“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
Game of Thrones Daily

JVL

oozey mess
The Stonewall Inn

blake kathryn
occasionally subtle
Fai_Ryy

PR's Tumblrdome
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
art blog(derogatory)
cherry valley forever
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Not today Justin
tumblr dot com
will byers stan first human second
🩵 avery cochrane 🩵
todays bird
$LAYYYTER
ojovivo

seen from United States

seen from Norway
seen from Slovenia
seen from Norway

seen from Canada

seen from Singapore
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from Türkiye

seen from Netherlands

seen from Japan

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States
@riuhdalamkepala
“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Selamat mas 😊
Aku sering berpikir berulang kali sebelum menelan obat saat sakit. Seolah ingin tahu, sampai sejauh mana tubuh ini bisa bertahan tanpa bantuan apa pun. Kadang aku merasa kuat, kadang hanya sedang menunda.
Saat flu atau radang tenggorokan datang, aku tak banyak menunggu. Aku tahu, kalau dibiarkan, tubuh akan melemah dan hari-hariku ikut terhenti. Tapi pada sakit yang lain—yang tak jelas asalnya dan tak punya gejala pasti—aku masih sering menunda.
Kini, sebungkus obat selalu ada di tasku. Kubawa ke mana pun, seperti bentuk kecil dari rasa waspada. Setiap kali nyeri itu datang, aku menimbang lagi: apakah ini masih bisa kutahan, atau sudah waktunya berhenti berpura-pura baik-baik saja.
Awalnya motivasi sekolah hanya lahir dari rasa lelah: jaga malam di IGD, lalu tergesa-gesa ngebut ke RS lain untuk jaga pagi, disambung lagi dengan jaga siang di klinik.
Sering termenung, mudah mengeluh,
“Apakah sampai tua akan begini?”
Lancang sekali aku menebak takdir, padahal baru enam bulan bekerja sebagai dokter umum.
Nyatanya, setelah masuk PPDS, waktu termenung justru lebih banyak. Apalagi ketika di sela tugas, tanpa sengaja melihat status teman-teman lama yang bisa berkumpul, jalan-jalan ke luar kota, menginap bersama.
Rasa sepi kian menusuk, dinginnya menyalin ke dalam dada. Untung ada segelintir orang terpilih, yang berlapang hati menyimak tangisanku.
Siapa sangka, keluhan tak punya waktu liburan itu diganti Allah dengan memberikan Anak Sumatera ini hadiah dua bulan tinggal di Pulau Halmahera Utara. Bukan sekadar berkunjung, tapi benar-benar menetap bahkan bertugas sementara di tempat yang dulu bahkan tak pernah kubayangkan.
Di sana, aku menyaksikan langsung pemandangan pulau-pulau indah—yang dulu hanya kuanggap gambar dalam lukisan dinding yang terpajang di rumah-rumah lama.
Menatap langsung Pulau Ternate dan Tidore, nama yang dulu hanya kukenal lewat pelajaran sejarah sebagai tanah rempah yang diperebutkan penjajah. Kini, mataku sendiri yang memandanginya.
Belum lagi tak berhenti takjub, melihat ikan-ikan hias berwarna-warni berenang bebas, sesuatu yang sebelumnya hanya ku lihat di buku biologi sekolah.
