Semua Ini Tentang Sudut Pandang
...ٱنظُرُوٓاْ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثۡمَرَ وَيَنۡعِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمۡ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ
...Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang beriman. (QS Al An'am 99)
***
Pada langit yang biru itu, bagi orang-orang biasa hanyalah penghias hari-hari, tak istimewa dan tak bermakna apa-apa. Tapi jika ia dilihat dengan mata hati yang hidup, langit itu menjadi pengingat baginya bahwa suatu saat birunya akan hilang dan meruntuh. Setelah itu, makinlah sadar ia bahwa bumi penuh gemerlap ini akan usai.
Pada air hujan yang turun itu, bagi orang biasa hanyalah pelengkap musim, yang membuat mereka harus bersiap esoknya memakai baju lebih hangat dan tak lupa membawa payung. Tapi bagi mata hati yang hidup, hujan jadi pengingat bahwa betapa mudahnya Allah menghidupkan tanah mati menjadi gembur; dan Dia kuasa pula menjadikan hujan sebagai tentara-Nya yang merobohkan keangkuhan manusia.
Pada buah-buahan yang ranum berwarna-warni, orang biasa melihatnya hanya sebatas komoditas dagang, dibeli, dijual lalu dimakan. Tak kurang dan tak lebih. Tapi bagi mereka yang hidup mata hatinya, akan sadar bahwa buah-buahan itu, dengan ajaibnya bisa memiliki aneka rasa, padahal air yang mengalirinya adalah air yang sama, tanah yang jadi tempat tumbuhnya adalah tanah yang sama. Maka kemudian ia sadar bahwa Allah-lah Mahakuasa pemberi citarasa.
Semua itu tentang sudut pandang.
Orang biasa melihatnya hanya sebatas rutinitas, orang bodoh melihatnya dengan celaan dan senda gurau, tapi orang beriman selalu punya cara mendapatkan inspirasi bahkan dari hal-hal yang sederhana, di hadapan matanya.
Bekasi, 26 September 2021














