Menulislah! karena saya suruh kamu menulis.
Al Huriah, 2018
we're not kids anymore.

@theartofmadeline
KIROKAZE
𓃗
almost home
Cosimo Galluzzi

★
Jules of Nature
Today's Document
todays bird
hello vonnie
🩵 avery cochrane 🩵

⁂
Lint Roller? I Barely Know Her
Peter Solarz

roma★

❣ Chile in a Photography ❣
d e v o n
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Not today Justin

seen from South Africa
seen from United States

seen from Italy
seen from Canada

seen from Australia

seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Australia
seen from Netherlands
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Finland
seen from Russia
seen from United States
seen from Canada

seen from United States
seen from Brazil
seen from Türkiye
@rindudirindulangit
Menulislah! karena saya suruh kamu menulis.
Al Huriah, 2018

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Kirana, kau harus selalu ingat ini. tidak mengatakan yang sebenarnya tidak sama dengan mengatakan yang tidak sebenarnya. ada hal-hal yang tidak perlu dikatakan karena itu lebih baik.”
“karena baju kejujuran tidak sama dengan kotak kebenaran?”
Banyu mengangguk kecil, “Kirana, jika kebenaran adalah untuk semua orang, sesungguhnya kejujuran hanyalah untuk dirimu sendiri.”
Kica melekati ujung-ujung sepatunya. dia tahu apa yang tak perlu dikatakannya–tetapi tetap dirasakannya.
“terima kasih, Bi. aku sekarang paham kenapa aku memilih menulis. jujur pada diri sendiri itu kita yang perlu.”
“orang lain tidak harus tahu semuanya, tetapi…”
“tetapi kita harus jujur akan segalanya.”
MasyaaAllah.. Of course me
Kalau kita lagi sibuk ngurusin urusan pribadi, Kalau kita lagi mager buat bantuin orang lain, Kalau kita ngerasa takut kebutuhan kita ga tercukup kalau bantu orang lain, Kalau kita takut tujuan kita ga tercapai karena waktu kita terpakai buat orang lain, Kalau kita seneng ngomongin orang lain, Kalau kita males-malesan kuliah atau datang ke kajian, Coba inget lagi ini yak! Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi-red), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.” HR. Muslim
Pursuing a Degree Abroad: Antara Dua Kebaikan
“Kak, waktu itu gimana caranya Kakak meyakinkan orang tua untuk memberikan restu sehingga Kakak bisa kuliah di luar?”
Saya tersenyum. Saya tahu arah pertanyaan adik kelas saya ini, karena kami sama-sama perempuan.
Menikah dulu, atau lanjut kuliah (di luar) dulu. Dua hal ini suka membuat galau sebagian besar kaum hawa yang baru merampungkan pendidikan sarjananya.
Kuliah di luar negeri tentu menawarkan pembelajaran hidup yang luar biasa, yang harapannya akan berguna untuk kehidupan setelah menikah nanti. Berlatih hidup mandiri, banyak mencoba menu masakan baru, belajar memahami budaya orang lain, berusaha tidak takut untuk menjelajah kemana-mana. Tentu lifeskill seperti ini tidak bisa dipelajari secara teoretis dari dalam kelas. Dan kuliah ke luar negeri adalah salah satu akselerator untuk bisa menguasai keterampilan-keterampilan hidup itu. Jauh dari orang tua, jauh dari sahabat yang siap siaga membantu, jauh dari zona nyaman yang terkadang menghambat kemampuan belajar seseorang. Menarik memang, tapi pertanyaannya, kalau saya kuliah tinggi-tinggi, ada nggak ya laki-laki yang mau sama saya?