Siapa sangka, di ujung dunia yang dulu tak pernah kuimpikan, aku justru menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Dan aku pun sadar, perjalanan ini bukan kebetulan—ia adalah jawaban halus dari doa-doa yang dulu hanya terucap dalam letih.
Pengalaman ini mengajarkanku, bahwa setiap lelah dan sepi bisa jadi pintu menuju hadiah yang tak pernah kita duga. Setiap dari kita akan punya jalannya sendiri untuk menemukan arti pulang.
Sampai beberapa waktu lalu, aku pernah menyimpan trauma pada satu nada dering. Nada itu khusus kupilih untuk menandai setiap pesan darimu. Hampir setiap malam aku menantinya—membiarkan dentingnya membangunkan tidurku, berharap ia memecah konsentrasiku saat mendengarkan presentasi teman, atau menyelinap di antara hiruk-pikuk klakson di jalan.
Namun, sudah sekian lama aku tak lagi mendengar nada yang begitu kurindukan itu, sampai-sampai kini hanya gema imajinasiku yang bisa menghadirkannya kembali.
Barangkali memang begitu cara rinduku bekerja—menyimpan suara yang telah lama hilang, agar tetap bisa kudengar dalam diam.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Di rumah, buah-buahan yang disimpan jarang disentuh, kecuali ketika Papa mulai duduk dan mengupasnya. Saat itu, kami pun mendekat, menunggu giliran diberikan potongan mangga atau semangkuk semangka dan melon yang sudah dipotong-potong.
Sesekali, Papa menggerutu, "Kalau nggak dikupasin, kok ini buah nggak ada yang makan." Sambil terus melanjutkan kegiatannya mengupas buah.
Saat kuliah, aku punya seorang teman bernama Cida. Setiap kali kami berkunjung ke kosannya, dia akan mengupas semua stok buahnya untuk kami. Favoritku? Jeruk Gerga Kerinci.
Akhirnya, hal ini menjadi lelucon di antara kami. Kalau ditanya ingin punya pasangan seperti apa, aku akan menjawab,
"Yang mau dan suka mengupas buah."
"Laah, itu mamang rujak depan kampus juga suka kupasin buah," balas teman-temanku.
Lalu kami tertawa bersama, setiap ketemu mamang buah, mereka pasti menyenggolku,
"Mamang buah, Din..."
Semakin dewasa, aku sadar bahwa mengupas jeruk atau memotongkan semangka ternyata tidak sesederhana itu.
Sering kali, kita menganggap hal yang sederhana adalah sesuatu yang mudah dan seharusnya dilakukan begitu saja. Tapi ketika seseorang bersedia melakukannya untuk kita, bukankah itu justru menyenangkan?
Jadi, jika ditanya sekarang laki-laki seperti apa yang aku inginkan, jawabanku sederhana:
"Laki-laki yang mau memotongkan buah untukku, dan aku pun bersedia mengupaskan buah untuknya nanti."
Di stase bulan lalu, di perawatan jiwa, di rawat seorang pasien perempuan usia 24 tahun, masuk dengan depresi berat karena memiliki ide bunuh diri yang beberapa kali bahkan sudah ia lakukan.
Dengan rentang umur yang tidak jauh denganku, sedikit banyak aku bisa memahami stressor yang Ia miliki.
Perasaan sedih dan tak berdaya karena tidak memiliki pekerjaan setelah sebelumnya bermasalah di tempat kerja yang lama, merasa merepotkan kedua orang tua di umur yang tak lagi kecil.
