Terjawabnya satu do'a yang bergema berulang-ulang di tanah Mekkah dan Madinah
Saat di Mekkah dan Madinah, ada beberapa do'a yang terus kulantunkan berulang-ulang kali diselingi dengan sholawat ynag waktu itu terhitung di tasbih digitalku hingga ribuan kali haha sangking terlalu inginnya aku agar do'a itu terwujud, salah satunya aku ingin orang tua ku dan adikku juga Allah undang untuk bisa melihat menakjubkannya Kota Mekkah dan Kota Madinah.
Sebelum memutuskan untuk umroh sendiri di bulan Agustus 2025, aku sudah berbicara ke orang tua ku, mengajak mereka untuk umroh sekeluarga, walaupun waktu itu aku tau betul, uang di rekeningku belum cukup haha, tapi dengan percaya dirinya aku menyampaikan niatku itu. tentu saja mereka senang, karna itu adalah perbincangan yg bahkan tidak pernah kami bahas sebelumnya, dan tiba-tiba saja anak mereka yg nan jauh di sebrang pulau ini dadakan ngajak umroh wkwk entah apa yg merasukiku waktu itu. Tapi, ya jujur aku emang se random itu orangnya wkwk
Sampai akhirnya, ada ajakan umroh untukku, aku bimbang saat itu. Tapi setelah mendengar nasihat dan ajakan dari beberapa kenalanku, aku berangkat sendirian lebih dulu, karna mengingat dana yg kupunya saat itu belum cukup untuk berangkat sekeluarga, dengan harapan kelak Allah akan mudahkan aku bisa mewujudkan keinginanku untuk berangkat sekeluarga di kemudian hari.
Orang tuaku senang mendengarnya, mereka memperbolehkan aku berangkat sendirian, tapi 1 pesanku waktu itu... cukup orang tuaku dan adik-adikku saja yg tau perihal rencanaku tersebut, menurutkan segala rencana baik tidak sebaiknya diumbar jauh sebelum itu kejadian, biarlah ia tersimpan menjadi doa di langit, cukup aku dan Allah yg tau, dan terkadang orang terdekatku sajaa..
akhirnya aku berangkat, sendirian. Bahkan tidak dari rumahku di Sulawesi, melainkan dari kota tempatku merantau, Medan. hahah semua org yg mendengarnya akan mengatakan ada yg aneh dariku, tapi yaa inilah aku, apa adanya aku dengan segala kerandom-annya.. tidak apa, titik awal ibadah tidak harus dimulai dari rumah sendiri kan?
Aku membeli buku kecil yg kugantungkan di leher menjadi kalung, isinya adalah do'a-do'a yang akan kupintakan kepada Allah, kususun rapih dan urut sesuai dengan urutan thawafnya.. ada 7 poin, setara dengan 7 kali thawaf.. (dan buku itu terjatuh di depan ka'bah saat kami thawaf, tapi kata org kalau barang yg tertinggal disana, kelak kita akan kembali lagi heheh.. InsyaAllah yaa aamiin)
sebelum berangkat, beberapa teman terdekatku kukabarkan, aku tanya ke mereka sekiranya do'a apa yg akan mereka titipkan disana, insyaAllah akan kucatat dan kubawa kesana. dan perlahan keluarga ku yg lain pun juga tau mengenai niatku untuk umroh.
hingga lengkaplah tercatat do'a do'a yang akan aku bawah kesana. tapi ada yang lucu, saat menuliskan do'a perihal keinginanku untuk diriku sendiri aku bingung mau tulis apa hahaha yg pada akhirnya kuletakkan karir di nomor 1 dan saat itu jodoh di nomor ke-sekian (yang lucunya saat tiba di Mekkah, urutan itu berubah wkwk)
Tapi ada 3 do'a yang selalu kuucapkan berulang-ulang.. rasanya setiap sudut kota Mekkah dan Madinah sudah terjejaki do'a-do'aku tersebut sangking seringnya aku mengutarakannya.