Menikah setelah lulus juga terlihat oke. Bukankah lebih enak kalau ke luar negerinya bersama suami? Ada teman yang bisa diajak ngobrol, ada yang mendukung kalau lagi susah kuliahnya, ada yang masakin kalau lagi riweh sama tugas, ada yang bantuin bawa belanjaan yang berat setiap minggu *eh. Seru kelihatannya, tapi pertanyaannya, akankah suami mendukung rencana untuk kuliah lagi? Apakah itu akan sejalan dengan cita-cita dan pekerjaannya? Bagaimana kalau akhirnya kita terpaksa long distance marriage?
Duh rasanya kok banyak sekali ya pertimbangannya.
Kembali ke pertanyaan adik kelas saya itu lagi, jawabannya adalah “Alhamdulillah, saya tidak mengalami hambatan ketika meminta izin dari orang tua.” Ayah sangat mendukung anak-anaknya untuk belajar setinggi-tingginya. Kalau Mumi selalu manut dan ngikut Ayah. Jadi kalau Ayah oke, Mumi pun oke. Mereka justru senang sekali saat pertama kali tahu saya diterima di salah satu universitas di Taiwan, terlebih ketika saya pada akhirnya diterima di universitas di Jerman.
Mungkin karena saat itu saya masih S2. Hanya 2 tahun. Bagaimana kejadiannya saat saya meminta izin untuk S3 selama 4 tahun?
Malam itu, saya membuka HP dan melihat ada email masuk. Ternyata isinya penerimaan dari universitas di Belanda terkait aplikasi S3 saya. Alhamdulillah, saya langsung sujud syukur. Inikah jawaban dariMu ya Rabb? Saya senang, tapi sekaligus khawatir. Saya belum yakin, siapkah saya untuk S3?
Tentu dua orang pertama yang saya beri kabar ini adalah Mumi dan Ayah. Saya segera ke ruang keluarga, memberikan email itu ke mereka berdua. Komentar Ayah setelah membaca emailnya adalah, “Ambil aja Mbak. Ambil aja. Bismillah.” Mantap sekali jawabannya. Kalau Mumi masih diam. Saya seperti bisa membaca apa yang ada di pikirannya. Karena kami sama-sama perempuan. Tapi selang beberapa hari Mumi juga mantap untuk ‘melepas’ saya lagi. Bahkan Mumi yang mengingatkan saya untuk segera membalas email itu.
Setelah istikharah lagi, saya kirim jawaban ke email itu. Bismillah, saya ambil tawaran S3 tersebut.
Kalau saya ditanya tentang ketakutan-ketakutan perempuan yang sekolah (lagi), maka saya akan jawab, “Tentu saja ada sebersit ketakutan itu..”
Tapi kemudian saya teringat tentang sebuah nasihat dari guru saya di Rumah Kepemimpinan, “Jangan suka membentur-benturkan dua kebaikan.”
Beberapa hari sebelum berangkat ke Belanda, Ayah juga sempat berpesan hal yang serupa, “Mbak, Ayah ini memberikan izin kamu sekolah lagi bukan agar kamu tidak memikirkan untuk menikah. Ayah juga nggak mau tidak mengizinkan kamu sekolah karena alasan menikah. Sekolah tidak menghalangi menikah, dan menikah tidak menghalangi sekolah.” Begitu kurang lebih pesannya.
Alhamdulillah saya memiliki Ayah dan Mumi yang tidak “mengompor-ngompori” anaknya perihal ibadah untuk menggenapkan agama ini. Mereka tidak usil bertanya “kapan” atau “udah ada calon belum”, karena yang terpenting adalah doa dan usaha yang konkret. Ayah sendiri yang pernah bilang, “Ayah ini wali kamu Mbak. Jadi Ayah yang punya tanggung jawab untuk mencarikan dan menikahkan kamu.”
Singkat cerita, saya pun berangkat ke Belanda di akhir tahun 2015. Dengan sedikit perasaan khawatir, tapi juga yakin kalau Allah pasti membantu hambaNya untuk berbuat baik. Dalam suatu hadis disebutkan,
“Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah: (1) mujahid fi sabilillah (orang yang berjihad di jalan Allah), (2) budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.”
Kalau menuntut ilmu bisa disetarakan dengan mujahid fi sabilillah, bukankah berarti seseorang yang pergi menuntut ilmu masuk ke dalam golongan manusia yang berhak mendapat pertolonganNya?
