Pernah nggak sih denger ada "kebohongan yg dibolehin", atau yg lebih sering dibilang "berbohong demi kebaikan"? Perbuatan yg identik dgn "nggak baik", tapi sebenernya? itu tu "baik".
Nah, kemaren banget aku ngalamin hal yang maknanya sama kek gini. Jadi, kemaren tu aku ngajar di kelas 1, dan disini ada anak cewek yg kalo diusik dikit tu suka nangis. Pas belajar, si cewek ini tiba2 nangis, nggak bisa diem, dan terus ngerengek ke aku sampek2 ngeganggu proses belajar anak2 lainnya. Terus, dari sana ada tuh si cewek ke 2 nyamperin kita didepan, dan ngajak ngobrol si cewek pertama. dan dari sana aku mulai paham. dan akhirnya aku izinin si cewek ke 2 buat ngebujuk cewek pertama, dibolehin buat ngobrol, dan main2 saat lagi belajar.
Dari sana aku jadi mikir.
Ternyata nggak semua perbuatan "nggak baik" itu, bernilai "nggak baik" juga. Ada kalanya, perbuatan "nggak baik" itu bernilai "baik", dan begitupun sebaliknya.
Mungkin ngobrol sama main saat belajar itu awalnya nggak boleh, dan termasuk perbuatan nggak baik. Tapi dalam kasus tadi, perbuatan itu jadi perbuatan baik.
- bikin orang seneng itu, belum tentu baik
- perhatian, belum tentu baik
- nenangin orang, juga belum tentu baik
- bikin orang nangis, belum tentu nggak baik
- apatis, belum tentu nggak baik
- dan memprovokasi, juga belum tentu nggak baik
"Sebab sifat baik atau buruk dari sebuah perbuatan, tidaklah muncul dari perbuatan itu sendiri"
Dan pada intinya, slam itu nggak mandang akhlak sekadar sebagai sifat baik atau buruk menurut pandangan universal, tetapi aspek di luar perbuatan itu, yakni :
- Tujuan dari perbuatannya itu sendiri (untuk apa dilakuin? Untuk nyari ridla Allah bukan?, dan
- standar dan balasan perbuatannya (perbuatannya sesuai sama hukum syara' atau nggak? apakah mengakibatkan pahala atau dosa?)
"Karena perbuatan, tidak ada nilainya, sebelum dinilai berdasarkan standar yg sudah ditetapkan oleh-Nya"
#akhlak #perakitawam #bergerakberdampak #yakinsampai
Bumi, 15 September 2023 ~