Tabula Rasa
Mengapa Aku Tidak Lagi Setuju dengan Teori Tabula Rasa?
Dulu, ketika masih duduk di bangku perkuliahan, aku pernah sepakat dengan teori Tabula Rasa yang dikemukakan oleh John Locke. Teori itu mengatakan bahwa seorang anak lahir seperti kertas kosong, tanpa tulisan, tanpa coretan, tanpa isi. Semua pengalaman, pendidikan, dan lingkunganlah yang nantinya akan menuliskan isi kertas tersebut.
Sekilas, teori itu tampak logis. Namun semakin aku merenung, semakin aku menyadari bahwa pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Bahkan, aku merasa berbahaya jika teori ini diyakini mentah-mentah dalam praktik mendidik anak.
Kenapa?
Karena pada kenyataannya, seorang anak tidak pernah lahir benar-benar kosong. Seorang bayi lahir sudah membawa naluri untuk bertahan hidup, ego dasar untuk mempertahankan dirinya, emosi yang nyata—seperti menangis ketika lapar atau merasa tidak aman—serta refleks alami yang muncul tanpa perlu diajarkan. Selain itu, ada juga temperamen bawaan, yang membuat setiap anak unik sejak awal kelahirannya: ada yang lebih tenang, ada yang lebih ekspresif, ada yang lebih sensitif.
Artinya, manusia sejak lahir bukanlah kertas kosong, melainkan kertas yang sudah memiliki coretan dan warna dasar. Coretan itu mungkin tampak acak, tidak beraturan, bahkan sederhana. Tetapi justru di situlah letak keunikannya.
Aku lebih suka mengasosiasikan seorang anak sebagai kertas yang sudah penuh coretan berwarna-warni. Tugas kita sebagai orang tua, guru, atau orang dewasa yang mendidik bukanlah “menulis seenaknya” di atas kertas kosong, melainkan membaca coretan yang sudah ada, memahami polanya, lalu membantu agar coretan itu berkembang menjadi sebuah mahakarya yang indah.
Jika kita masih memegang teguh teori Tabula Rasa, ada bahaya besar yang mengintai: kita bisa bersikap semena-mena terhadap anak. Kita merasa berhak penuh menuliskan apa pun di atas “kertas kosong” itu, seolah-olah anak tidak memiliki suara, tidak punya arah, tidak punya kodrat dasar. Anak akhirnya diperlakukan sebagai obyek, bukan sebagai subyek yang aktif.
Padahal, menghargai anak berarti mengakui bahwa ia lahir dengan jati dirinya sendiri. Kita tidak sedang menciptakan manusia dari nol, melainkan sedang menemani manusia kecil yang sudah membawa corak unik sejak lahir untuk menemukan bentuk terbaik dari dirinya.
Dengan menyadari hal ini, pendekatan kita terhadap anak menjadi lebih rendah hati. Kita tidak lagi merasa sebagai “penguasa” yang berhak menentukan isi kertas, melainkan sebagai “pendamping” yang membantu mengarahkan, merawat, dan menata corak bawaan anak agar berkembang seindah mungkin.
Jadi, bagi aku, teori Tabula Rasa sudah tidak lagi relevan. Anak bukanlah kertas kosong. Anak adalah kertas penuh coretan warna-warni. Dan tugas kita bukanlah menghapus coretan itu atau menindihnya dengan tulisan kita, melainkan membimbingnya hingga coretan-coretan itu bersatu menjadi sebuah karya agung bernama kehidupan.