Dan benarlah Ia Zat Yang Maha Menepati Janji, saya pun mulai menjalani proses ta’aruf dengan Abang di bulan kedua PhD saya. Proses yang diperantarai oleh Ayah saya sendiri. Sekitar pertengahan tahun pertama PhD saya, saya kembali ke Indonesia. Saya mengambil cuti tiga minggu untuk menikah.
As I look back on my life, I realize that every time I thought I was being rejected from something good, I was actually being redirected to something better. You must convince your heart that whatever Allah has decreed is most appropriate and most beneficial for you. Imam Al-Ghazali
Kalau saya melihat lagi ke belakang, mungkin melanjutkan kuliah adalah cara Allah untuk mendewasakan saya sebelum menikah. Andai saya langsung menikah setelah lulus sarjana, tidak bisa dibayangkan bagaimana Abang harus ekstra bersabar mempunyai istri macam saya kala itu. Kemampuan masaknya masih nol, gak tahu kalau ternyata merica dan lada itu sama, masak nasi goreng pakai bumbu jadi pun keasinan. wkwkw.
So girls, jangan takut bin galau. Karena galau itu sinonimnya was-was, dan was-was itu dari setan. Minta petunjuk dari Allah lewat istikharah, minta restu dari orang tua, sisanya tinggal bismillah dan segeralah lakukan.
alhamdulillah, banyak baca yang macam begini, jadi insyaaAllah gak ragu buat melangkah. I'm not "was was"bin "galau" anymore.. BISMILLAH
Tulisan : Ketidaknyamanan
Kejujuran/kebenaran dan keterusterangan. Dua hal yang mungkin sering kita hindari. Sebab dua hal inilah yang membuat kita seringkali khawatir, cemas, dan berusaha keras mengingkarinya.
Pernahkah berusaha untuk terus terang kepada orang tua terkait keinginanmu, sementara mereka memiliki harapan yang lain? Atau pernahkah kamu mendapatkan kritik yang jujur dari seseorang atas segala sikap dan sifatmu, sementara kemudian kamu berusaha untuk menyangkal dan membuat pembenaran?
Pernahkah kamu jujur menyampaikan ketidaksukaan dan ketidakcocokanmu pada pimpinan, pada teman, orang-orang dekat?
Atau seperti, bagaimana kamu menyimpan segala bentuk cerita di masa lalumu. Bukankah rasanya sulit untuk jujur dan terus terang kepada orang-orang? Bukankah rasanya takut dan khawatir jika orang lain mengetahuinya?
Atau bagaimana rasanya jika kamu mendapati kebenaran atas seseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu, kala ia berterus terang padamu atau kamu mendengar kebenaran dari orang lain akan masa lalunya yang sulit kamu terima (juga keluarga seandainya mereka tahu). Bukankah kamu semakin khawatir untuk melanjutkan hubungan dengannya?
Kejujuran dan keterusterangan. Dua hal yang jarang diajarkan di kehidupan kita. Kita sibuk memendam prasangka, sibuk memendam ketidaksetujuan, mengkritik di belakang. Kita juga tidak diajarkan untuk siap menerima kejujuran dan keterusterangan dari orang lain. Tidak mudah memang, juga sulit untuk mengakui jika diri ini memang salah dan keliru. Kita sibuk menutup rapat kebenaran-kebenaran atas diri kita sendiri bahkan. Memanipulasi kebahagaiaan. Menenggelamkan diri dalam kepalsuan, ketidakjujuran, dan tertutup.
Rumah, 10 Februari 2017 | ©kurniawangunadi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kita pandai berkata-kata, tapi tidak pernah mahir dalam berbuat. Kita bisa menuliskan semua kata bijak, tapi belum tentu kita mampu bijak dalam bertindak.
Kata-kata terbaik yang bisa kita ciptakan adalah perbuatan baik.
©kurniawagunadi
Masih sulit tuk dilakoni
menempatkan kepercayaanmu.
©kurniawangunadi
