Tak akan sama lagi
Dulu, saat kesibukan membuatku lupa pada satu momen di bulan ini, dering telepon Bapak-lah yang menjadi alarm. Beliau selalu ingat dan tak pernah absen menelepon atau mengirim pesan, hanya untuk menghujaniku dengan doa.
Lelaki renta itu tak pernah lupa. Bahkan, ketika perempuan yang rahimnya menjadi rumah pertama untukku (dan empat orang adik), lupa kapan tiga putrinya dia lahirkan.
Tidak jarang, Bapak-lah yang menjadi orang pertama. Lelaki renta itu akan melakukan tiga kali panggilan telepon di waktu yang berbeda, hanya untuk mendoakan ketiga putrinya.
Dan, diriku selalu mendapati teleponnya saat membuka mata di pagi hari ke-27. Bapak selalu yang pertama di setiap Desember. Saat masih menjadi putrinya, hingga beliau bergelar kakek._
...










