padanya. Aku tergores oleh pisau yang kuasah sendiri. Ironi.
Sudah lumayan lama aku berhenti menulis di buku itu, belum sampai penuh. Akhirnya, buku itu kusimpan di tempat yang beberapa kali aku melirik ke arahnya ketika ingin pergi tidur. Tepat di sudut kamar bersama tumpukan barang yang lainnya. Jika menemukannya, sesekali kubuka.
Butuh keberanian dan kekuatan untuk membuka lalu membacanya. Iya, karena aku harus siap di ombang-ambingkan oleh perasaan yang kubuat sendiri di dalamnya. Kadang dadaku terasa sesak akan kenangannya. Tak jarang bibirku menyunggingkan senyum, meskipun ragu, karena merasakan kebahagiaan juga kesedihan di waktu yang sama. Entah mana yang lebih dominan. Namun, aku menikmatinya. Sebab, sangat perlu untuk aku berdamai dengan waktu yang lalu. Dan, kurasa, aku bisa.
Kemudian, aku, menamainya ‘Buku Kita’.
Muak
Aku muak Dengan semua tuak Kita hanya bisa terbelalak Entah kapan semua akan terkuak
Bangun. Kamu berhak bahagia, Rima.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Apakah 'hadiah terindah' itu dari seseorang yang aku harapkan? Atau dari seseorang yang baru Tuhan hadirkan? Siapa pun itu, semoga yang terbaik dari Tuhan.
Tuhan, aku ingin Engkau membuka salah satu rahasia yang Engkau punya kepadaku. Satu saja. Tentang siapa yang menjadi jodohku kelak.
Aku menantikan sebuah hadiah terindah dari seseorang. Di mana aku dan dia akan hidup bersama selamanya.
Jangan sedih, kamu, kalau sedih belikan aku es krim.
Rim
Ayah
Cahaya matanya mulai redup Bersyukur hatinya masih berdegup Mataku tak akan terkatup Aku ingin cahaya di matanya terus hidup Mungkin aku telah menyakitinya Memilih organisasi daripada bertemu dengannya Aku ingin berhenti menyakitinya Aku akan lebih banyak meluangkan waktuku bersamanya Lekas sembuh, Ayah. Maafkan Rima....

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Maaf Dariku
Perkenalkan, akulah manusia Yang katanya 'tidak pernah luput dari kesalahan' Maukah kamu memaafkannya? Atas apa yang telah kulakukan.... Maafkan aku yang mungkin mengecewakanmu Membuatmu ragu Tapi percayalah padaku Sedikitpun aku tak pernah mencoba mengkhianatimu Maafkan aku yang tak lagi mengerti perasaanku. Ketika kamu membiarkanku pergi, aku tak tahu ke mana tuk langkahkan kaki. Akhirnya kuhanya berdiri kaku. Namun ketika kamu kembali, pijakanku tak sekuat dulu lagi. Maafkan aku yang terjebak di kenangan kita Kadang kumenangis, kadang kutertawa Kadang kumencoba pergi, tapi tak bisa Akhirnya kuhanya diam, menunggu kamu atau seseorang yang baru tuk mengulurkan tangannya Maafkan aku yang tak bisa menumpahkan semuanya di sini Terlalu pribadi dan ironi Oh, aku merasa kekanakan sekali Bolehkah kuhentikan tulisan ini?
Terima Kasih
Sebegitu besarnya usahamu untuk mematikan perasaan ini. Terima kasih atas semua tawa dan air mata yang kau beri. Terima kasih telah membangun dan menghancurkan hati yang sama berkali-kali. Sekali lagi, terima kasih.