Semangkuk Opor untuk Bapak di Surga
Seperti biasa, setiap lebaran, opor selalu menjadi persembahan terlezat dari ibu saya. Entah bagaimana beliau mengolahnya, sehingga menjadi sedemikian enaknya. Ah pasti bapak sangat rindu masakan ibu, seperti ibu yg juga sangat rindu mengambilkan semangkuk opor untuk bapak. Haha. Lucu ya..
Btw saya kira cuma makhluk hidup saja yg bisa mengajari sesuatu. Tapi ternyata kita jg bisa belajar dr benda mati lo.. Dari *semangkuk opor* misalnya. Tahukah, semangkuk opor juga bisa mengajarkan Anda perihal menjadi tegar. Iya, suatu saat Anda akan menemukan ketegaran pada sebuah mangkuk berisi opor. Yaitu saat opor membuat Anda rindu pada seseorang namun Anda hanya bisa mengenangnya saja. Tahukan bagaimana rasanya kalau sedang diserang rindu? Sakit rasanya. Tapi akan menjadi biasa kalau sudah terbiasa. Paling-paling cuma nyeri sebentar, lalu hilang. Dan di sini lah Anda akan belajar soal Ketegaran. Menghadapi rindu dengan sabar, dan dari sabar menjadi tegar. Kalau sudah tegar, maka akan menjadi kuat. Dan kalau sudah kuat, maka segala sesuatu yg menyakitkan akan terasa ringan. Jiwanya selalu lapang, meski *tsunami hati yg mengguncang.
Berat/ringannya masalah memang tidak bisa ditimbang. Mungkin bagi sebagian orang masalah A adalah masalah terberat, namun sebagian lainnya malah menganggapnya ringan. Bisa jadi bagi si A kehilangan adalah musibah paling berat, namun bagi si B kehilangan bukan lagi menjadi yang terberat karena ternyata ada yg lebih berat. Barangkali satu tahun lalu bagi si B kehilangan adalah ujian paling berat, namun sekarang rasa sakit akibat kehilangan itu sudah berhasil ia pulihkan sehingga tidak lagi menjadi yg terberat. Pada intinya, permasalahan hidup setiap orang itu tidak bisa diketahui stadiumnya. Tidak bisa diklasifikasikan secara universal. Tergantung, siapa orangnya dan bagaimana ia menyikapinya.
Sebab kehidupan adalah serangkaian *proses belajar. Dan ujian adalah salah satu metodenya. Hanya saja, setiap manusia punya urutan materi yg berbeda. Ujian yg diberikan pun berbeda. Ada yg diberi ujian berat di usia muda ada pula yg diberi ujian berat di masa tua. Ada yg diuji dulu dg masalah A, ada pula yg di uji dulu dg masalah B. Ada yg sudah menguasai materi tentang menjadi mandiri diusia remaja, dan ada pula yg baru menguasai materi tsb setelah berkepala tiga. Banyak sekali macamnya.
Yaps.. pada dasarnya dalam menyikapi permasalahan hidup, manusia hanya perlu bersyukur dan mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya, tanpa perlu membanding-bandingkan dg masalah orang lain. Syukuri saja apa yang terjadi sekarang. Jangan merasa iri dg kehidupan orang (yang sepertinya lebih membahagiakan). Anggap saja, ujian2 ketabahan yg diberikan Tuhan saat ini, yg menurut Anda sangat membebani, dan yg menurut Anda hanya menimpa diri Anda sendiri, adalah wujud dari kasih sayang Tuhan yg ingin menghebatkan Anda lebih dulu, lewat ketegaran dan kesabaran.
Iya, sebab Tuhan memberimu kesempatan utk menjadi luar biasa lebih dulu. Itupun kalau kau mau mengambil sisi positif dari ujian (yg menurutmu besar) itu.
Eh kok jadi kemana-mana ya.. :v Ya sudah. Akhir kata,
teruntuk Anda, saya, dan kalian semua, selamat menempuh ujian kita masing-masing, ya! Mari belajar menjadi bahagia dg menjadikan ujian-kehidupan sebagai metodenya! :D
Jeparadise, 3 Syawal 1438 H | ©dfz