Salah satunya, aku ingin berdo'a agar kedua orang tuaku dan adik-adikku juga Allah perkenankan datang kesini bersamaku.. aku ulang berkali-kali, aku pinta berkali-kali, dengan usaha yg sungguh-sungguh, agar Allah mendengarkan, bahkan do'a itu masih terbawa hingga aku kembali ke Indonesia.
aku tidak tau betul apakah itu sebuah ketidakmungkkinan atau mungkin bisa terwujud, karna kata orang tidak ada yg mustahil untuk Allah. tapi aku sampaikan segalanya dihadapan Allah, dirumah-Nya yang sangat indah itu..
hingga setelah aku kembali ke Indonesia, entah kenapa terlintas difikiranku untuk segera menyuruh kedua orang tuaku mambuat paspor jaga2 untuk keberangkatan, dan setelah itu beberapa minggu selanjutnya kami mulai mencari travel umroh yg cocok untuk kedua orang tuaku (karena ada begitu banyak keterbatasan dari orang tuaku yg aku khawatirkan). Waktu itu aku memutuskan yang berangkat hanya kedua orang tuaku saja, aku tidak ikut.. dan adik-adikku juga tidak.
aku pasrahkan semuanya kepada Allah, aku titipkan kedua orang tuaku kepada Allah sebagaimana mereka selalu menitipkan aku selama ini juga kepada Allah. walaupun aku tidak bisa berbohong, ada banyak kecemasan di dalam hatiku, bagaimana mereka nanti selama perjalanan, selama disana, aku cemas.. jadi aku mencari travel umroh yg aku kenal tour leadernya (kebetulan saat itu keluarga kami sendiri) dan yang hotelnya dekat dengan masjid.
semuanya dipersiapkan, tanpa ancang-ancang, serba tiba-tiba.. karena aku rasa, kalau aku bisa saat ini memberangkatkan mereka, kenapa tidak? aku serahkan semuanya kepada Allah, berharap apa yg aku lakukan ada dalam ridhoNya. Aku hanya ingin orang tua ku juga menyaksikan apa yang sudah aku saksikan di rumah Allah.
akhirnya travel umroh dipilih dengan berbagai seleksi dan pertimbangan, paspor kedua orang tuaku pun sudah selesai, ahh betapa bahagianya melihat mereka akhirnya memiliki paspor. setiap kami telfonan di malam hari, persiapan umroh menjadi pokok bahasan utama, orang tuaku bercerita bahwa mereka telah memberika perlengkapan2 yang akan dibawa kesana secara online, aku tau betul mereka sangat bahagia, dan juga bingung, antara percaya dan tidak percaya bahwa Allah juga akan memberikan undanganNya kepada mereka, karna sungguh hal seperti ini tidak pernah terlintas di benak kami. bisa dibilang, ini adalah hal yang sangat mewah untuk kami, kata orang kebutuhan tersier hahah kalau ada yg lebih mewah lagi dari tersier, itulah kami menyebutnya.
aku juga rutin komunikasi dengan tour leadernya yang kebetulan tante aku, jadi aku merasa aman untuk menitipkan kedua orang tuaku. hari demi hari berganti minggu dan bulan, koper impian semua calon jemaah Allah sudah tiba di rumah kami, bertambah berkali lipat senangnya kedua orang tuaku, aku pun juga tentu saja sangat senang, tapi aku tetap berserah kepada Allah.. aku belum lega sebelum kedua orang tuaku berangkat dan kembali ke tanah air dalam kondisi yang sehat.
hingga tiba saatnya hari keberangkatan tiba, aku sengaja izin kepada atasanku untuk mengantarkan kedua orang tuaku dan untuk memenuhi dan menenangkan rasa khawatirku, maklum ini adalah kali pertama kedua orang tua naik pesawat, mana langsung jauh lagi ya kan haha, ditambah lagi mereka terlebih dahulu harus menempuh perjalanan darat selama 10 jam dari Mamuju ke Makassar.
aku pulang ke rumah, membantu segala perlengkapan, aku tau betul saat itu hati mereka campur aduk rasanya, senang , bahagia, terharu, bingung menjadi satu. tapi aku masih sama, yg terlihat oleh mereka aku tenang, tapi mereka tidak tau bahwa hatiku pun meriah... (aku tidak terbiasa untuk mengekspresikan segala hal yg aku rasa dihadapan orang tuaku, mungkin karena aku terlalu lama tumbuh diluar rumah alias merantau haha)
singkatnya, kami tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, menunggu waktu keberangkatan, bahkan hingga di titik itu hatiku masih bertanya-tanya, secepat ini yaAllah engkau wujudkan pintaku? walaupun mungkin tidak sama persis, tapi ini lebih dari cukup.. karena aku waktu itu janji ke kedua orang tuaku 2 tahun lagi berangkatnya, ternyata aku bisa mewujudkannya di tahun yg sama do'a itu kupanjatkan. MasyaAllah betapa baiknya Allah sama aku.
