Tentang Kalah & Taubat, dan Pesan Terselubung Dibaliknya
Mari kita mulai tulisan ini dengan berandai-andai. Bayangkan kamu adalah sebuah pelatih dari sebuah tim besar sepakbola di suatu liga, dengan total 38 pertandingan harus dijalani.
Ekspektasi besar dari fans dan manajemen tim semua tinggi, yaitu membawa tim yang kamu latih agar juara di akhir kompetesi.
Artinya tiap pertandingan, kemenangan adalah hal mutlak yang harus diraih. Semua beban dan tanggungjawab itu, kini ada di pundakmu!
Kompetisi pun dimulai. Tim yang kamu latih, di 3 pertandingan awal berhasil menang, sempurna. Hasil yang sementara cukup untuk membuat kamu yakin dalam mengarungi kompetisi. Namun, tren positif itu ternyata tidak berlangsung lama.
Di pertandingan ke 5, tim kamu kalah. Tidak hanya sekali, bahkan tim kamu kalah 3 kali beruntun. Hasil yang membuat kamu merasa gagal, terpuruk, dan kecewa akan dirimu sendiri sebagai pelatih.
Tim kamu yang awalnya memimpin kompetisi, kini harus turun peringkat dan peluang juara pun terasa tertutup. Sebagai pelatih, kamu terus menerus dikritik oleh fans, dan terus disorot negatif oleh media.
Inilah momen dimana kamu rasanya ingin menyerah, atas kesalahan dan kegagalan yang dialami oleh tim kamu. TAK BERDAYA dan BINGUNG, terus menghantui jiwa dan pikiranmu.
Sebagai pelatih, kamu tersadar, yang kamu butuhkan saat ini satu-satunya adalah KEMENANGAN. Hal penting yang bisa jadi MOMENTUM KEBANGKITAN, agar bisa terus berjuang mencapai target di akhir kompetisi.
Meski kalah beruntun, pemilik klub dan manajemen tetap menaruh keyakinan kepadamu, dan yakin di pertandingan berikutnya, tim bisa meraih kembali kemenangan.
Kamu pun merasakan ada secercah optimisme.
Kesalahan dan kekalahan yang DISESALI DI MASA LALU, segera coba kamu introspeksi dan evaluasi. Satu tekad, agar kesalahan itu TIDAK TERULANG KEMBALI.
Pertandingan terdekat, akhirnya dimulai. Tim berhasil bermain kompak dan solid selama 90 menit. Lawan tak berkutik, hingga peluit panjang berbunyi. Akhirnyaaa, tim kamu berhasil meraih kemenangan penting.
Kamu dan tim merayakan kemenangan ini. Rasanya optimisme dan semangat kembali lagi. Hampir semua pertandingan selanjutnya bisa diraih dengan kemenangan. Yaa, akhirnya kamu menjadi juara di akhir kompetisi.
Dari hobi mengikuti dunia olahraga, terutama sepakbola.. membuatku menyadari akan suatu hal.
Hidup seorang muslim di dunia, layaknya individu/tim yang sedang berjuang di medan kompetisi yang panjang dan menguras mental serta tenaga.
Tak ada muslim sempurna, yang tak luput dari kesalahan dan dosa. Begitupula sebuah pemain/tim yang hebat sekalipun, pasti akan mengalami hasil tidak sempurna dalam suatu kompetisi.
Namun muslim yang baik, tidak menganggap kesalahan adalah akhir. Ia tidak akan membiarkan terus berada di lubang kekalahan, karena...
"Muslim yang baik akan terus memilih bangkit. Hamba yang berdosa akan selalu bersegara taubat. Karena ia tahu taubat adalah momen krusial untuk bisa bangkit kembali ke jalur kemenangan.
Iya, menuju kemenangan sejati yang telah Allah takdirkan kepada kita, sesuai panggilan 'Hayya 'alal falah' yang rutin lima kali sehari bergema, ke dalam relung telinga."
Begitupula ibarat tim yang kalah, tak ada kata menyerah. Kemenangan selanjutnya wajib diraih agar harapan itu tetap ada, untuk mencapai target juara di akhir kompetisi.
Taubat: Momen Penting Saat Genting
Taubat adalah urgensi untuk hamba-Nya yang melakukan kesalahan agar segera kembali ke jalan takwa.
Urgensi yang bernilai sama bagi sebuah tim yang kalah dan sedang terpuruk, untuk bisa segera meraih kemenangan dan terus di jalur juara.
Berbahagialah, karena tak ada air mata yang lebih indah, dibandingkan air mata taubat.
Sungguh indah taubat, karena ia bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya, sebagai wujud yang Maha Pengasih dan Maha Mengampuni. Wallahu'alam 😇