Seseorang begitu tenang dalam menunggu, sebab dalam hatinya ada rasa percaya. Mengapa ada keresahan, kekhawatiran, kegelisahan? Karena tiadanya percaya. Tidak ada satu hal yang pasti memang, tapi rasa percaya mampu meredakan ketidakpastian.
Kau menunggunya, itu ketidakpastian. Kau mau percaya? Tidak ada satupun darinya yang bisa membuatmu percaya bahwa kau harus menunggu sekian lama. Jadi, meletakkan kepercayaan itu harus pada tempatnya.
Allah masih menjadi yang pertama, kan?
Dia masih yg pertama
Mempersilakan Dunia Mengetahui
Terbukalah pada dunia tentang dirimu. Saat kau cemas, jangan tutup kecemasanmu. Saat kau terluka, jangan berpura-pura bahagia. Saat kau sedang hancur, tidak perlu menutupinya seolah-olah segalanya baik-baik saja.
Dunia ini sudah cukup penuh oleh orang-orang yang sibuk memanipulasi dirinya. Menampilkan diri yang tidak sebenarnya, berbohong tidak hanya kepada diri sendiri, melainkan juga alam semesta.
Barangkali, inilah bagian terberatnya. Menerima keadaan diri, jujur pada orang lain, bagian itu adalah bagian yang seringkali mengusik dirimu. Sesudah keadaanmu selama ini. Tapi justru, disitulah kamu akan menemukan orang-orang yang tulus menerimamu, mendampinginmu sebisa mereka, juga menjadi orang-orang pertama yang hadir untukmu.
Tidak perlu berpura-pura bahwa segala baik-baik saja, masalah tidak akan pernah selesai dengan kepura-puraan. Jika tak mampu menghadapinya sendiri, mintalah bantuan.
Dari sana, kita akan belajar untuk berempati. Belajar untuk menerima kekurangan orang lain, bersedia membantu masalah mereka, memahami kekurangan-kekurangannya, meredakan kecemasannya, sampai pada bersedia menemaninya membangun dirinya yang hancur.
Sudah cukup rasanya untuk sibuk memikirkan diri sendiri, sudah cukup rasanya untuk merasa diri ini selalu hebat. Sudah cukup juga untuk berpura-pura bahagia. Biarkan dunia tahu keadaanmu :)
©kurniawangunadi
Wahai orang yang lembut hatinya, Aku tiada siapapun kecuali Allah dihatiku,
Noura (Ayat-Ayat Cinta)
Yang Luput Oleh Mata Bila kita sering mengasah hati, dipadukan dengan pengalaman hidup yang sarat, dan tentu bila Allah mengilhamkan pada kita, kita bisa membedakan manusia Mana yang ikhlas dan mana yang berpura-pura, mana kata-kata yang berasal dari hati dan mana yang dibuat-buat, mana yang pejuang dan mana yang pengkhianat Kita juga mampu menyadari mana yang teman dan mana yang hanya memanfaatkan, mana yang benar di jalan Allah dan mana yang hanya berbuat untuk dunianya Sebab di masa talbis, keburukan bisa ditopengi kebaikan, maksiat bisa dipoles pencitraan, layaknya dulu syaitan memakai baju malaikat hingga dikira menasihati Asah hatimu, maka engkau mampu menangkap bahasa hati, yang tak pernah bisa diungkapkan oleh kalimat, yang ditangkap oleh hati adalah yang dipancarkan jiwa Sering, dan akan terus terjadi, mereka yang berlagak di hadapan, tapi menelikung di belakang. Manis muka didepan, tapi meracuni saat kita lalai dan lengah Latih rasamu, maka engkau akan mampu melihat apa yang bisa disembunyikan kata dan wajah, sebab kata dan wajah tak selalu jujur, kawan tak mudah didapat Apalagi bila engkau mencintai Allah dan Rasul-Nya, sungguh-sungguh, maka akan terang-benderang bagimu, siapa yang benar, siapa yang munafik, siapa yang oportunis Duhai, semoga Allah jadikan kita memiliki kawan-kawan yang ikhlas, yang hanya mengharap ridha Allah, yang mendoakan kita dalam shalat mereka, walau bisa jadi tak jumpa
Ustadz Felix Siauw (via felixsiauw)