ini memang tampak sebagai stressor sederhana bagi sebagian orang, tapi bagi orang dengan gangguan neurotransmitter di kepalanya, ini bisa jadi 'api besar'.
Saat itu ku coba sampaikan padanya dari sudut pandangku, bahwa:
'Anggap saja sekarang Tuhan sedang kasih waktu kamu untuk beristirahat, waktu untuk fokus pada diri mu sendiri, kamu bisa lakukan hal-hal yang kamu sukai, bisa punya banyak waktu bersama keluarga dan orang yang kamu cintai. Semua ada waktunya masing-masing kok. Banyak juga orang yang sudah berkerja, kangen momen 'istirahat'nya tapi ngga bisa, sekarang kamu lagi di kasih momen itu sama Tuhan. Jadi fokus saja sama kesembuhanmu dulu, nanti ada waktunya lagi Tuhan kasih kamu waktu berkerja, saat kamu sudah siap.'
Secara tak sadar, seakan sedang 'menceramahi diri sendiri.'
Lalu berselang waktu, tak lama DPJP utama visite pasien yang sama, Ia sampaikan juga nasihat, tentu dari sudut pandangnya.
'Bagi orangtua mu, dengan kamu ada di sisinya, membantu di rumah dan baik-baik saja sudah sangat membahagiakan. Bersyukur dirimu tidak perlu dibiyayain lagi, sekolah sudah selesai. Anak saya bahkan umurnya jauh di atasmu, sedang lanjut sekolah spesialis, jangankan berkerja dan menghasilkan uang, untuk kebutuhannya sehari-hari saja masih harus saya yang cukupi. Coba tanya itu (menunjuk kami para residen dan koas yang menemani), sudah sebesar-besar mereka ini, jajannya pasti masih minta sama orang tua.'
Yang ditunjuk hanya cengengesan sambil garuk-garuk kepala. 😅
Tersadar. Dari satu masalah yang sama, ada banyak sekali sisi positif yang bisa kita ambil hikmahnya.
Hidup memang tentang proses dan perjalanan, dan setiap momen memiliki tujuannya masing-masing.
Manusia sebagai hamba, tak patut untuk berputus asa pada rencanaNya. Tak layak untuk berprasangka buruk pada ketetapanNya.
Pernah dengar sebuah ceramah ustadz, yang kurang lebih mengatakan:
'Kita bisa mempercayakan pada pilot yang mengemudikan pesawat, bahwa pilot tersebut apapun hambatannya akan membawa kita ke tempat tujuan, padahal kita tak mengenal siapa pilot itu. Tapi kenapa kita tidak bisa mempercayakan hidup kita kepada Allah yang kita kenal."
Apapun yang kita lalui tiap detiknya, jalan-jalan yang kita tapaki, orang-orang yang kita temui, semua berada di bawah ketetapan Allah.
Mungkin kita tidak tahu "kenapa" atau "kapan," tetapi keyakinan bahwa setiap ketetapan-Nya membawa kebaikan adalah sumber kekuatan untuk terus melangkah.
Kindly reminder,
Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman. (Qs. Ali-Imran:139)
Serapuh apapun kamu, se-lelah apapun kamu, kalau sudah ditakdirkan untuk kuat, pasti akan kuat,
Kamu akan bertahan, sampai pada akhirnya, kamu tidak menyangka telah bertahan sejauh ini..
Kata orang, menulislah dengan kondisi hati yang terbaik.
Ketika sedih, kecewa, marah, bahagia, rindu, patah hati. Menulislah.
Tapi, tolong tanyakan ketika aku bersedih, tapi tidak ada tulisan apapun yang kutulis. Sebesar apa kesedihanku?
Hi apa kabar
Gak baik..

