Sekitar 5 tahun lalu, saat masih Koass stase bedah, ada 1 pasien yang spesial bagi aku.
Seorang ibu yang mengalami patah tulang parah. Beliau harus menjalani operasi dan traksi, yang membuat beliau harus ikhlas menjalani perawatan di RS dalam jangka waktu lama.
Beberapa kali aku mengunjungi beliau, sebagai "Koass ingusan", yang fakir sekali dengan ilmu dan pengalaman. Aslinya ya ndak bisa ngapa-ngapain, cuma bolak balik datang, nanya-nanya, ganti infus, benerin selang infus. Ndak bantu ngobatin beliau, hehe. Tapi karena beberapa kali bertemu, kami jadi tampak akrab, beliau senang bercerita, aku mendengarkan. Sesekali menertawakan aku yang gagal mulu ngomong bahasa jawa, haha. Sampai pada akhirnya, "Jadi anak angkat saya aja ya." "Main ya ke rumah, nanti dijemput Bapak (aka suaminya)." Aku cuma bisa mengiyakan saja.
Aku, sebagai anak rantau, yang ndak kenal satupun orang di Kediri, senang bisa diterima warga sana, dan dianggap jadi keluarga.
Suatu hari, ketika beliau sudah pulang ke rumah, Bapak beneran jemput aku. Anak rantau ini polos beneran dah. Ngikut aja. Nggak takut apa ya kalau diculik? Aku lebih takut tersesat sih, karena beneran ndak tau daerah sana. Sampe aku bilang, "Nanti pulang diantar kan? Ndak bisa ingat jalan pulang." wkwk
Di rumah mereka, aku disajikan makanan, minuman, dan bisa 'leye-leye', istirahat sejenak dari penat dan lelahnya Koass. Dikenalin ke keluarganya, ke tetangganya. Si Ibu kayak bangga gitu ngenalin tamunya ini, haha.
Aku senang dong karena dapat gratisan (sebagai anak rantau yang lagi berjuang pasti tau gimana rasanya kalau udah dapet gratisan, haha), dan juga senang karena mendapat suasana kekeluargaan di tanah rantauan.
Mereka bukan orang kaya. Mereka orang sederhana yang hidup di desa, sedikit jauh dari kota. Aku pada saat itu pun ndak bisa ngasih apa-apa ke mereka. Belum punya apa-apalah intinya. Tapi kenapa mereka bisa begitu tulus ngasih aku ini itu? Mau repot antar jemput, ngabisin bensin. Mereka ndak takut kalau mereka akan kekurangan. Kasian kali ya sama aku ini, kecil-kecil sendirian di tanah orang, kayak anak hilang, wkwk.
(Berbagi itu bukan di kala kamu punya segalanya, tapi berbagi bisa kapan aja, bahkan di kala sempit sekalipun. Bukan jumlahnya yang akan diperhitungkan, tapi rasa tulusnya yang akan Allah nilai)
Saat ini aku keinget lagi sama mereka. Sedih banget karena sudah ndak ada lagi kontak sama keluarga mereka, hilang semua nomor dan kontak yang ada.
Apa kabar ya mereka? Semoga mereka semua dalam keadaan sehat wal'afiat, dalam keadaan iman dan islam. Aamiin. And the last, kebaikan mereka akan selalu aku ingat.