Aduh kepalaku penuh denganmu sendiri
Dulu sekali terjadi karena cemas kau tak kembali
Kali ini karena kau benar-benar pergi
Rasanya seperti ditusuk dari belakang
Tak tahu siapa yang menusuk, kenapa, bagaimana
Rasanya seperti dipenggal di bagian tubuh tertentu
Hilang, mengganggu keseimbangan dan keutuhanku
Karena kamu bukan sekedar bukan siapa-siapa
Iya, kamu bukan segalanya
Pun bukan bagian terbesar
Tapi kamu ada di mana-mana
Menapaki lebih dari separuh usia
Meski tak kasat mata, tapi ada. Hadir. Menetap.
Sedangkan hanya sedikit saja penghuni tetap di sini
Yang kuijinkan tinggal dengan sukarela dan sukacita
Karena kamu bukan sekedar bukan siapa-siapa
Kamu, si yang tak terdefinisikan
Definisi itu sudah jauh kita tinggalkan di belakang
Kita ya KITA saja, begitu kesepakatannya
"Jangan hilang lagi" kamu membuatku berjanji
Kalau sudah begini, lalu siapa yang ingkar?
Padahal kematian adalah satu dari sekian banyak hal yang sering kita kupas bersama
Berandai-andai seputar rahasia, misteri, takdir dan nasib manusia
Juga apa yang terjadi sebelum, ketika, dan sesudahnya
Katamu kematian begitu lekat dan dekat
Kini kusadari kau tidak pernah berandai-andai soal kematian
Keniscayaannya membuatmu bersiap akan kepulangan yang entah kapan
Padahal kematian adalah rahasia ketakutan terdalam kita
Tak bisakah sebelumnya kau beri aku tanda sedikit saja?
Karena kamu bukan sekedar bukan siapa-siapa
Kita yang senang membual tentang banyak hal
Menjadikan hal kecil seolah besar
Menelisik kesederhanaan hingga jadi pelik
Atau malah menyederhanakan hal-hal besar
Agar membuatnya lebih mudah dipahami
Seperti membahas ujaran "Ya sudahlah" yang ternyata hanya ada di kultur orang Indonesia
Atau tentang garangnya freemason, illuminati, hingga konsep Marxisme dan Wahabi
Lalu kepada siapa lagi sekarang aku bisa berbual?
Kau percayakan sejarah, sisi gelap dan lukamu padaku
Mungkin aku bukan satu-satunya
Tapi bukankah yang paling berharga adalah rasa percaya?
Masa galau dan penatku kau jawab sempurna
"Jaga, jangan sampai karam."
Tak pernah terlintas sedikitpun di benak kita untuk mengubah sejarah
Maka tak juga satupun kekosongan yang kita manfaatkan demi ego itu
Denganmu, aku tak pernah pakai perhitungan
Gengsi pun sudah jauh dari jangkauan
Tapi untuk sebuah harga diri, kita sama-sama tahu batasan
Karena kamu bukan sekedar bukan siapa-siapa
Beberapa bisa kurunut kalau memang perlu
Sahabat jiwa, pengkritik sekaligus motivator, komedian satir nan sinistis sekaligus lucu dan cerdas, filsuf, ensiklopedia berjalan, dan GURU
Tempatku bertanya sekaligus menguji pandangan
Tempatku khusyu menyimak isi kepalamu yang beragam
Tempatku mengungkap dan mendengar kegelisahan terdalam
Tempatku mengetahui kerapuhan dan kesepian seorang kamu
Walau tak bisa berbuat banyak, tapi aku tetap kau anggap perlu
Tentu saja tawa dan kelakar diantaranya sudah tak terhitung berderai
Kurasa untuk menertawakan hidup dan diri sendiri, kita termasuk pandai
Debat kita seringkali diwarnai nada meninggi tajam
Tapi jarang sekali berakhir dengan suasana masam
Karena tahu, selalu ada batas yang tak boleh diterabas
Dan selalu ada masa dan rasa yang lebih tepat untuk dibahas
Tahukah kamu seberapa sering aku memproses dan mewujudkan sesuatu dengan kamu ada di dalamnya?
Membayangkan apa yang kau pikirkan atau akan seperti apa komentarmu
Mempertimbangkan apa yang akan atau pernah kau katakan dan kau bagi kepadaku
Kamu bukan sekedar bukan siapa-siapa
Sepeninggalmu, begitu banyak orang berbagi tentangmu
Betapa kamu berarti besar dan bermanfaat bagi kehidupan banyak orang
Terpampang di banyak dinding sosial media
Tak bisa berbagi artimu bagiku pada seluruh dunia
Karena kamu terlalu personal
Karena tak ada yang paham siapa KITA
Karena aku tak bisa berbagi tanpa mengatakan
Kamu bukan sekedar bukan siapa-siapa
Bahkan sampai saat terakhirmu
Membuat semua yang mengenalmu
Terinspirasi dan tergerak untuk meniru
Bagaimana mengisi hidup sepenuhnya hanya untuk mempersiapkan kepulangan
Bagaimana dibalik gemilangnya hidup seseorang ada cerita sedih dan getir yang tersimpan
Kekurangan dan kesalahan, kesepian dan kesakitan
Tidak lantas membuatmu diam meratap
Tapi sanggup kau bayar tuntas dalam kepergianmu yang sekilas
Kau mengaku tak siap mati
Kupikir sebaliknya lah yang terjadi
Karena telah kau siapkan orang-orang terpentingmu agar tetap mampu melaju selepas kau pergi
Terutama, telah kau tempuh hidup dengan sebaik-baiknya manfaat dan pekerti
Pada akhirnya terpaksa katamu kuamini
Bahwa hidup hanya menunggu mati