jam yang sama
setiap pagi, mereka tiba di stasiun pada waktu yang hampir selalu sama.
bukan karena janji. tidak pernah.
tapi keduanya tahu, seseorang akan berdiri di dekat tiang ketiga. headphone menggantung di leher. tangan di saku. pandangan sesekali melirik ke arah eskalator.
seseorang lainnya akan muncul dua menit sebelum kereta datang. langkah santai. ransel kecil. mata yang tak pernah terburu-buru.
mereka masuk ke gerbong tengah. berdiri di tempat yang sama. kadang berhadapan. kadang hanya saling melihat dari samping. pertama-tama tak ada sapa. hanya isyarat kecil yang makin lama makin ditunggu.
sampai suatu pagi,
—kita sering ketemu ya.
senyum kecil —iya. hampir tiap hari. pause —awalnya kupikir kebetulan. —sekarang? —sekarang kupikir... mungkin keretanya sengaja nunggu kita.
tawa kecil. dan sejak itu, tak ada lagi pura-pura asing.
mereka bicara setiap pagi, dari stasiun awal sampai turun di senayan. tidak panjang, tapi cukup untuk tertawa, bertanya hal-hal ringan, atau sekadar mengomentari cuaca.
—kerja di mana? —scbd. gedung seberang mall. —serius? aku juga. beda gedung berarti. —berarti kita tetangga. —lumayan. gampang janjian ngopi.
pulang pun sering bersamaan. sekitar jam tujuh malam, mereka kembali ke stasiun yang sama. kadang duduk sebentar di taman kecil pinggir jalan. minum kopi sachet. makan gorengan. cerita tentang hari yang lewat.
—kamu tahu? kita kayak playlist aneh. —playlist aneh? —lagu-lagunya acak. campur semua genre. tapi pas aja. —itu kamu yang aneh atau aku? —kamu. tapi aku suka dengerinnya.
kadang diam. kadang duduk berdampingan dengan satu lagu dari satu ponsel, dibagi ke dua telinga. kadang bahu bersentuhan, dan tak ada yang perlu dikatakan.
hubungan mereka tak pernah diberi nama. tapi terasa cukup.
seolah dunia tak perlu tahu apa-apa selama mereka tetap naik kereta yang sama, pada jam yang sama.
sampai suatu malam, yang satu tampak berbeda.
diam. sorot mata lelah. mulut tertutup sejak turun dari kantor.
—aku harus pindah. —pindah?
pause
—kerja. ke luar negeri. —ke mana? —tokyo. —berapa lama? —dua tahun. minimal.
sunyi. angin malam lewat perlahan. lampu taman menyinari tangan mereka yang terletak di pangkuan. dekat, tapi tak bersentuhan.
—aku senang buat kamu. —terima kasih. —tapi... kita?
lama tak ada jawaban.
—kita nggak pernah bilang “kita”, kan?
senyum kecil. lemah.
—tapi rasanya seperti ada sesuatu. —ada. tapi kadang... ada aja nggak cukup. —kenapa? —karena nggak semua hal yang terasa indah bisa dibawa jauh.
langkah mereka malam itu lebih lambat dari biasanya. jalan ke peron terasa panjang. kereta datang. mereka naik seperti biasa. berdiri di tempat yang sama. tapi tak banyak bicara.
pagi berikutnya,
hanya satu dari mereka yang muncul di peron.
masih dekat tiang ketiga. headphone tergantung. sunyi.
kereta tiba seperti biasa. pintu terbuka. angin dingin menyapa kulit.
dia masuk. sendirian.
dan pagi itu, waktu terasa lebih panjang. bukan karena perjalanan. tapi karena seseorang yang biasanya mengisi ruang— tak lagi ada.
