Tiba akhirnya kami melepas keberangkatan kedua orang tua kami, tidak hentinya mereka mengucapkan terima kasih, air mataku menetes, aku terharu bisa ada di titik ini, aku terharu membayangkan bahwa sebentar lagi pintu-pintu kemustahilan untuk orang tuaku bisa terbuka, dan di titik itu tidak lepas aku berdo'a, do'a ku selama 14 hari mereka berangkat sama, keselamatan kedua orang tuaku, mungkin beginilah rasanya saat orang tuaku melepas aku pergi jauh yang dikit2 pindah2 kota haha.
Saat disana, tiada hentinya mereka mengirimkan video-video sederhana suasa Kota Madinah dan Mekkah, ahh membuat aku juga rindu ingin berada disana. aku terharu, mungkin beberapa kalu aku lagi-lagi menangis (mungkin tidak banyak yang tau, bahwa aku selalu terlihat kuat diluar, tapi mereka tidak tau bahwa hatiku sangat lemah).
mungkin itu adalah 14 hari terindah yang dilalui oleh orang tuaku, dan juga tentu saja buatku. itu adalah sebuah hadiah dari Allah yang tidak pernah kumimpikan sebelumnya. Aku tau bahwa Allah maha kuasa, tapi aku cukup sadar dengan realita yang ada, rasanya umroh adalah kemustahilan untuk kami, tapi ternyata Allah membuktikan bahwa kuasa adalah milik-Nya, tidak ada yg tidak mungkin jika memang sudah dalam kehendak-Nya.
Setelah kembali tentu saja banyak cerita yg disampaikan oleh kedua orang tuaku, aku lega.. Allah menjaga kedua orang tuaku selama disana.
Kini, rasanya ekspresi bahagia, cerita-cerita yang sumringah, wajah-wajah kebingungan, video-video yang dikirim oleh orang tuaku, foto-foto kedua orang tuaku, terputar-putar terus di otakku sambil aku bertanya, ternyata aku bisa yaa membuat mereka berangkat, melihat rumah Allah, melihat Ka'bah... aku tidak tau betul sebahagia apa kedua orang tuaku, tapi yang harus mereka tau bahwa aku menyayangi mereka. Mungkin tidak selalu dengan kata-kata yang indah, tidak selalu dengan suara-suara yg berisik, tidak selalu dengan kehadiranku di sekitar mereka yg sudah lebih dari 10 tahun tidak mereka dapatkan, tapi dengan do'a yang selalu kudahulukan dari pada diriku sendiri, dengan do'a yang berbisik pelan ke arah langit disertai dengan air mata tanpa ada yang mendengarkan, hanya aku dan Allah.
Mereka tidak perlu tau bahwa anak pertama mereka yg selalu terlihat tangguh dan mampu membawa dirinya sendiri kemana-mana ini selalu menangis dalam diam dan selalu khawatir kepada mereka di saat berjauhan,
Mereka tidak perlu tau bahwa anak perempuannya ini juga kadang berpikir bagaimana keadaan kedua orang tuanya nanti saat ia akan memiliki keluarganya sendiri diluar sana?
Karena aku tau, sesulit apapun kondisi yang kulalui selama ini, dan setidak menyenangkan apapun kondisi rumah yang kuterima selama ini, aku selalu tau bahwa kedua orang tuaku telah berusaha memberikan yang terbaik yang mereka bisa. Tidak apa jika akhirnya itu menjadi trauma yang kubawa hingga dewasa, setidaknya Allah memberikan aku kebijaksanaan dan keinginan untuk memperbaikinya kelak di dalam keluarga kecilku nanti, insyaAllah.
Aku mungkin dipaksa oleh keadaan untuk terlihat kuat dan dewasa, kesepian, melalui segala hal sendirian, bertarung dengan hati dan pikiranku sendirian, berjuang dengan langkah yang rasanya sangat melelahkan sebenarnya, terlambat dalam menemukan kehidupanku sendiri, tapi Allah bayar lunas dengan kesempatan yang diberikan olehNya untuk berbakti kepada orang tuaku, aku harap Allah ridho dan menerima apa yang kulakukan.. aku tidak mengharapkan balasan ya Allah, aku hanya ingin Engkau melihat sebagai amal yang Engkau perhitungkan dalam hisabku kelak di akhirat.
"Bahkan saat mengetik ini pun air mataku ingin jatuh, tertahan karena lagi di kantor haha"
In Frame : foto bersama sebelum keberangkatan kedua orang tuaku, kami tidak punya foto keluarga lengkap.. karena kami bukanlah keluarga cemara yang selalu aku liat dimana dan yang dimiliki oleh teman2 di sekitarku, tapi aku akan selalu bersyukur bahwa Allah memilihku lahir dari keluarga ini.