sering ngeri mendengar bahwa saudara di Palestina mendoakan duniaku baik-baik saja. Menangis.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Jangan Panggil Saya -Soleha”
Jangan panggil saya “Soleha”.
Karena saya “tidak” siap, bahkan bukan “belum” siap, tetapi “tidak”. Selamanya saya akan merasa tidak siap ketika mendengar panggilan itu. Jika memang panggilan itu pernah ditujukan pada saya, ada gemuruh dalam hati. Entah itu tanda hati ini malu atau masih tidak terima akan itu. Karena, hanya Allah dan hati ini yang tahu bagaimana ‘isi’ sebenarnya dalam diri ini. Hmm, berat.
Bisa saja, ketika kamu mengira saya soleha, ternyata jumlah salat di awal waktu masih tak sebanyak dirimu. Bisa saja, ketika kamu mengira saya soleha, ternyata untuk menghadiri taman syurga masih lebih ringan langkahmu. Bisa saja, ketika kamu mengira saya soleha, ternyata lebih ikhlas dan khusyu’ salatmu. Bisa saja, ketika kamu mengira saya soleha, ternyata lebih basah sajadah tempatmu bersujud dari linangan airmatamu. Bisa saja, ketika kamu mengira saya soleha, ternyata sunyinya malam berbintang lebih bersahabat dennganmu. Bisa saja, ketika kamu mengira saya soleha, ternyata mulut ini tak lebih bisa terjaga daripada diammu. Subhaanallaah...
Pokoknya, saya ini tidak lebih seperti “Serigala berbulu Domba”. JIka kamu pernah menemui saya dengan khimar panjang dan kaus kaki, kamu tahu saya juga bagian dari anak SKI, yang tontonannya tausiyah di YouTube hampir tiap hari. Berarti memang Allah Maha Rahiim pada saya, memberikan kesempatan bahwa memang saya bisa sebaik prasangkamu. Tapi, bukan karena pakaian, kumpulan, dan hampir semua sikap saya lagaknya seperti orang yang “katanya” suci, bukan berarti saya sudah hebat.
Saya tetap sangat butuh nasehatmu. Sungguh!
Jangan panggil saya -Soleha
Al-Naf
doc. Nikahan Nimas | 14 Oct ‘17
“Kamu akan ada di pernikahanku nanti, namun bukan di barisan tamu.”
Barisan kalimat ini sempat membuat saya bingung, dan berpikir sejenak kala itu sambil menenangkan hati. Berani-beraninya dia membuat hati perempuan terlalu lama kasmaran dengan kata-kata yang mudah sekali melangit, padahal ia tak lain adalah gumpalan asap yang tak lama akan menghilang. (foto tidak menggambarkan caption)
Coba jawab!
Jika kamu berada di posisi perempuan tersebut, apa yang paling akan kamu pikirkan seketika itu? -menjadi wanita paling bahagia di panggung pelaminan bersanding dengannya atau bisa saja ia meminta bantuan untuk menjadi juru masak? kan, tidak ada di barisan tamu. Bisa di depan, bisa di belakang (?) lol
Begini, Hijrah itu sulit. Bukan hanya tidak mudah. Kawan, ketika kita sudah mencium harumnya, melihat indahnya, merasakan sejuknya berhijrah, kita sedang jatuh cinta pada kondisi itu.
Ketika kita jatuh cinta kepada keputusan kita. Mulai menitihkan embun dari gelapnya masa lalu, mengapa semua itu harus diuji? Kita sadar semakin lama waktu dari kita beranjak dulu, semakin terasa menyenangkan. Syukur mengalir membalut lidah. Tak sadarkah? Ujian itu semakin mendekat. Sedekat detak jantung kita. Jika di awal waktu berhijrah kita ditemani silatan lidah para pencemooh dan pembenci rahmat Allah, kini di tingkatan yang semakin meninggi tak sadarkah? tak sadarkah? tak sadarkah? tak sadar kan?
Jika Allah benar-benar menguji ke-hijrah-an seseorang.
Apakah tangisan ini benar-benar untuk-Nya? Apakah dzikir ini benar untuk memuja-Nya? Apakah pikiran ini tak lepas dari kebesaran-Nya? Apakah amal ini murni menginginkan perhatian-Nya? Apakah yang menggetarkan jasmani ini adalah asma-Nya? Apakah itu? Apakah itu?