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
[Cintanya besar-besaran, meski mesranya kecil-kecilan.. ]
Di umur mu sekarang, kamu menyadari bahwa betapa menenangkannya mengetahui ada telinga yang siap mendengar keluh kesahmu.
Betapa menyenangkannya ditanya "Gimana kabarnya hari ini?"
Mendapatkan pernyataan maaf, dihargai dan diapresiasi untuk tiap hal baik yang kamu capai.
Pertanyaan dan pernyataan sepele yang mungkin dulu terasa asing.
Di umur sekarang, kamu menyadari bahwa banyak anak yang berakhir terganggu mentalnya karena merasa diabaikan, merasa tak sanggup memikul beban yang terasa berat dipundaknya.
Maka sekarang belajarlah menjadi telinga tersebut untuk orang lain yang membutuhkanmu, ya :)
Atas tiap malam-malam yang terasa panjang, pada bagian diri yang memelas merasa tidak pantas untuk apapun dan siapapun, kamu akhirnya belajar untuk menerima dirimu sendiri.
Maklumilah dirimu sendiri, "dulu belum punya ilmunya.."
Maklumilah setiap orang yang menyakiti perasaanmu, "Tiap sikap manusia pasti ada psikodinamika yang mendasarinya."
Peluk erat untuk tiap diri kecil kita, yang dulu terasa mau tumpah.
--
Hari ini, peluklah dirimu sendiri lebih erat. Kuatkan ia dengan doa-doa dan keyakinan baik pada Dia yang telah menciptakanmu dalam bentuk sebaik-baiknya dan takdir terbaik-Nya.
Selamat memetik banyak berkah dan hikmah dibalik setiap langkah sulit yang sedang datang menghampiri.
Kuat-kuatlah hati, sehat-sehatlah diri. 🤎
Aku ingin sekali bisa mengingatmu tanpa meneteskan airmata...
Maaf..
Pada akhirnya aku memilih sembunyi.
Aku takut kecewa dengan ekspektasiku.
Aku takut kamu tidak menepati janjimu lagi, lalu yang tersisa di kenanganku adalah kamu yang menyakitiku.
Aku bisa makan apa saja (asalkan halal). Kalau ditanya mau makan apa dan aku menjawab "terserah," artinya benar-benar terserah karena aku suka diajak makan apa pun.
Pilihan yang tersisa hanya soal apakah aku ingin memakannya atau tidak.
Contohnya durian. Aku bisa makan durian, tapi lebih sering memilih untuk tidak memakannya. Bukan karena alasan tertentu, hanya saja tidak mau. Namun, ada olahan durian yang kusukai, seperti sambal tempoyak buatan mama atau es potong rasa durian. Selain itu, biasanya aku hanya memakannya sebagai bentuk keramah-tamahan, itupun cukup 1–2 potong saja.
Siang ini, tiba-tiba seorang senior membawakan dua gelas cendol—satu untuknya dan satu untukku. Saat kucicipi, rasa durian langsung menyebar di seluruh indera pengecapku. Kurasa ini pertama kalinya aku mencicipi cendol durian, meskipun menu itu sering disajikan untuk berbuka puasa di rumah.
Satu teguk, dua teguk, tiga teguk...
"Yah, not bad. Enak juga." pikirku.
Tapi, apakah besok aku akan membelinya untuk diriku sendiri? Tentu tidak. Cukup sekali ini saja.
Hehe, sayang, ini bukan hanya tentang durian.
Bagian dari ujian
"Nak, ummi ingin berpesan"
Suatu saat apabila engkau dapati beberapa hal yang rasanya tidak membuatmu nyaman di hati, atau barangkali membuat mu terluka dan menitikkan air mata,
Tenangkanlah hatimu, ikhlaskan hal itu, jangan terlalu lama disimpan dalam hati,
Ingatlah, seseorang yang memebuatmu menitikkan air mata karena rasa kesal dalam hati itu, hanyalah seorang manusia.
Ingatlah, bahwa kita diuji oleh sesama manusia, pun kita juga sama, kita adalah bagian ujian bagi orang lain
Ingatlah, untuk selalu membeningkan hatimu, memurnikan adab dan akhlakmu, melepaskan segala penat itu dengan tarikan nafas dan kesadaran, bahwa ketenangan itu ada dalam hati, dan kitalah yang menciptakannya,
Maafkanlah, maklumilah, bersabarlah walaupun berat, karena bisa jadi, suatu saat kita yang menjadi ujian untuk nya.
Sungguh indah bukan, Nak?
#pesanmasadepan_fiqh sosial

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku pernah mencintainya, dan perasaan itu masih ada. Namun aku dengan sangat sadar untuk berhenti berharap bahwa dia akan membalasnya.
Aku sadar, segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan membawa kebaikan. Dia masih ada di dalam doaku, namun isinya bukan lagi tentang keinginan untuk bersama, tapi doa yang berisi kebaikan dimanapun dia berada.
Aku sangat sadar, aku tak ingin memberatkan perasaannya padaku, seseorang yang bukan lagi dia mau.
Biarlah, janjinya akan tetap ku kenang sebagai kata-kata indah yang pernah dia ucapkan. Karena jika dilihat dari sisi manapun, kehadirannya banyak membawa kebaikan-kebaikan yang tak akan pernah terlupakan.
Tuan, terima kasih atas banyak pelajaran yang tuan bawa. Saat ini, aku terpaksa menutup buku yang belum selesai aku baca, dan menyimpannya ke dalam rak yang bernama kenangan.
It's time to go :)