Jika aku berani jujur, dengan lantang aku berkata “Tidak!” Aku tak sehebat itu, tapi aku mengambisikan itu. Jika di awal waktu berhijrah aku ditemani silatan lidah para pencemooh dan pembenci rahmat Allah, kini di pertengahan jalan ditemani silatan hati-bisikan yang menggundahkan setiap bibit Cinta yang dulu pernah tumbuh, yang pernah kusemai dengan penuh hati-hati.
Kawan, jika kamu para peng-Hijrah. Sama. Kawan, jika kamu para peng-Hijrah. Ketuk pundakku. Beritahu padaku bahwa aku tak sendiri. Kawan, jika kamu para peng-Hijrah. Genggam tanganku. Ajak aku kemanapun kau suka, asalkan ke jalan Allah yaa. Kawan, jika kamu para peng-Hijrah. Peluk aku. Aku kadang menggigil ketakutan karena lingkungan, bahkan otakku sendiri membuatku gila. Aku butuh kehangatan sebuah tekad. Karena tekadku entah mengapa mudah musnah tanpa penggenap. Kawan, jika kamu para peng-Hijrah. Tampar aku. Keras. Ketika aku mulai lupa walaupun selangkah, bahkan sejengkal. Kamu tahu kan? Jauh sedikit dari-Nya sangat menyebalkan, membuatku bingung sekaligus rindu. Kawan, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku takut akan peribahasa ‘Serigala Berbulu Domba’. Aku takut ketika hatiku membenarkan hal itu ada padaku.
Dan.. akhir-akhir ini aku melihat bahwa kamu lah Sang Fajar di pagi hari yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh semua orang, kamu lah Lautan yang dinanti-nanti oleh sungai tuk bermuara, kamu lah Hujan yang yang kedatangannya diharapkan tanah kering, kamu lah Titik Cahaya yang membinarkan kegelapan dalam sebuah goa, aku pun malu. Aku lah orang itu, sungai itu, tanah kering itu, dan goa itu.
Jadi kawan, jika aku sudah mulai tersamarkan oleh silaunya cahaya kehidupan, hilang, bahkan lenyap. Bisa kah aku titip salam untuk Allah? bahwa dulu aku pernah merindu-Nya :’)
Rasa kagummu kepada seseorang tidak akan mengantarkanmu kepada orang tsb kecuali kamu menjadikan langkahmu bergegas ke arahnya. Menjadi perjuangan-perjuangan kecil yang mungkin akan memantik doa-doa yang besar. Kekaguman yang kamu wujudkan menjadi tindakan baik. Setidaknya, jika kamu tidak bisa bersama orang yang kamu kagumi, ia berhasil menjadi alasanmu untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
apakah berlaku untuk si Venus ini juga, kak?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sedari Dulu
Kalau kita tidak luluh oleh kebaikannya selama ini, bagaimana kita bisa luluh oleh kebaikan dari yang lain? Kalau kita bisa begitu keras berusaha menyenangkan dan membahagiakan yang asing, bagaimana mungkin kita tidak berupaya untuk membahagiakannya?
Bagaimana mungkin kepercayaan kita bisa berpindah kepada yang baru kita kenal, padahal ada yang sudah begitu percaya kepada kita sedari dulu? Kalau kita bisa tampil terbaik dihadapan yang lain, bagaimana mungkin kita selalu tampak lusuh dimatanya?
Entah bagaimana aku berusaha memahami apa yang sedang kamu perbuat. Padahal mereka ada sejak lama, mengorbankan lebih banyak dari siapapun, dan berusaha membuatmu bahagia lebih dari dirinya sendiri.
ialah ibu bapakmu. Seseorang yang sering kamu singkirkan ketika ada nama lain yang mengusik hatimu, membuatmu jatuh hati. Bagaimana mungkin kamu tidak jatuh hati kepada orang tuamu, orang yang melakukan jauh lebih banyak dari yang baru saja kamu kenal.
Yogyakarta, 24 Juli 2017 | ©kurniawangunadi
Fabi’ayyi aalaai robbikumaa tukadzibaan..